“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Minggu, 03 Maret 2019

Pokok-Pokok Rukun Iman - Iman Kepada Para Malaikat

Perkataan Penulis: و ملائكته
✔ Dan malaikat-malaikatNya. Malaikat jama' dari 'Malauk', dan asal 'malauk': 'Ma'lak', berasal dari al-Alukah. Dan Al-Alukah secara bahasa artinya 'ar-risalah'. Alloh ta'ala berfirman:
جَاعِلِ الْمَلائِكَةِ رُسُلاً أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى

"yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, dua.." (QS Al Fathir: 1)

Para malaikat adalah makhluk ghaib, Alloh 'azza wa jalla menciptakannya dari cahaya. Alloh menjadikan mereka hamba yang patuh dan tuduk kepadaNya. Setiap mereka memiliki tugas-tugas yang Alloh khususkan untuk mereka. Kita mengetahui diantara tugas-tugas mereka:
Pertama: Jibril, diberi tugas menyampaikan wahyu. Dia turun membawa wahyu dari Alloh -ta'ala kepada para Rasul.
Kedua: Israfil diberi tugas meniup terompet. Dan dia juga salah satu malaikat pemikul Arsy.
Ketiga: Mikail diberi tugas mengatur hujan dan tanam-tanaman.

Ketiganya inilah masing-masing diberi tugas yang menangani urusan yang ada kehidupan di dalamnya. Jibril diberi tugas menyampaikan wahyu yang didalamnya ada kehidupan hati. Mikail mengatur hujan dan tanam-tanaman yang merupakan kehidupan bagi bumi. Israfil meniup sangkakala yang padanya ada kehidupan jasad-jasad pada hari kiamat.

Oleh karenanya, Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bertawasul dengan ketuhanan Alloh atas mereka dalam doa istiftah pada sholat malam.

اللهم رب جبرائيل وميكائيل وإسرافيل، فاطر السماوات والأرض، عالم الغيب والشهادة، أنت تحكم بين عباد فيما كانوا فيه يختلفون، اهدني لما اختلف فيه من الحق بإذنك. إنك تهدي من تشاء إلى صراط مستقيم
"Ya Alloh, Tuhannya Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta langit dan bumi. Rabb yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Engkau memutuskan diantara hambaMu perkara yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku kepada kebenaran terhadap perkara yang mereka perselisihkan dengan idzinMu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada orang yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus".¹

Ini adalah do'a yang beliau ucapkan dalam sholat malam dengan bertawasul kepada keTuhanan Alloh terhadap mereka (para malaikat). Demikian pula kita mengetahui bahwa diantara mereka ada yang ditugasi mencabut ruh manusia, atau mencabut ruh setiap makhluk yang bernyawa, mereka adalah malaikat maut dan para pembantunya -dan bukan Izrail-, karena tidaklah dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bahwa namanya itu. Alloh ta'ala berfirman:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ

"Sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya.(QS Al-An'am: 61)
Alloh ta'ala berfirman:

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ

"Katakanlah, “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu.” (QS As Sajdah: 11)
Alloh ta'ala berfirman:
اللَّهُ يَتَوَفَّى الأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا

"Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya" (QS Az Zumar: 42)

Tidak ada pertentangan antara ketiga ayat di atas, karena sesungguhnya malaikatlah yang mencabut ruh. Tatkala malaikat maut mengeluarkan nyawa dari badan, maka bersamanya ada para malaikat. Tatkala seseorang dari penghuni surga, maka para malaikat tersebut membawa hanuth (wewangian kematian) dari surga dan kafan dari surga. Mereka mengambil ruh yang baik ini dan meletakkannya di kafan tersebut. Lalu mereka membawa naik kepada Alloh 'azza wa jalla sampai dia berada dihadapan Alloh -azza wa jalla-, lalu Alloh berfirman: "Tulislah kitab hambaku ini di Illiyyin dan kembalikanlah dia ke bumi. Maka ruhnya dikembalikan ke jasadnya untuk ditanya: Siapa Robbmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu?
Dan jika yang mati bukan seorang mukmin -dan kita mohon perlindungan kepada Alloh dari hal itu-

