Syarah Ushul Tsalaatsah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh hal 3.
بِسْم الله الرحمن الرحيم
Penjelasan:
Penulis -rahimahullah- memulai kitabnya dengan basmallah untuk meneladani Al Qur'an yang diawali dengan basmallah dan mengamalkan hadits:
كلُّ أمر ذي بال لا يبدا فيه بسم الله فهو أبتر
"Setiap urusan yang memiliki kepentingan yang tidak diawali dengan 'bismillah' (menyebut nama Allah) maka urusan itu terputus"1
Dan juga meneladani Rasulullah shalallahu alahi wa sallam yang memulai tulisan-tulisannya dengan basmallah.
Jar dan Majrur terkait dengan fi'il(kata kerja) yang ditiadakan dan diakhirkan yang sesuai dengan keadaan. Perkiraannya adalah بسم الله أكتب أو أصنف "Dengan menyebut nama Allah aku menulis atau menyusun tulisan".
Kami menafsirkannya dengan fi'il (kata kerja) karena asal dari amalan adalah perbuatan.
Kami menafsirkannya dengan fi'il yang diakhirkan karena adanya dua faidah:
Pertama: Mengharapkan keberkahan memulai dengan nama Allah -subhanahu wa ta'ala-.
Kedua: Sebagai pembatasan karena mendahulukan susunan kalimat yang semestinya diakhirkan memberi makna pembatasan.
Kami menafsirkannya dengan 'kata yang sesuai' karena lebih bisa menjelaskan maksud. Seandainya kita katakan ketika hendak membaca kitab: "Dengan nama Allah kami memulai" maka tidak diketahui apa yang kita mulai. Akan tetapi "Dengan menyebut nama Allah aku membaca" maka akan lebih jelas maksudnya apa yang akan dimulai.
Allah (الله) nama Maha Pencipta yang Maha Besar dan Maha Luhur. Ini adalah nama yang diikuti oleh seluruh nama sampai pun dalam firman Allah ta'ala:
كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ لِتُخۡرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ ٱللَّهِ ٱلَّذِي لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ وَوَيۡلٞ لِّلۡكَٰفِرِينَ مِنۡ عَذَابٖ شَدِيدٍ
"Ini adalah kitab yang kami turunkan kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dengan izin Tuhannya kepada jalan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Allah yang memiliki segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dan celakalah orang orang kafir karena adzab yang keras". (QS Ibrahim: 1-2)
Kami tidak katakan bahwa lafadz Al Jalalah 'Allah' adalah sifat. Namun kita katakan lafadz ini adalah 'athaf Bayan (penggabungan untuk menjelaskan) agar lafadz jalalah ini tidak menjadi tabi' sebagaimana Tabi' dalam na'at ma'ut (sifat dan yang disifati).
Ar Rahman termasuk nama yang dikhususkan untuk Allah Azza wa Jalla saja tidak boleh diberikan kepada selain Allah. Ar Rahman artinya yang memiliki kasih sayang yang luas.
Ar Rahim adalah nama untuk Allah Azza wa Jalla dan juga untuk selainNya. Artinya, Allah lah yang memiliki kasih sayang yang terus-menerus. Ar Rahman artinya yang memiliki kasih sayang yang luas. Ar-Rahim yang memiliki kasih sayang terus-menerus. Jika keduanya digabungkan, Ar Rahim adalah yang memiliki sifat kasih sayang kepada siapapun di antara para hamba yang dikehendakiNya.
يُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ وَيَرۡحَمُ مَن يَشَآءُۖ وَإِلَيۡهِ تُقۡلَبُونَ
"Dia (Allah) mengazab siapa pun yang dikehendakiNya dan memberi rahmat kepada siapa pun yang dikehendakiNya. Dan hanya kepadaNya kalian dikembalikan" (QS Al Ankabut: 21)
Note:
1. As Suyuthi membawakannya dalam Al Jamius Shaghir 6284, dikuatkan oleh Abdul Qaadir Ar Rahawi dalam Al Arba'in dan didha'ifkan Al Alamah Al Albany dalam Dabiful Jami' 4217.



0 komentar:
Posting Komentar