Perkataan mereka: "Apa yang menurut manusia baik maka itu adalah baik". Terkadang mereka berkata: "Alloh berfirman...". Terkadang berkata: "Ini dikatakan oleh Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-".
Jawaban masalah ini dari beberapa sisi.
PERTAMA: dikatakan kepada mereka: tegakkan dulu singgasanamu kemudian pahatlah. Kita meminta kepada mereka menunjukkan bukti bahwa ini adalah kalam (firman) Alloh, atau shahih dari Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Alloh ta'ala berfirman:
قُلۡ هَاتُواْ بُرۡهَٰنَكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ
"Katakanlah, “Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.” (QS Al Baqarah: 111)
Alloh -ta'ala- berfirman:
قُلۡ هَلۡ عِندَكُم مِّنۡ عِلۡمٖ فَتُخۡرِجُوهُ لَنَآۖ
"Katakanlah (Ya Rasululloh), “Apakah kamu mempunyai pengetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada kami?" (QS Al-An'am: 148)
Jika mereka terdiam dan tidak bisa memberikan jawaban dan berkata: "Ini berasal dari perkataan manusia". Maka katakanlah kepadanya: "Sesungguhnya dalil itu dari firman Alloh dan Sabda Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan bukan dari perkataan manusia. Kami beribadah dengannya, bukan dengan perkataan manusia. Alloh -ta'ala- berfirman:
ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۗ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ
"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran".(QS Al-A'raf: 3)
KEDUA: Sesungguhnya permasalahan ini seandainya dibuka pintunya niscaya memberikan keleluasaan bagi setiap mubtadi'(pelaku bid'ah) untuk membuat-buat sesuatu untuk menarik manusia melakukannya kemudian dia berdalil dengan perkataan ini.
KETIGA: Bahwasannya apa pun yang bukan menjadi agama pada masa Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- maka bukan pula menjadi agama bagi generasi setelahnya, berdasarkan sabda Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
تركتكم على مثل البيضاء، ليلها كنهارها، لا يزيغ عنها إلا هالك
"Aku tinggalkan kalian di atas sesuatu (agama ini) yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidaklah berpaling darinya kecuali orang yang binasa".
Dan sabda beliau juga:
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ
"Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini (Islam) sesuatu yang bukan darinya maka tertolak". (HR Bukhari dan Muslim).
Dan sebelumnya Alloh -ta'ala- telah berfirman:
ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu".(QS Al-Ma'idah: 3)
Orang yang mengamati keadaan ahlul bid'ah maka dia mendapati mereka berlomba-lomba dalam kebid'ahannya, bersemangat melakukannya dan berletih-letih dengannya. Dan ia akan melihat merekalah orang-orang yang paling jauh dari sunnah Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bahkan kebanyakan mereka menyelisihi sunnah beliau dan memerangi para pembawanya.
KEEMPAT: Sesungguhnya riwayat ini shahih dari Ibnu Mas'ud sebagaimana yang ada di shahih musnad bukan termasuk di kitab shahihain. Syaikh kami -rahimahulloh ta'ala- membawakannya dengan lafadz:
إِنَّ اللهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ، فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ، يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ، فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا، فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ
"Sesungguhnya Alloh melihat hati-hati hambaNya maka Dia mendapati hati Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- sebaik-baik hati hamba, maka Alloh memilihnya untuk diriNya dan mengutusnya dengan risalahNya. Kemudian Alloh melihat hati-hati hambaNya setelah hati Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- maka Dia mendapati hati-hati shahabatnya sebaik-baik hati hamba. Maka Dia menjadikan mereka para pembatu nabiNya yang mereka berperang untuk agamaNya. Maka apa pun yang dipandang kaum muslimin sebagai kebaikan maka itu juga baik di sisi Alloh. Dan apa yang dilihat buruk oleh mereka maka buruk pula di sisi Alloh" (HR Ahmad)
Syaikh Muqbil -rahimahulloh ta'ala- memberikan komentar atas hadits ini dengan perkataan beliau: Dalam riwayat ini tidak ada dalil bagi orang yang menganggap baik amalan bid'ah. Sesungguhnya orang-orang muslim yang sempurna keIslamannya tidaklah menganggap baik perbuatan bid'ah. Kemudian, hadits ini mauquf pada Ibnu Mas'ud. Selesai.
Dan terkait apa yang dikatakan Syaikh bahwasannya kontek atsar ini adalah bahwa ucapan ini untuk para shahabat dengan kesepakatan mereka. Maka, apa pun yang dianggap para sahabat sebagai kebaikan maka itu baik di sisi Alloh, sebab mereka tidak akan bersepakat di atas kesalahan. Dan dari sisi lain, Ibnu Mas'ud berkata:
فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا، فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ،
"Apa pun yang kaum muslimin menganggapnya sebagai kebaikan, maka itu baik di sisi Alloh".
Beliau tidak berkata: apa yang menurut seorang muslim, atau kelompok tertentu dari kaum muslimin. Sehingga lafadz 'apa yang menurut kaum muslimin' dibawa pada makna ijma' (kesepakatan) mereka. Sesungguhnya telah shahih dari Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- beliau bersabda:
لا تجتمع أمتي على ضلالة
"Umatku tidak akan bersepakat di atas kesesatan" (HR Tirmidzi)
Di antara sebab-sebab kebid'ahan yang paling besar adalah: kebodohan, taqlid (mengikuti tanpa dalil)dan mengikuti yang mutasyabih (perkara yang samar).
Diterjemahkan dari kitab Tuhfatul Murid Syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al-Watr hal 139-142.



0 komentar:
Posting Komentar