Maka turun para malaikat yang membawa kafan dari neraka dan bau-bauan dari neraka. Mereka lalu mengambilnya dan meletakkannya di kafan tersebut. Kemudian mereka membawanya naik ke langit. Namun pintu-pintu langit tertutup bawahnya, lalu dia dilemparkan ke bumi. Alloh ta'ala berfirman:
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

"Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh". (QS Al Hajj: 31)

Kemudian Alloh ta'ala berfirman: "Tulislah kitab hambaKu ini di Sijjin"² Kita memohon keselamatan kepada Alloh.

Mereka ini adalah malaikat yang diberi tugas memegang ruh dari Malaikat Maut apabila dia telah mencabutnya. Dan malaikat Maut adalah yang secara langsung mencabut ruhnya, dengan demikian tidak ada pertentangan. Dan Alloh yang memerintahkan untuk melakukannya, dengan demikian Dialah yang pada hakekatnya yang mewafatkan.

Diantara mereka ada malaikat yang berkeliling di bumi, mereka mendatangi majelis dzikir. Apabila mendapati halaqah (perkumpulan) dzikir dan ilmu mereka pun duduk. ³
Demikian pula di sana ada malaikat yang bertugas menuliskan amalan hamba.
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَاماً كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
"Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (amal perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS Al Infithar: 10-12)
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)". (QS Qaf: 18).

Salah seorang sahabat Imam Ahmad -rahimahulloh menemui beliau ketika beliau sedang sakit. Ia mendapati beliau merintih karena sakit. Maka ia berkata kepada beliau: Wahai Abu Abu Abdillah! Engkau merintih. Sungguh Thowus pernah berkata: Sedungguhnya Malaikat mencatat amalan hamba bahkan sampai rintihan orang yang sakit. Alloh ta'ala berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)". (QS Qaf: 18).
Maka Imam Ahmad pun bersabar dan tidak merintih.⁴

Segala sesuatu akan ditulis مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ "Tidak ada suatu kata yang diucapkannya". Min (من) adalah zaidah (tambahan) untuk penekanan suatu yang umum, yakni maksudnya perkataan yang kau ucapkan. Tertulis tetapi akan diberi balasan padanya dengan kebaikan atau keburukan, tergantung perkataan yang diucapkannya.

Di antaranya juga ada malaikat yang menyertai manusia malam dan siang.

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ
"Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah". (QS Ar-Ra'd: 11)
Di antara mereka ada malaikat-malaikat yang ruku' dan sujud kepada Alloh di langit. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:
"أطت السماء، وحق لها أن تئط
"Langit berderit, dan selayaknya langit berderit".
Al-Athith: "Suara berderitnya pelana", yaitu jika onta mengangkat beban berat. Terdengar suara deritan karena beratnya beban. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:
أطت السماء، وحق لها أن تَئِط ما من موضع أربع أصابع منها، إلا وفيه ملك قائم لله أو راكع أو ساجد
"Langit berderit, dan wajar baginya berderit. Tidaklah ada tempat selebar empat jari di langit kecuali di situ ada malaikat yang sedang berdiri kepada Alloh, atau ruku' atau sujud"⁵
Pada luasnya langit di situ ada para malaikat.

