“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Jumat, 25 Desember 2020

Obat Kerasnya Hati


Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahulloh-:
"Termasuk perkara yang bisa menghilangkan kerasnya hati adalah memperbanyak membaca Al-Qur'an dan merenungi maknanya, dan engkau merasakan -tatkala membacanya- bahwa ini adalah firman Alloh -azza wa jalla-, firman Pencipta langit dan bumi bukan perkataan manusia. Maka pada saat itu engkau akan mengagungkan firmanNya dan engkau mengambil manfaat darinya".

(Tafsir Surat Al-An'am: hal 224)

‏قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله: 
من أسباب إزالة قسوة القلب كثرة قراءة القرآن بتدبر، وأن تشعر وأنت تقرأ أن هذا كلام الله عز وجل، كلام خالق السموات والأرض لا كلام البشر وحينئذ تعظم هذا الكلام وتنتفع به.
(تفسير سورة الأنعام / ص224).

Syarat Taubat: Bertekad Untuk Tidak Mengulangi Dosanya


Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahulloh- berkata:
Manusia jika berbuat dosa kemudian bertaubat dengan sungguh-sungguh, lalu dikalahkan oleh nafsunya sehingga berbuat dosa lagi maka taubatnya yang pertama tetap sah. Apabila dia bertaubat lagi maka taubatnya sah, sebab syarat taubat adalah seseorang BERTEKAT UNTUK TIDAK MENGULANGI dosanya dan bukanlah syarat taubat TIDAK MENGULANG dosanya.

Syarah Kitab Tauhid juz 2/500

‏الإنسان إذا فعل الذنب ثم تاب توبة نصوحا ثم غلبته عليه نفسه مرة أخرى فإن توبته الأولى صحيحة فإذا تاب ثانية فتوبته صحيحة لأن من شروط التوبة أن يعزم أن لا يعود وليس من شروط التوبة ان لا يعود.

📖 (شرح كتاب التوحيد ج2 ص500) ‎#ابن_عثيمين

Ushul Tafsir (3): Turunnya Al-Qur'an antara Ibtidai dan Sababi


(Diterjemahkan dari kitab Ushulun Fit tafsiir karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahulloh- hal 12-13)

3. Turunnya Al-Qur'an antar Ibtidai dan Sababi.
Turunnya Al-Qur'an terbagi atas dua keadaan:
Pertama: Ibtida'i yaitu turunnya ayat Qur'an tanpa ada sebab yang melatarbelakanginya. Dan ini kebanyakan dari ayat Qur'an. Di antaranya firman Alloh -ta'ala-:
وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ
"Dan di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah, “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan niscaya kami termasuk orang-orang yang shalih.” (QS At-Taubah: 75)
Ayat ini turun secara ibtida' tentang keadaan sebagian orang-orang munafik. Ada pun yang masyhur bahwa ayat ini turun tentang Tsa'labah bin Hatib dalam kisah yang panjang yang telah disebutkan oleh kebanyakan ahli tafsir dan dipopulerkan oleh mayoritas para pemberi wejangan maka ini kisah lemah yang tidak shahih.

Kedua: Sababy yaitu turunnya ayat didahului oleh sebab yang melatarbelakanginya. Sebabnya bisa berupa:

1. Jawaban Alloh -ta'ala- atas sebuah pertanyaan. Misalnya:
يَسْأَلونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
"Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, “Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.” (QS Al-Baqarah: 189)

2. Atau suatu kejadian yang membutuhkan penjelasan dan peringatan. Misalnya:
"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja.” (QS At-Taubah: 65)

Dua ayat ini turun berkenaan tentang seorang laki-laki munafik yang berkata di perang Tabuk di suatu perkumpulan:
"Kami tidak pernah melihat orang seperti Qori kita (para pembaca Al-Qur'an) ini yang lebih buncit perutnya, yang lebih dusta lisannya dan lebih pengecut ketika bertemu musuh -yaitu Rasululloh -shollallahu 'alaihi wa sallam- dan para shahabatnya. Maka sampailah berita itu kepada Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- lalu turun Al-Qur'an. Maka datanglah laki-laki tersebut kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- menyampaikan alasannya. Maka beliau menjawab:
أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ
“Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (QS At-Taubah: 65)

