“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Senin, 07 November 2022

Syarah Ushul Tsalatsah: Sabar Dalam Berdakwah

Syarah Ushul Tsalatsah: Sabar Dalam Berdakwah

Syarah Ushul Tsalaatsah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah hal 7-8.

Perkataan Penulis:
Keempat: "Bersabar menghadapi rintangan dalam mendakwahkannya".

PENJELASAN:
Perkataan penulis: "Sabar menghadapi rintangan dalam mendakwahkannya". 
Sabar yaitu menahan diri untuk tetap mentaati Allah, mengakang jiwa untuk tidak memaksiatiNya, serta tidak membenci ketetapan-ketetapan takdirNya. Sehingga dia bisa mengontrol dirinya untuk tidak membenci, menggerutu, dan jemu. Dia senantiasa bersemangat dalam mendakwahkan Islam meski mendapat rintangan, karena menyakiti para penyeru kebaikan adalah hal biasa dilakukan manusia kecuali mereka yang diberi petunjuk oleh Allah. Allah ta'ala berfirman kepada nabiNya, Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam:
وَلَقَدۡ كُذِّبَتۡ رُسُلٞ مِّن قَبۡلِكَ فَصَبَرُواْ عَلَىٰ مَا كُذِّبُواْ وَأُوذُواْ حَتَّىٰٓ أَتَىٰهُمۡ نَصۡرُنَاۚ 

"Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka". (QS Al-An'am: 34)

Semakin keras gangguan yang mereka terima, semakin dekat pula pertolongan Allah. Pertolongan itu tidaklah hanya diberikan kepada seseorang ketika dia masih hidup sehingga bisa melihat pengaruh dakwahnya terwujud. Bahkan pertolongan itu tetap berlanjut hingga setelah wafatnya dengan digerakkannya hati-hati manusia untuk menerima dakwahnya, mengikutinya, dan berpegang teguh dengannya. Ini juga terhitung sebagai pertolongan kepada da'i tersebut meskipun dia telah wafat. Para juru dakwah hendaklah sabar dan tetap konsisten dengan dakwahnya. Bersabar mengamalkan agama Allah yang ia dakwahkan. Bersabar menghadapi rintangan dakwah. Bersabar menghadapi gangguan yang menimpa dirinya. Lihatlah para rasul - semoga shalawat dan salam tercurah untuk mereka - mereka disakiti dengan lisan dan perbuatan. Allah ta'ala berfirman:
كَذَٰلِكَ مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُواْ سَاحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٌ

"Demikianlah setiap kali seorang rasul yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, mereka (kaumnya) pasti mengatakan, "Dia itu pesihir atau orang gila." (QS Adz-Dzariyat: 52)
Allah ta'ala berfirman: 
وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا مِّنَ ٱلۡمُجۡرِمِينَۗ 

"Begitulah, bagi setiap nabi, telah Kami adakan musuh dari orang-orang yang berdosa." (QS Al-Furqan: 31)

Namun para da'i hendaklah menghadapi semua itu dengan kesabaran. Perhatikanlah firman Allah Azza wa jalla  kepada rasulNya Shallallahu Alaihi Wasallam.
إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلٗا

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur`ān kepadamu (Muhammad) secara berangsur-angsur". (QS Al-Insan: 23)

Ayat berikutnya yang ditunggu semestinya berbunyi 'bersyukurlah dengan nikmat dari Tuhanmu', namun Allah Azza wa Jalla berfirman:
فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ 

Maka bersabarlah untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu" (QS Al-Insan: 24)

Di sini terdapat isyarat bahwa setiap orang yang mengamalkan Al Quran ini pastilah akan mengalami gangguan yang membutuhkan kesabaran. Lihatlah keadaan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ketika kaumnya memukuli dan berbuat keji kepada beliau. Seraya mengusap darah di wajahnya beliau berdoa:
اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون
"Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui"1

Para da'i itu hendaklah bersabar dan mengharap pahala dari Allah.
Kesabaran itu ada tiga macam:
1. Sabar dalam mentaati Allah.
2. Sabar dalam meninggalkan larangan Allah.
3. Sabar dalam menjalani ketentuan takdir Allah, baik yang Allah takdirkan dengan tanpa campur tangan manusia atau pun yang Dia takdirkan dengan campur tangan manusia, berupa gangguan dan penentangan. Dalilnya adalah firman Allah ta'ala: 

 ( وَٱلۡعَصۡرِ ۝  إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ ۝  إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ)

"Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali, orang-orang yang beriman dan beramal shaleh yang saling menasehati untuk menetapi kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran". (QS  Al Ashr: 1 - 3 )

Note:
1. HR Ibnu Hibban dalam shahihnya 973, At Tabrany dalam Al Kabir 6/120. Silakan dilihat di Shahih Bukhari 3477 dan Muslim 1792.

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)