“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Senin, 02 Januari 2023

Pembagian Kalam berdasarkan Khabar dan Insya’

 


BAB KALAM

(Diterjemahkan dari kitab Al Ushul min ‘Ilmil Ushul, Penulis Syaikh Utsaimin - rahimahullah - hal 17-19)
Kalam secara bahasa:


اللفظ الموضوع لمعنى

"Lafadz yang disampaikan untuk (mengungkapkan) suatu makna".
Adapun definisi secara istilah adalah اللفظ المفيد "kalimat sempurna". Misalnya: الله ربنا (Allah adalah Tuhan kita) dan محمد نبينا (Muhammad adalah nabi kita).
Suatu Kalam minimal terdiri dari dua isim atau  fi'il dengan isim.
Contoh pertama (minimal 2 isim):
محمد رسول الله 
"Muhammad utusan Allah"
Contoh kedua (fi'il dengan isim):
استقام محمد
"Muhammad telah berlaku lurus"
Setiap bagian  penyusun kalam disebut kalimah (kata) yaitu lafadz yang diungkapkan untuk suatu makna tunggal, bisa berupa isim, fi'il, maupun huruf.


A. ISIM


ما دل على معنى في نفسه من غير إشعار بزمن

"Kata yang menunjukkan suatu makna tersendiri tanpa terkait dengan waktu"
Isim ini ada tiga macam:
Pertama: mengandung pengertian umum seperti isim maushul (kata sambung).1
Kedua: mengandung pengertian mutlak (tanpa ada keterkaitan) seperti isim nakirah pada konteks penetapan.
Ketiga: mengandung pengertian khusus seperti nama.

B. FI'IL


ما دل على معنى في نفسه، وأشعر بهيئته بأحد الأزمنة الثلاثة

"Kata yang menunjukkan suatu makna tersendiri dan menunjukkan salah satu dari tiga waktu”.
Fi'il bisa berupa fi'il madhi (menunjukkan waktu lampau) seperti فَهِمَ , atau fi'il mudhari' (menunjukkan waktu saat berbicara atau setelahnya) seperti يَفْهَمُ, atau pun fi'il 'amr (menuntut pekerjaan dilakukan setelah pembicaraan dilakukan) misal افْهَمْ. Ketiga fi'il ini menunjukkan makna mutlak bukan menunjukkan makna umum.


C. HURUF


ما دل على معنى في غيره

"Kata yang menunjukkan suatu makna jika bergabung dengan selainnya", contohnya;
1. Wawu (و), sebagai huruf athaf (kata sambung), menunjukkan berserikatnya dua hal dalam hukum. Tidak menunjukkan makna berurutan dan tidak pula menafikkan makna berurutan kecuali dengan dalil. 
2. Fa' (ف) sebagai huruf athaf yang menunjukkan berserikatnya dua hal dalam hukum dengan mengharuskan berurutan dan segera. Faa' juga huruf sababiyah yang menunjukkan illat (sebab).
3. Lam jarr (ل). Lam ini memiliki beberapa makna, di antaranya: ta'lil, tamlik, dan ibahah.
4. 'Ala (على) jarr. 'Ala memiliki beberapa makna, diantaranya: wajib.


Pembagian Kalam
Berdasarkan kemungkinan bisa disifati benar dan tidaknya, kalam terbagi dua: Khabar dan Insya'
1. Khabar


ما يمكن أن يوصف بالصدق أو الكذب لذاته

"Yaitu kalam yang bisa disifati dengan benar atau dusta berdasarkan dzatnya".
Tidak tercakup dalam definisi ini "yang bisa disifati dengan benar atau dusta berdasarkan dzatnya" yaitu Insya'. Sebab, insya' tidak bisa disifati demikian. Isya' tidaklah menunjukkan berita sehingga bisa dinilai dengan benar atau dusta.
Dan tidak tercakup dalam definisi ini 'berdasarkan dzatnya' yaitu berita yang secara dzatnya tidak mengandung kebenaran atau tidak mengandung kedustaan, karena suatu berita berdasarkan materi yang dikabarkan terbagi tiga macam:
Pertama: kabar yang tidak mungkin dusta, seperti kabar dari Allah dan rasulNya yang shahih.
Kedua: kabar yang tidak mungkin benar, seperti kabar yang tidak mungkin benar menurut syariat atau pun akal. Contoh pertama seperti kabar orang yang mengklaim menjadi rasul setelah diutusnya Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam 
Contoh kedua, misalnya kabar berkumpul dua hal yang saling berlawanan, seperti ada satu benda yang bergerak dan tidak bergerak pada saat yang bersamaan.
Ketiga: kabar yang mengandung kemungkinan benar dan dusta, baik kemungkinan benar dan dustanya sama , atau salah satunya yang lebih besar. Misalnya kabar adanya seseorang yang balik lagi setelah lama menghilang dan semisalnya.

2. Insya'


ما لا يمكن أن يوصف بالصدق والكذب، ومنه الأمر والنهي

"Kalam yang tidak bisa dinilai benar atau dusta, seperti perintah dan larangan".
Misalnya firman Allah ta'ala:


وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً

"Sembahlah Allah dan janganlah mensekutukanNya dengan sesuatu pun" (An Nisa': 36)


Terkadang Kalam berupa kabar dan Insya' sekaligus, seperti akad-akad yang diucapkan, misalnya: بعت وقبلت "aku jual dan aku terima". Kata وقبلت 'aku terima' ditinjau dari hal yang ditunjukkannya oleh orang yang berakad adalah Khabar namun dari sisi konsekwensi yang timbul dari akad itu adalah Insya'.
Terkadang ada kalam dalam bentuk khabar namun yang dimaksudkan adalah Insya' atau sebaliknya karena adanya suatu faidah.
Contoh pertama firman Allah ta'ala:


وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ

"Dan para isteri yang diceraikan (wajib) menahan diri mereka (menunggu) tiga kali qurū'."(Al Baqarah: 228)


FirmanNya: يَتَرَبَّصْنَ (menunggu) bentuk kalamnya adalah Khabar namun maksudnya adalah Amr (perintah). Faidahnya adalah sebagai penekanan sesuatu yang diperintahkan hingga seakan-akan ini sesuatu yang terjadi, Allah menyampaikannya sebagaimana hal yang diperintahkan.
Contoh sebaliknya adalaha firman Allah ta'ala:


وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا اتَّبِعُوا سَبِيلَنَا وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ

"Orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: "Ikutilah jalan-jalan kami dan kamilah yang akan memikul dosa-dosaa kalian" (Al Ankabut: 12)


FirmanNya وَلْنَحْمِلْ "hendaknya kami yang memikul" maksudnya adalah Amr (perintah) namun maksudnya adalah khabar, maksudnya ونحن نحمل 'dan kami yang memikul'. Faidahnya adalah menempatkan sesuatu yang dikabarkan seperti kewajiban yang mesti dilaksanakan.


Bersambung…..

0 komentar:

Posting Komentar

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)