3. Atau suatu perbuatan yang terjadi yang membutuhkan penjelasan hukumnya:
قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ
"Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat".(QS Al-Mujadilah: 1)

٣- نزول القرآن ابتدائي وسببي
ينقسم نزول القران إلى قسمين:
الأول: ابتدائي: وهو ما لم يتقدم نزوله سبب يقتضيه، وهو غالب آيات القران، ومنه قوله تعالى: (وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ) (التوبة: ٧٥)

الآيات فإنها نزلت ابتداء في بيان حال بعض المنافقين، وأما ما اشتهر من أنها نزلت في ثعلبة ابن حاطب في قصة طويلة، ذكرها كثير من المفسرين، وروجها كثير من الوعاظ، فضعيف لا صحة له. (١) .

القسم الثاني: سببي: وهو ما تقدم نزوله سبب يقتضيه. والسبب:
أ - ... إما سؤال يجيب الله عنه مثل (يَسْأَلونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ) (البقرة: الآية ١٨٩) .

ب - أو حادثة وقعت تحتاج إلى بيان وتحذير مثل: (وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ) (التوبة: الآية ٦٥) الآيتين نزلتا في رجل من المنافقين قال في غزوة تبوك في مجلس: ما رأينا مثل قرائنا هؤلاء أرغب بطونا، ولا أكذب ألسنا، ولا أجبن عند اللقاء، يعني رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه، فبلغ ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم ونزل القرآن فجاء الرجل يعتذر النبي صلى الله عليه وسلم فيجيبه (أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ) (التوبة: الآية ٦٥) (١) .

ج- أو فعل واقع يحتاج إلى معرفة حكمه مثل: (قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ) (المجادلة: ١)

(١) رواه الطبراني، وفيه على بن يزيد الألهاني وهو متروك.

Kamis, 10 Desember 2020

Contoh Sifat Dzatiyah Dalam Al-Qur'an

Pertanyaan:
Terlah berlalu penjelasan bahwa sifat-sifat Alloh -ta'ala- terbagi atas Dzatiyah dan Fi'liyah. Apa contoh sifat Dzatiyah dari Al-Kitab(Al-Qur'an)?

Jawab:
Misalnya firman Alloh -ta'ala-:
بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ
"Bahkan kedua tanganNya terbuka" (QS Al-Maidah: 64)

 كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
"Segala sesuatu binasa kecuali wajahNya" (Al-Qosos: 88)

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
"tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal." (QS Ar-Rahman: 27)
 وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي
"dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku" (QS Taha: 39)

 أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ
"Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya" (Al-Kahfi: 26)
 إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى
"sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat."(QS Thaha: 46)

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا
"Dia (Allah) mengetahui apa yang di hadapan mereka (yang akan terjadi) dan apa yang di belakang mereka (yang telah terjadi), sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya". (QS Thaha: 110)
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا
"Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung." (QS An-Nisa': 164)

وَإِذْ نَادَى رَبُّكَ مُوسَى أَنِ ائْتِ الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya), “Datangilah kaum yang zhalim itu" (QS Asy-Syu'araa: 10)

 وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ
"Tuhan menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu" (QS Al-A'raf: 22)

 وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ
"Dan (ingatlah) pada hari ketika Dia (Allah) menyeru mereka, dan berfirman, “Apakah jawabanmu terhadap para rasul?” (QS Al-Qashas: 65)
 dan ayat-ayat selainnya.



[مثال لصفات الذات من الكتاب]
س: تقدم أن صفات الله تعالى منها ذاتية وفعلية، فما مثال صفات الذات من الكتاب؟
جـ: مثل قوله تعالى: {بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ} [المائدة: ٦٤] {كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ} [القصص: ٨٨] {وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ} [الرحمن: ٢٧] {وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي} [طه: ٣٩] {أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ} [الكهف: ٢٦] {إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى} [طه: ٤٦] {يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا} [طه: ١١٠] {وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا} [النساء: ١٦٤] {وَإِذْ نَادَى رَبُّكَ مُوسَى أَنِ ائْتِ الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} [الشعراء: ١٠] {وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ} [الأعراف: ٢٢] {وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ} [القصص: ٦٥] وغير ذلك.

