“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Selasa, 15 Maret 2022

Penetapan Mulai dan Berakhirnya Bulan Ramadhan

Seri Fikih Ringkas
KITAB PUASA
Penetapan Mulai dan Berakhirnya Bulan Ramadhan

    Penetapan masuknya bulan Ramadhan dengan melihat hilal(bulan sabit), baik oleh dirinya sendiri, atau persaksian orang lain yang melihatnya atau dengan adanya berita tentangnya.

    Jika ada seorang muslim yang adil yang bersaksi melihat hilal maka dengan persaksiannya ini telah tetap masuknya bulan Ramadhan, berdasarkan firman Alloh ta’ala:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barang siapa di antara kalian berada di bulan itu maka hendaklah dia berpuasa” (QS Al Baqarah: 185)

    Dan berdasarkan sabda Rasululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-:

إذا رأيتموه فصوموا

“Apabila kalian melihatnya maka berpuasalah” (HR Bukhari 1900 dan Muslim 1080-8)
    Dan berdasarkan hadits Ibnu Umar -radhiyallohu ‘anhuma- :

أخبرت النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – برؤية رمضان فصامه، وأمر الناس بصيامه

“Aku khabarkan kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- tentang (kami) melihat (hilal) Ramadhan maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa” (HR Abu Dawud 2342 dan Hakim dalam Mustadraknya 1/423 dan dia menshahihkannya)

    Jika hilal tidak terlihat, atau tidak ada seorang muslim yang adil yang melihatnya maka wajib menetapkan hitungan bulan Sya’ban 30 hari. Dan tidaklah ditetapkan masuknya bulan Ramadhan selain dari dua metode ini -yaitu melihat hilal atau menyempurnakan hitungan Sya’ban 30 hari- berdasarkan sabda Rasululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-:

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته، فإن غُبِّي (١) عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين(٢)

“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya. Jika (hilal) terhalang¹ bagi kalian (untuk bisa melihatnya) maka sempurnakanlah hitungan Sya’ban menjadi 30” (HR Bukhari 1909 dan Muslim 1081)

    Dan penetapan berakhirnya Ramadhan dengan terlihatnya hilal bulan Syawal dengan persaksian dua orang muslim yang adil. Jika tidak ada persaksian dua orang muslim yang adil tentang melihat hilal, maka wajib menyempurnakan hitungan Ramadhan menjadi 30 hari.

    Bersambung in sya Alloh…

📚 Diterjemahkan dari Kitab Al-Fiqih Al-Muyassar fi Dhouil Kitabi was Sunnah hal 152-153.

Note:
1. Sebagian riwayat غُمِّي dan sebagiam lagi غُمَّ yang artinya tertutup, tersamarkan dan tidak kelihatan.

🌐 Telegram : http://t.me/patimengaji
📱 Instagram : http://Instagram.com/patimengaji
💻 Facebook : facebook.com/patimengajiofficial
المسألة السادسة: ثبوت دخول شهر رمضان وانقضائه:
يثبت دخول شهر رمضان برؤية الهلال، بنفسه أو بشهادة غيره على رؤيته، أو إخباره بذلك؛ فإذا شهد مسلم عدل برؤية هلال رمضان ثبت بهذه الشهادة دخول شهر رمضان؛ لقوله تعالى: (فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ) [البقرة: ١٨٥]، ولقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (إذا رأيتموه فصوموا) (٣)، ولحديث ابن عمر رضي الله عنهما: (أخبرت النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – برؤية رمضان فصامه، وأمر الناس بصيامه). (٤)
فإن لم يرَ الهلال، أو لم يشهد مسلم عدل برؤيته، وجب إكمال عدة شعبان ثلاثين يوماً. ولا يثبت دخول الشهر بغير هذين الأمرين -رؤية الهلال، أو إتمامشعبان ثلاثين يوما- لقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته، فإن غُبِّي (١) عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين) (٢).
ويثبت انقضاء رمضان برؤية هلال شهر شوال بشهادة مسلمين عدلين، فإن لم يشهد مسلمان عدلان برؤية الهلال، وجب إكمال عدة رمضان ثلاثين يوماً.

(٤) رواه أبو داود برقم (٢٣٤٢)، والحاكم في المستدرك (١/ ٤٢٣) وصححه.
(١) وفي بعض الروايات: (غُمِّي) وبعضها (غُمَّ) والمعنى: غطي وخفي ولم يظهر.
(٢) رواه البخاري برقم (١٩٠٩)، ومسلم برقم (١٠٨١)

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)