“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Sabtu, 03 Oktober 2020

Larangan Menyakiti Kaum Muslimin


Penulis -hafidzahullohu ta'ala- berkata:
"Haramnya menyakiti kaum muslimin"

Imam At-Tirmidzi berkata:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَكْثَمَ، وَالجَارُودُ بْنُ مُعَاذٍ قَالَا: حَدَّثَنَا الفَضْلُ بْنُ مُوسَى قَالَ: حَدَّثَنَا الحُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ، عَنْ أَوْفَى بْنِ دَلْهَمٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: صَعِدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المِنْبَرَ فَنَادَى بِصَوْتٍ رَفِيعٍ، فَقَالَ: «يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الإِيمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لَا تُؤْذُوا المُسْلِمِينَ وَلَا تُعَيِّرُوهُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ المُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ»
Telah mengkhabarkan kepada kami Yahya bin Aktsam dan Al-Jaruud bin Mu'adz, keduanya mengatakan: telah mengkhabarkan kepada kami Al-Husain bin Waqid dari Aufa bin Dalham, dari Nafi' dari Ibnu Umar berkata: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- naik mimbar lalu menyeru dengan suara yang keras, beliau bersabda:
"Wahai orang-orang yang telah berIslam dengan lisannya dan belum merasuk keimanan dalam hatinya, janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah kalian mencerca mereka, janganlah kalian mencari-cari aib mereka. Sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya muslim niscaya Alloh akan mencari-cari aibnya. Barang siapa yang Alloh cari-cari aibnya niscaya Alloh akan membongkar keburukannya meski dia berada di dalam rumahnya" (HR At-Tirmidzi)

Kemudian penulis menyebutkan rijal sanad (perawi hadits) dan berkata: Hadits ini shahih Alhamdulillah. Dalam haditsnya terdapat larangan menyakiti kaum muslimin, larangan mencela mereka dan larangan mencari-cari aib mereka.

Penjelasan:
Keterkaitan antara hadits ini dengan kitab ini dalam permasalahan tauhid adalah bahwa menyakiti kaum muslimin melemahkan iman dan tauhid.

Sabda beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam-: "Wahai orang-orang yang telah berIslam dengan lisannya dan belum merasuk keimanan dalam hatinya..." pada kalimat ini terdapat pembedaan antara Islam dan Iman. Dan bahwasannya derajad iman lebih tinggi dari pada derajad Islam, dan bahwasannya iman itu mencakup ucapan, perbuatan dan keyakinan.

Sabda beliau: "janganlah kalian menyakiti kaum muslimin..." di sini terdapat larangan menyakiti seorang muslim baik dengan ucapan, atau perbuatan berdasarkan hadits dalam Shahihain dari hadits Abdullah bin Amr secara marfu':
المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
"Seorang muslim(yang sejati itu) adalah yang orang-orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisannya dan tangannya"(HR Bukhari dan Muslim)
Dan yang terdapat dalam kitab As-Shahih dari Abu Bakrah dan selainnya secara marfu' dalam hadits haji wada' yang di antaranya:
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، و في بلدكم هذا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا. ألا هل بلغت؟ اللهم اشهد
"Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian(untuk dilanggar) sebagaimana sucinya hari kalian ini, di negeri kalian ini dan di bulan kalian ini. Apakah aku sudah menyampaikan? Ya Alloh, saksikanlah" (HR Bukhari dan Muslim)

Alloh -ta'ala- berfirman:
وَٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ بِغَيۡرِ مَا ٱكۡتَسَبُواْ فَقَدِ ٱحۡتَمَلُواْ بُهۡتَٰنٗا وَإِثۡمٗا مُّبِينٗا

"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata" (QS Al-Ahzab: 58)

Sabda beliau: "janganlah kalian mencerca mereka, janganlah kalian mencari-cari aib mereka..." ini adalah penggandengan sesuatu yang khusus kepada umum, sebab yang disebutkan ini termasuk dalam 'menyakiti'. Celaan dengan macam-macamnya, sifat-sifatnya dan yang semisalnya yang merupakan hal-hal yang menyakiti mereka.

Sabda beliau: "janganlah kalian mencari-cari aib mereka" yang demikian ini dengan mencari-cari kesalahan. Alloh -ta'ala- berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَلَا تَجَسَّسُواْ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain" (QS Al-Hujurat: 12)

Dalam kitab Shahihain dari dari Abu Hurairah secara marfu':
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ،وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَحَسَّسُوا،  وَلَا تَقاطعوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا»

"Hati-hatilah kalian dari prasangka karena sesungguhnya prasangka itu adalah sedusta-dusta perkataan. Janganlah kalian saling memata-matai, janganlah kalian saling mencari-cari kesalahan, janganlah kalian saling memutuskan hubungan, dan janganlah kalian saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Alloh yang bersaudara"(HR Bukhari dan Muslim)

Sabda beliau: "Sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya muslim niscaya Alloh akan mencari-cari aibnya..." sampai akhir hadits.
Di sini terdapat penjelasan bahwa balasan itu tergantung amalnya, dan Rabb-mu tidak pernah mendzalimi siapa pun.

Diterjemahkan dari kitab Tuhfatul Murid Syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al-Watr hal 159-162. -Selesai-

Alhamdulillah, kitab Tuhfatul Murid Syarah Qoulul Mufid karya Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al-Watr selesai diterjemahkan pada malam Jum'at 1 Oktober 2020 pukul 23:23 di Gunung Wijil, ds Giriroto, Kec Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah.
Semoga Alloh -ta'ala- memberikan pahala yang terus mengalir kepada penulisnya dan semoga menjadi amalan yang semata-mata untuk mengharap wajah Alloh bagi penterjemahnya.
ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم و تب علينا إنك أنت التواب الرحيم

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)