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Rabu, 02 Desember 2020

Taisir (77 & 78): Imam Meringankan Sholat Berjamaah

Hadits - 77:

عن أبي هريرة رضيَ الله عَنْهُ أنَ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: "إِذَا صَلى أحَدكُمْ لِلنَاس فَلْيُخَففْ، فَإنَّ فيهم الضعيف والسقِيمَ وَذا الحاجة (١) ، وَإِذَا صَلَّى أحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَليُطَولْ مَا شَاءَ".

Dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Apabila salah seorang di antara kalian sholat mengimami manusia maka ringankanlah sebab di antara mereka (makmum)ada orang yang lemah, sakit dan orang yang dalam urusan. Dan apabila salah seorang di antara kalian sholat sendirian maka panjangkanlah sesukamu"

Hadits 78:
عَنْ أبي مَسْعُودٍ الأنصاري رَضيَ الله عَنْهُ قَال: جَاءَ رَجُل إِلى رسُولَ الله صلى الله عليه وسلم، فقَالَ: إنِّي لأتَأخَرُ عَنْ صَلاةِ الصُّبْحِ مِنْ أجْلِ فلانٍ مِمَّا يطِيلُ بِنَا.
قالَ: فَمَا رَأَيْتُ النَّبيَ صَلى الله عَلَيْهِ وَسَلمَ غَضبَ في مَوْعِظَةٍ قطُّ أشدَّ مِمَّا غضِبَ يَوَمَئِذٍ، فَقَالَ: "يَا أيها النَّاسُ، إِن مِنْكُمْ مُنَفرِينَ فَأيّكُمْ أمّ النَّاسَ فَلْيُوجِزْ، فَإن مِنْ وَرَائِهِ الْكَبِيرَ وَالصَغِيرَ وَذَا الْحَاجَةِ".

Dari Abu Mas'ud Al-Anshory -radhiyallohu 'anhu- berkata: Seseorang datang kepada Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- lalu berkata: "Sesungguhnya saya benar-benar mengakhirkan sholat subuh karena Fulan yang memanjangkan sholat mengimami kami. 
Ibnu Mas'ud berkata: Aku sama sekali belum pernah melihat Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- marah dalam memberikan nasehat melebihi marahnya pada hari itu.
Beliau bersabda: "Wahai manusia, sesungguhnya di antara kalian ada orang yang membuat lari manusia. Maka siapa pun di antara kalian yang mengimami manusia hendaklah meringankan (sholat). Sesungguhnya di belakangnya ada orang yang renta, anak kecil dan orang yang ada keperluan"
 
Makna Global:
Syariat yang lapang ini datang dengan membawa kemudahan dan meniadakan kesudahan dan kesempitan. Oleh karenanya, sholat yang merupakan bentuk ketaatan yang paling mulia, Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kepada imam untuk meringankannya untuk meringankan dan memudahkan para makmum. Sehingga tatkala mereka selesai dari sholat dalam keadaan berharap untuk mengerjakannya lagi. Dan oleh karena di antara para makmum ada orang-orang yang tidak mampu sholat lama, entah karena lemah atau karena sakit atau karena ada kepentingan. Jika orang yang sholat sendirian maka silahkan dia memanjangkan sholat sesukanya, sebab hal itu tidak memberatkan seorang pun. 
Di antara bentuk ketidaksukaan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dalam pemanjangan sholat yang hal tersebut menyusahkan makmum atau pun menghalangi aktivitas mereka, maka tatkala datang seseorang kepada beliau dan mengatakan bahwa dia mengakhirkan mengerjakan sholat subuh bersama jamaah karena imam yang mengimami mereka terlalu memanjangkan sholat, maka beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- pun sangat marah dan bersabda:
"Sesungguhnya di antara kalian ada orang yang membuat lari manusia dari ketaatan kepada Alloh, membuat mereka benci kepada sholat dan menjadikan sholat berat bagi mereka. Maka siapa di antara kalian yang mengimami manusia hendaklah meringankannya sebab di antara mereka ada orang-orang yang lemah dan sedang dalam urusan.

