BAB
KALAM
(Diterjemahkan
dari kitab Al Ushul min ‘Ilmil Ushul, Penulis Syaikh Utsaimin -
rahimahullah - hal 17-19)
Kalam
secara bahasa:
اللفظ
الموضوع لمعنى
"Lafadz
yang disampaikan untuk (mengungkapkan) suatu makna".
Adapun
definisi secara istilah adalah
اللفظ
المفيد "kalimat
sempurna".
Misalnya:
الله
ربنا
(Allah
adalah Tuhan kita)
dan محمد
نبينا
(Muhammad
adalah nabi kita).
Suatu
Kalam minimal terdiri dari dua isim
atau fi'il
dengan isim.
Contoh
pertama (minimal 2 isim):
محمد
رسول الله
"Muhammad
utusan Allah"
Contoh
kedua (fi'il
dengan isim):
استقام
محمد
"Muhammad
telah berlaku lurus"
Setiap
bagian penyusun kalam disebut kalimah (kata) yaitu lafadz yang
diungkapkan untuk suatu makna tunggal, bisa berupa
isim, fi'il,
maupun huruf.
A.
ISIM
ما
دل على معنى في نفسه من غير إشعار بزمن
"Kata
yang menunjukkan suatu makna tersendiri tanpa terkait dengan
waktu"
Isim
ini ada tiga macam:
Pertama:
mengandung pengertian umum seperti isim maushul (kata
sambung).1
Kedua:
mengandung pengertian mutlak (tanpa ada keterkaitan) seperti isim
nakirah pada konteks penetapan.
Ketiga:
mengandung pengertian khusus seperti nama.
B.
FI'IL
ما
دل على معنى في نفسه، وأشعر بهيئته بأحد
الأزمنة الثلاثة
"Kata
yang menunjukkan suatu makna tersendiri dan menunjukkan salah satu
dari tiga waktu”.
Fi'il
bisa berupa
fi'il madhi
(menunjukkan waktu lampau) seperti فَهِمَ
,
atau fi'il
mudhari'
(menunjukkan waktu saat berbicara atau setelahnya) seperti يَفْهَمُ,
atau pun
fi'il 'amr
(menuntut pekerjaan dilakukan setelah pembicaraan dilakukan) misal
افْهَمْ.
Ketiga fi'il ini menunjukkan makna mutlak bukan menunjukkan makna
umum.
C. HURUF
ما
دل على معنى في غيره
"Kata
yang menunjukkan suatu makna jika bergabung dengan selainnya",
contohnya;
1.
Wawu (و),
sebagai huruf athaf
(kata sambung), menunjukkan berserikatnya dua hal dalam hukum. Tidak
menunjukkan makna berurutan dan tidak pula menafikkan makna berurutan
kecuali dengan dalil.
2.
Fa' (ف)
sebagai huruf athaf yang menunjukkan berserikatnya dua hal dalam
hukum dengan mengharuskan berurutan dan segera. Faa' juga huruf
sababiyah
yang menunjukkan illat
(sebab).
3.
Lam jarr (ل).
Lam ini memiliki beberapa makna, di antaranya: ta'lil,
tamlik,
dan ibahah.
4.
'Ala (على)
jarr. 'Ala memiliki beberapa makna, diantaranya: wajib.
Pembagian
Kalam
Berdasarkan
kemungkinan bisa disifati benar dan tidaknya, kalam terbagi dua:
Khabar
dan Insya'
1.
Khabar
ما
يمكن أن يوصف بالصدق أو الكذب لذاته
"Yaitu
kalam yang bisa disifati dengan benar atau dusta berdasarkan
dzatnya".
Tidak
tercakup dalam
definisi ini "yang
bisa disifati dengan benar atau dusta berdasarkan dzatnya"
yaitu Insya'.
Sebab, insya'
tidak bisa disifati demikian. Isya'
tidaklah menunjukkan berita
sehingga bisa dinilai dengan benar atau dusta.
Dan
tidak tercakup dalam definisi ini 'berdasarkan
dzatnya'
yaitu berita
yang secara
dzatnya tidak
mengandung kebenaran atau tidak mengandung kedustaan, karena suatu
berita
berdasarkan materi yang dikabarkan terbagi tiga macam:
Pertama:
kabar yang tidak mungkin dusta,
seperti kabar dari Allah dan rasulNya yang shahih.
Kedua:
kabar yang tidak mungkin benar,
seperti kabar yang tidak mungkin benar menurut syariat atau pun akal.
Contoh pertama seperti kabar orang yang mengklaim menjadi rasul
setelah diutusnya Nabi Muhammad shalallahu
'alaihi wa sallam
Contoh
kedua, misalnya kabar berkumpul dua hal yang saling berlawanan,
seperti ada satu benda yang bergerak dan tidak bergerak pada saat
yang bersamaan.
Ketiga:
kabar yang mengandung kemungkinan benar dan dusta,
baik kemungkinan benar dan dustanya sama , atau salah satunya yang
lebih besar. Misalnya kabar adanya seseorang yang balik lagi setelah
lama menghilang dan semisalnya.
2.
Insya'
ما
لا يمكن أن يوصف بالصدق والكذب، ومنه
الأمر والنهي
"Kalam
yang tidak bisa dinilai benar atau dusta, seperti perintah dan
larangan".
Misalnya
firman Allah ta'ala:
وَاعْبُدُوا
اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً
"Sembahlah Allah dan janganlah mensekutukanNya dengan sesuatu pun" (An Nisa': 36)
Terkadang
Kalam berupa kabar dan Insya' sekaligus, seperti akad-akad yang
diucapkan, misalnya:
بعت
وقبلت "aku
jual dan aku terima". Kata
وقبلت
'aku
terima' ditinjau dari hal yang ditunjukkannya oleh orang yang berakad
adalah Khabar
namun dari sisi konsekwensi yang timbul dari akad itu adalah
Insya'.
Terkadang
ada kalam dalam bentuk khabar
namun yang dimaksudkan adalah Insya'
atau sebaliknya karena adanya suatu faidah.
Contoh
pertama firman Allah ta'ala:
وَالْمُطَلَّقَاتُ
يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ
قُرُوءٍ
"Dan para isteri yang diceraikan (wajib) menahan diri mereka (menunggu) tiga kali qurū'."(Al Baqarah: 228)
FirmanNya:
يَتَرَبَّصْنَ
(menunggu)
bentuk kalamnya adalah Khabar
namun maksudnya adalah Amr
(perintah). Faidahnya adalah sebagai penekanan sesuatu yang
diperintahkan hingga seakan-akan ini sesuatu yang terjadi, Allah
menyampaikannya sebagaimana hal yang diperintahkan.
Contoh
sebaliknya adalaha firman Allah ta'ala:
وَقَالَ
الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا
اتَّبِعُوا سَبِيلَنَا وَلْنَحْمِلْ
خَطَايَاكُمْ
"Orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: "Ikutilah jalan-jalan kami dan kamilah yang akan memikul dosa-dosaa kalian" (Al Ankabut: 12)
FirmanNya
وَلْنَحْمِلْ
"hendaknya
kami yang memikul"
maksudnya adalah Amr
(perintah) namun maksudnya adalah khabar,
maksudnya
ونحن
نحمل
'dan
kami yang memikul'.
Faidahnya adalah menempatkan sesuatu yang dikabarkan seperti
kewajiban yang mesti dilaksanakan.
Bersambung…..



0 komentar:
Posting Komentar