Syarah Ushul Tsalaatsah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh hal 6-7.
Perkataan Penulis rahimahulloh:
Kedua: mengamalkannya.
Ketiga: mendakwahkannya.
==================
Penjelasan:
Perkataan penulis "mengamalkannya", yaitu mengamalkan konsekuensi dari makrifah (mengenal) tiga hal di atas ini dengan beriman kepada Allah, merealisasikan ketaatan kepadaNya, melaksanakan perintahNya, dan menjauhi larangan-larangannya; baik ibadah khashah (khusus, manfaatnya hanya untuk pelakunya) maupun ibadah muta'adiyah (ibadah yang manfaatnya juga untuk orang lain). Ibadah khashah misalnya salat, puasa, dan haji. Ibadah muta'adiyah misalnya Amar ma'ruf nahi munkar, jihad, dan yang semisal itu. Amal pada hakekatnya adalah buah ilmu. Orang yang beramal tanpa ilmu, dia serupa dengan Nasrani. Sedangkan orang yang berilmu namun tidak beramal maka dia mirip dengan Yahudi.
Ucapan penulis rahimahulloh: "mendakwahkannya", yaitu mendakwahkan syariat Allah ta'ala yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melalui tiga atau empat tahapan sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firmanNya:
ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmahdan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik." (QS An-Nahl: 125)
Dan yang keempat firmanNya:
۞وَلَا تُجَٰدِلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ إِلَّا بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ إِلَّا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنۡهُمۡۖ
"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka" (QS Al-Ankabut: 46)
Dakwah ini haruslah berdasarkan ilmu akan syariat Allah agar dakwahnya tegak di atas ilmu dan bashirah (hujah yang jelas). Allah berfirman:
قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ
Katakanlah (wahai Rasulullah), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.”(QS Yusuf: 108)
Bashirah akan terwujud dalam dakwah jika seorang da'i memahami hukum syar'i, metode dakwah, dan kondisi obyek dakwah. Lingkup dakwah sangatlah luas diantaranya dakwah dengan pidato dan memberikan ceramah, dengan makalah, halaqah ilmu, menulis dan menyebarkan agama melalui karya tulis. Di antaranya juga dakwah pada kalangan tertentu, misalnya ketika seseorang berada di suatu majelis dakwah. Ini adalah lingkup-lingkup dakwah. Namun hendaknya dakwah tersebut tidak membosankan dan memberatkan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara seorang dai memaparkan pembahasan-pembahasan ilmiah di hadapan para jamaah kemudian memulai diskusi. Sebagaimana diketahui bahwa diskusi dan tanya jawab memiliki peran besar dalam memahami dan memahamkan apa yang diturunkan Allah kepada rasulnya. Terkadang cara seperti ini lebih efektif daripada dalam bentuk khutbah dan ceramah sebagaimana yang diketahui.
Dakwah adalah tugas para rasul Alaihis shalatu Wassalam dan jalannya orang orang yang mengikuti mereka dengan baik. Tatkala seseorang telah mengenal Dzat yang di ibadahnya, nabinya, dan agamanya, serta mengetahui bahwa Allah lah yang telah memberinya taufik kepada hal tersebut maka hendaknya dia berupaya menyelamatkan saudara-saudaranya dengan mendakwahinya dan memberi kebaikan kepada mereka. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepada Ani bin Abi Thalib radhiyallahu anhu:
اﻧﻔﺬ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻠﻚ ﺣﺘﻰ ﺗﻨﺰﻝ ﺑﺴﺎﺣﺘﻬﻢ ﺛﻢ اﺩﻋﻬﻢ ﺇﻟﻰ اﻹﺳﻼﻡ، ﻭﺃﺧﺒﺮﻫﻢ ﺑﻤﺎ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻣﻦ ﺣﻖ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻴﻪ، ﻓﻮاﻟﻠﻪ ﻷﻥ ﻳﻬﺪﻱ اﻟﻠﻪ ﺑﻚ ﺭﺟﻼً ﻭاﺣﺪاً ﺧﻴﺮٌ ﻟﻚ ﻣﻦ ﺣُﻤْﺮ اﻟﻨَّﻌﻢ
"Bergeraklah engkau dengan tenang hingga sampai di wilayah mereka. Kemudian serulah mereka untuk memeluk Islam dan sampaikan hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, seandainya Allah memberi Hidayah kepada seorang saja melalui dirimu itu lebih baik dari pada unta merah" (HR Bukhari 4210 dan Muslim 2406)
Hadits ini disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim.
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam riwayat Muslim:
من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجور من تبعهم شيئا، و من دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا
"Orang yang mengajak kepada petunjuk, dia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan orang yang mengajak kepada kesesatan maka dia mendapat dosa seperti dosa orang orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun" (HR muslim 2674)
Dalam riwayat Muslim lainnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
من دل على خير فله مثل أجر فاعله
"Orang yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia mendapat pahala seperti orang yang mengamalkannya" (HR muslim 1893).
📚📚📚📒📚📚📚



0 komentar:
Posting Komentar