Ikhtilaf Ulama
Di sana ada hadits-hadits shahih yang  menjelaskan sifat sholat Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- yang panjang. Beliau bertakbir lalu ada seseorang yang pergi ke Baqi' lalu menyelesaikan hajatnya. Orang ini kemudian kembali, lalu wudhu' dan masih menjumpai rekaat yang pertama bersama Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- karena beliau membaca surat-surat yang panjang dalam sholat maktubah; seperti surat Al-Baqarah, An-Nisa' dan Al-A'raf. Dan beliau membaca surat-surat mufashol yang panjang seperti Qaf dan At-Thur dan sebagainya.

Dan di sana ada pula hadits-hadits shahih yang menganjurkan untuk meringankan sholat di antaranya adalah dua hadits yang sedang kita bahas ini. Dan beliau pernah membaca Al-Kafirun dan Al-Ikhlas dan yang semisalnya. Dan manusia -dalam mengikuti dalil-dalil ini- mereka berbeda pendapat.
Di antara mereka ada yang berpendapat untuk memanjangkan sholat sebagai pengamalan hadits-hadits yang ada dan sebagian lagi berpendapat untuk meringankan sholat sebagai pengamalan yang ada pada pembahasan ini.
Yang pasti, tidak ada pertentangan di antara hadits-hadits ini -segala puji bagi Alloh- masing-masingnya saling bersesuaian. Akan tetapi sholat ringan atau pun  panjang adalah dua hal yang relatif. Tidaklah dibatasi dengan batasan tertentu karena manusia dalam masalah ini juga berbeda-beda. Orang yang sedang tergesa-gesa melihat sholat yang sedang-sedang saja sebagai sholat yang panjang ada pun ahli ibadah dan ketaatan melihatnya pendek saja.
Maka hendaklah kembali kepada hadits-hadits Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- , keadaan beliau dan sholat beliau serta menyelaraskan antara satu dengan lainnya sehingga nampak kebenaran. 
Imam Ash-Shon'any menyebutkan: Bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- memanjangkan sholatnya karena tau kondisi para makmum beliau. Sedangkan perintah meringankan sholat adalah khusus bagi umat ini.

Kesimpulan hadits:
1. Wajibnya meringankan sholat jamaah dengan tetap menjaga kesempurnaannya.
2. Marahnya beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- kepada orang yang memberatkan sholat dan menganggapnya sebagai pembuat fitnah (masalah).
3. Bolehnya memanjangkan sholat sendiri sesukanya dengan catatan tidak sampai keluar waktu sholat agar tidak berbenturan antara maslahat memanjangkan sholat agar sholatnya sempurna dengan kerusakan karena sholat dilaksanakan di luar waktunya.
4. Keharusan memperhatikan orang-orang yang lemah dan orang yang ada kepentingan tatkala sholat.
5. Tidak mengapa memanjangkan sholat jika jumlah makmum terbatas dan mereka suka dengan sholat yang panjang.
6. Hendakah seseorang itu memudahkan orang lain kepada kebaikan, menjadikan mereka suka kepadanya dan mencintainya sebab hal ini termasuk sikap kelembutan (untuk mengajak orang kepada jalan Alloh -pent) dan merupakan dakwah yang baik kepada Islam.

Diterjemahkan dari Taisiril Alam, Syarah Umdatul Ahkam.
الحديث السادس
عن أبي هريرة رضيَ الله عَنْهُ أنَ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: "إِذَا صَلى أحَدكُمْ لِلنَاس فَلْيُخَففْ، فَإنَّ فيهم الضعيف والسقِيمَ وَذا الحاجة (١) ، وَإِذَا صَلَّى أحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَليُطَولْ مَا شَاءَ".
الحديث السابع
عَنْ أبي مَسْعُودٍ الأنصاري رَضيَ الله عَنْهُ قَال: جَاءَ رَجُل إِلى رسُولَ الله صلى الله عليه وسلم، فقَالَ: إنِّي لأتَأخَرُ عَنْ صَلاةِ الصُّبْحِ مِنْ أجْلِ فلانٍ مِمَّا يطِيلُ بِنَا.
قالَ: فَمَا رأى النَّبيَ صَلى الله عَلَيْهِ وَسَلمَ غَضبَ في مَوْعِظَةٍ قطُّ أشدَّ مِمَّا غضِبَ يَوَمَئِذٍ،فَقَالَ: "يَا أيها النَّاسُ، إِن مِنْكُمْ مُنَفرِينَ فَأيّكُمْ أمّ النَّاسَ فَلْيُوجِزْ، فَإن مِنْ وَرَائِهِ الْكَبِيرَ وَالصَغِيرَ وَذَا الْحَاجَةِ".
المعنى الإجمالي:
جاءت هذه الشريعة السمحة، باليسر والسهولة، وَنَفْى العَنَتِ والحرج.
ولهذا " فإن الصلاة التي هي أجل الطاعات " أمر النبي صلى الله عليه وسلم الإمام التخفيف فيها، لتتيسر وتسهل على المأمومين، فيخرجوا منها وهم لها راغبون. ولأن في المأمومين من لا يطيق التطويل، إما لعجزه. أو مرضه أو حاجته.
فإن كان المصلى منفردا فليطول ما شاء. لأنه لا يضر أحداً بذلك.
ومن كراهته صلى الله عليه وسلم للتطويل، الذي يضر الناس أو يعوقهم عن أعمالهم، أنه لما جاءه رجل وأخبره أنه يتأخر عن صلاة الصبح مع الجماعة، من أجل الإمام الذي يصلى بهم، فيطيل الصلاة، غضب النبي صلى الله عليه وسلم غضبا شديدا، وقال: إن منكم من ينفر الناس عن طاعة الله، ويكرّه إليهم الصلاة ويثقلها عليهم فَأيّكم أمَّ الناس فليوجز، فإن منهم العاجزين وذوى الحاجات.
اختلاف العلماء:
هناك أحاديث صحيحة تصف صلاة النبي صلى الله عليه وسلم بالطول، بحيث يكبر، فيذهب الذاهب إلى البقيع، ويقضى حاجته، ثم يرجع ويتوضأ يدرك الركعة الأولى مع النبي صلى الله عليه وسلم، وبأنه يقرأ في الصلاة المكتوبة بطوال السور، كالبقرة، والنساء، والأعراف، ويقرأ بطوال المفصل "ق " والطور ونحوهما.
وهناك أحاديث صحيحة تحث على التخفيف، منها هذان الحديثان اللذان معنا وأنه يقرأ بـ (قل يا أيها الكافرون) و (الإخلاص) ونحو ذلك.
والناس- تبعاً لهذه الأدلة- مختلفون.
فمنهم من يرى التطويل، عملا بهذه الأحاديث، ومنهم من يرى التخفيف عملاً بما ورد فيها.
والحق، أنه ليس بين هذه الأحاديث تعارض ولله الحمد، وكلها متفقة. ولكن التخفيف والتَّطْوِيل أمران نسبيان، لا يُحَدَّان بِحدّ، لأن الناس في ذلك على بَوْنٍ بعيد.
فالناقرون يرون الصلاة المتوسطة طويلة وأهل العبادة والطاعة يرونها قصيرة.
فليرجع إلى أحاديث النبي صلى الله عليه وسلم وإلى حال صلاته، ويطبق بعضها على بعض، يظهر الحق الفاصل. وقد ذكر الصنعاني: أنه صلى الله عليه وسلم كان يطيل صلاته لعلمه بحال المؤتمين به، وأن الأمر بتخفيف الصلاة خاص بالأمة.
ما يؤخذ من الحديثين:
١- وجوب تخفيف صلاة الجماعة مع الإئتمام.
٢- غضبه صلى الله عليه وسلم على المثقلين، وعدُّه هذا من الفتنة.
٣- جواز تطويل صلاة المنفرد ما شاء، وقيد بأن لا يخرج الوقت وهو في الصلاة. وذلك كيلا تصطدم مصلحة المبالغة بالتطويل من أجل كمال الصلاة مع مفسدة إيقاع الصلاة في غير وقتها.
٤- وجوب مراعاة العاجزين وأصحاب الحاجات في الصلاة.


٥- أنه لا بأس بإطالة الصلاة، إذا كان عدد المأمومين ينحصر وآثروا التطويل.
٦- أنه ينبغي للإنسان أن يسهل على الناس طريق الخير، ويحببه إليهم، ويرغبهم فيه، لأن هذا من التأليف، ومن الدعاية الحسنة إلى الإسلام.
 

(١) ليس في البخاري "وذا الحاجة".

Ushul Tafsir (2): Wahyu Al-Qur'an Yang Pertama Kali Turun


(Diterjemahkan dari kitab Ushulun Fit tafsiir karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahulloh-)

Wahyu Al-Qur'an yang turun pertama kali secara mutlak adalah adalah lima ayat pertama dari surat Al-'Alaq yaitu firman Alloh -ta'ala-:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١) خَلَقَ الْأِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤) عَلَّمَ الْأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya" (QS Al-Alaq: 1-5)
Kemudian terputus wahyu beberapa waktu. Lalu turun lima ayat pertama dari surat Al-Mudatsir:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّر (١) قُمْ فَأَنْذِرْ (٢) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (٣) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (٤) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (٥)
"Wahai orang yang berkemul (berselimut)! bangunlah, lalu berilah peringatan! dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji" (QS Al-Muddatsir: 1-5)

Dalam Ash-Shahihain, shahih Bukhari dan Muslim: Dari 'Aisyah -radhiyallohu 'anha- di awal-awal turunnya wahyu dia berkata: sampai datang kebenaran kepada beliau sedangkan beliau ada di goa Hira'. Datang kepada beliau seorang malaikat lalu berkata: "Bacalah!". Beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- berkata: "Aku tidak bisa membaca"(yaitu: aku tidak tidak mengetahui bacaan) dan disebutkan hadits yang di dalamnya beliau berkata:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق
"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan"
sampai sabda beliau:
عَلَّمَ الْأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
"Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya" (QS Al-'Alaq: 1-5)
Dan dalam keduanya (Shahihain) dari Jabir -radhiyallohu 'anhu- bahwasannya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda tatkala beliau menceritakan ketika wahyu terputus:
بينا أنا أمشي إذ سمعت صوتاً من السماء
"Tatkala aku berjalan tiba-tiba aku mendengar suara dari langit"
lalu beliau menceritakan haditsnya -yang di dalamnya- Alloh -ta'ala- menurunkan ayat:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّر (١) قُمْ فَأَنْذِرْ (٢)
"Wahai orang yang berselimut. Bangun dan berilah peringatan"
sampai firmanNya:
(وَالرُّجْزَ فَاهْجُر (٥)
"dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji" (QS Al-Muddatsir: 1-5)

Di sana terdapat ayat yang disebut: yang pertama kali turun, dan maksudnya pertama kali turun ditinjau dari sisi tertentu. Sehingga menjadi ayat yang turun pertama terkait suatu hal. Misalnya hadits Jabir -radhiyallohu 'anhu- dalam shahihain: Sesungguhnya Abu Salamah bin Abdurrahman bertanya kepadanya: Surat Al-Qur'an apa yang pertama kali turun? Jabir menjawab: يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (QS Al-Mudatsir ayat 1).
Aku katakan padanya bahwa (yang pertama kali turun) اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (QS Al-Alaq: 1).
Maka Jabir berkata: "Aku hanya mengkhabarkan apa yang dikatakan oleh Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Aku berkhalwat(menyendiri menyepi) di gua Hira'. Tatkala aku sudah selesai berkhalwat aku pun turun..."

Sampai perkataan beliau: "...Maka aku mendatangi Khadijah lalu aku katakan: Selimutilah aku dan guyurlah kepalaku dengan air dingin. Dan turun ayat kepadaku:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ
"Wahai orang yang berselimut" (QS Al-Muddatsir: 1) sampai firmanNya:
وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
"Dan perbuatan dosa maka tinggalkanlah" (QS Al-Muddatsir: 1-5)


Permulaan turunnya wahyu yang disebutkan Jabir -radhiyallohu 'anhu- ini ditinjau dari sisi permulaan turunnya wahyu setelah masa fatrah (terhentinya wahyu untuk beberapa waktu) atau wahyu yang pertama kali turun mengenai diangkatnya beliau sebagai Rasul. Sebab wahyu yang turun berupa surat 'Iqra'' adalah penetapan kenabian Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan wahyu yang turun berupa surat Al-Muddatsir penetapan kerasulan beliau dalam firmanNya (قُمْ فَأَنْذِرْ) "Bangun dan berilah peringatan" (QS Al-Muddatsir: 2)

Oleh karenanya para ulama berkatan Sesungguhnya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- diangkat jadi Nabi dengan surat iqra' (QS Al-Alaq: 1) dan diutus menjadi Rasul dengan surat Al-Muddatsir (QS Al-Muddatsir: 1)

٢- أول ما نزل من القرآن
أول ما نزل من القرآن على وجه الإطلاق قطعا ً الآيات الخمس الأولي من سورة العلق، وهي قوله تعالى: (اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١) خَلَقَ الْأِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤) عَلَّمَ الْأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥) (العلق: ١- ٥) .
ثم فتر الوحي مدة، ثم نزلت الآيات الخمس الأولى من سورة المدثر، وهي قوله تعالى: (يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّر (١) قُمْ فَأَنْذِرْ (٢) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (٣) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (٤) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (٥) (المدثر: ١-٥) . ففي ((الصحيحين)) : صحيح البخاري ومسلم (١) . عن عائشة رضي الله عنها في بدء الوحي قالت: حتى جاءه الحق ٌّ، وهو في غار حراء، فجاءه الملك فقال اقرأ، فقال النبي صلى الله عليه وسلم ما أنا بقارئ (يعني لست أعرف القراءة) فذكر الحديث، وفيه ثم قال: (اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق (١)) إلى قوله: (عَلَّمَ الْأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)) (العلق: ١- ٥) .

وفيهما (٢) عن جابر رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال وهو يحدث عن فترة الوحي: (بينا أنا أمشي إذ سمعت صوتاً من السماء....)
فذكر الحديث، وفيه، فأنزل الله تعالى: (يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّر (١) قُمْ فَأَنْذِرْ (٢) إلى (وَالرُّجْزَ فَاهْجُر (٥) (المدثر: ١-٥) .
وثمت آيات يقال فيها: أول ما نزل، والمراد أول ما نزل باعتبار شيء معين، فتكون أولية مقيدة مثل: حديث جابر رضي الله عنه في ((الصحيحين)) (٣) . إن أبا سلمة بن عبد الرحمن سأله:
أي القرآن أنزل أول؟ قال جابر: (يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ) (المدثر: ١) قال أبو سلمة: أنبئت أنه
(اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ) (العلق: ١) فقال جابر: لا أخبرك إلا بما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (جاورت في حراء فلما قضيت جواري هبطت ... )
فذكر الحديث وفيه: (فأتيت خديجة فقلت: دثروني، وصبوا علي ماء بارداً، وأنزل علي: (يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ) (المدثر: ١) إلى قوله: (وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ) (المدثر: ١-٥)) .

فهذه الأولية التي ذكرها جابر رضي الله عنه باعتبار أول ما نزل بعد فترة الوحي، أو أول ما نزل في شأن الرسالة؛ لأن ما نزل من سورة اقرأ ثبتت به نبوة النبي صلى الله عليه وسلم، وما نزل من سورة المدثر ثبتت به الرسالة في قوله (قُمْ فَأَنْذِرْ) (المدثر: ٢)
ولهذا قال أهل العلم: إن النبي صلى الله عليه وسلم نبئ ب (اقْرَأْ) (العلق: ١) وأرسل ب الْمُدَّثِّرُ) (المدثر: ١)




(١) أخرجه البخاري، كتاب ب دء الوحي، باب ١: كيف كان بدء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ... ، أصول في التفسير، حديث رقم ٣؛ ومسلم كتاب الإيمان باب ٧٣: بدء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، حديث رقم ٤٠٣ {٢٥٢} ١٦٠.
(٢) أخرجه البخاري، كتاب بدء الوحي، باب ١: كيف كان بدء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، حديث رقم ٤؛ ومسلم كتاب الإيمان باب ٧٣: بدء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، حديث رقم ٤٠٦ {٢٥٥} ١٦١.
(٣) أخرجه البخاري، كتاب التفسير، باب ٣ قوله: (يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ) حديث رقم٤٩٢٤؛ ومسلم كتاب الإيمان باب ٧٣: بدء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، حديث رقم ٤٠٩ {٢٥٧} ١٦١
  

Penjelasan Surat Al-Maidah Ayat 1


Diterjemahkan dari Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 135-137
Ayat yang ke-3:
Firman Alloh -ta'ala-:
أُحِلَّتۡ لَكُم بَهِيمَةُ ٱلۡأَنۡعَٰمِ إِلَّا مَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ غَيۡرَ مُحِلِّي ٱلصَّيۡدِ وَأَنتُمۡ حُرُمٌۗ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ مَا يُرِيدُ

"Hewan ternak dihalalkan bagimu, kecuali yang akan disebutkan kepadamu, dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram (haji atau umrah). Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki" (QS Al-Ma'idah: 1)

"...dihalalkan bagimu..." yang menghalalkan adalah Alloh -azza wa jalla-. Demikian pula Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- juga menghalalkan dan mengharamkan namun dengan izin dari Alloh -azza wa jalla-.
Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
أحلت لنا ميتتان ودمان
"Dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah".
Dan beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- berkata: "sesungguhnya Alloh mengharamkan atas kalian" yang demikian beliau mengkhabarkan hal tersebut diharamkan. Terkadang beliau mengharamkan suatu yang disandarkan pada diri beliau sendiri namun dengan izin dari Alloh.

Makna بهيمة الأنعام (binatang ternak) yaitu onta, sapi dan kambing. Dan الأنعام  jama' dari نعم. Sebagaimana أسباب jama' dari سبب.
FirmanNya بهيمة dinamakan demikian karena tidak berbicara.
*FirmanNya إِلَّا مَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ "...kecuali yang akan disebutkan kepadamu.." yakni kecuali yang akan disebutkan kepada kalian dalam surat ini yang disebutkan dalam firmanNya -ta'ala-:

حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحۡمُ ٱلۡخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيۡرِ ٱللَّهِ بِهِۦ

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah"(QS Al-Ma'idah: 3)

Istisna' (pengecualian) di sini ada yang terpisah dan ada yang tersambung. (Pengharaman)Bangkai yang berasal binatang ternak maka ini bersambung. Sedangkan (pengharaman) daging babi maka ini terpisah sebab babi tidak termasuk binatang ternak.

* FirmanNya: غَيۡرَ مُحِلِّي ٱلصَّيۡدِ "dengan tidak menghalalkan berburu"  yaitu orang yang membunuhnya ketika ihram; karena orang yang melakukan sesuatu seakan seperti orang menghalalkannya. Dan ٱلصَّيۡدِ hewan darat liar yang boleh dimakan. Ini adalah berburu yang diharamkan dalam ihram.

Dan firmanNya:
إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ مَا يُرِيدُ
"Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki"
Ini adalah iradah (kehendak) syar'iyyah karena pada kedudukan pensyariatan. Dan bisa juga dikatakan iradah syar'iyyah kauniyah. Dan kita membawa penafsiran hukum kepada hukum kauni dan syar'i. Maka apa pun yang dikehendakiNya secara kauni maka Dia menetapkannya atau menjadikannya terjadi. Dan apa yang Dia kehendaki secara syar'i maka Dia menetapkannya dan untuk para hambaNya.

Dalam ayat ini terdapat nama Alloh yaitu: Alloh. Dan di antara sifatNya yaitu: At-Tahlil (penghalalan), Al-Hukmu (penetapan) dan Al-Iradah (kehendak).

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)