Oleh karenanya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda, di Baitul Ma'mur yang beliau lewati pada saat malam mi'raj, beliau bersabda:
يطوف به (أو قال: يدخله) سبعون ألف ملك كل يوم، ثم لا يعودون إلى آخر ما عليهم

"Para malaikat berthawaf padanya(atau beliau berkata: memasukinya) sebanyak 70.000 malaikat setiap hari. Mereka tidak kembali lagi, lalu malaikat yang lain masuk bergantian dengan mereka".
Makna 'setiap hari datang 70.000 malaikat bukan malaikat yang datang kemarin. Dan mereka selamanya tidak akan kembali lagi ke situ. Datang malaikat yang lain lagi bukan malaikat yang sebelumnya. Ini menunjukkan banyaknya malaikat. Oleh karenanya Alloh ta'ala berfirman:
وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلاّ هُوَ
"Tidak ada yang mengetahui tentara Robbmu kecuali Dia (sendiri)" (QS Al Muddatsir: 31)

Diantara mereka ada malaikar yang diberi tugas menjaga surga dan menjaga neraka.
يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّك
Wahai (Malaikat) Malik! Biarlah Tuhanmu mematikan kami saja.” (Az Zukhruf:77).
Yakni: biarlah Tuhanmu membinasakan dan mematikan kami. Mereka meminta kepada Alloh agar mematikannya, karena mereka berada dalam siksaan yang mereka tidak kuat menerimanya. Maka malaikat Malik berkata إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ "Sesungguhnya kalian akan tetap tinggal di dalamnya"
Kemudian dikatakan kepada mereka:
لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ
"Sungguh, Kami telah datang membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu". (QS Az Zukhruf 78)
Intinya: wajib bagi kita beriman kepada para malaikat. Dan bagaimana beriman kepada para malakat?

Kita beriman bahwa mereka adalah makhluk ghaib yang tidak nampak. Namun kadang-kadang nampak. Hanya saja secara asal mereka adalah ghaib, diciptakan dari cahaya, dan diberi tugas dengan tugas yang Alloh bebankan kepada mereka berupa macam-macam ibadah dan mereka tunduk patuh kepada Alloh azza wa jalla dengan sesempurnanya ketundukan.
{لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ}
"yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (QS At Tahrim: 6)
Demikian pula kita mengimani nama-nama yang dijelaskan kepada kita dan mengimani tugas-tugas mereka yang diterangkan kepada kita. Dan wajib bagi kita mengimani tentang apa yang dijelaskan kepada kita.
Mereka adalah mahluk yang memiliki jasad, berdasarkan firman Alloh ta'ala:
جَاعِلِ الْمَلائِكَةِ رُسُلاً أُولِي أَجْنِحَة
"Alloh yang telah menciptakan para Malaikat sebagai utusan-utusan yang memiliki sayap-sayap" (QS Fathir: 1)

Dan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- pernah melihat Jibril dalam wujud aslinya yang diciptakan dengan memiliki 600 sayap menutup ufuk⁷. Ini berbeda dengan orang yang mengatakan bahwa mereka ini adalah ruh.
Jika ada yang berkata: Apakah mereka memiliki akal? Kami tanyakan kepadamu, Apakah engkau memiliki akal? Yang bertanya seperti ini adalah orang gila. Alloh ta'ala telah berfirman:
{لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ}
"yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (QS At Tahrim: 6)
Bahkan mereka dipuji dengan pujian seperti ini dan merela tidak memiliki akal?
يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لا يَفْتُرُون
"Mereka bertasbih tiada henti siang dan malam" (QS Al Anbiya: 20)
Apakah kita akan mengatakan bahwa mereka tidak memiliki akal? Mereka patuh terhadap perintah Alloh, dan melaksanakan apa yang diperintahkanNya, dan mereka menyampaikan wahyu, dan kita katakan mereka tidak memiliki akal? Yang lebih layak disifati tidak punya akal adalah orang yang berkata: Malaikat tidak punya akal.

Note:
1. Dikeluarkan oleh Muslim (770) dari Aisyah -radhiyallohu 'anha- dalam kitab Sholatul musafirun/bab ad dua'u fi sholatil lail wa qiyamihi.

2. Riwayat Ahmad (4/287), Abu Dawud/ Kitabus Sunnah/Bab fil masalati fil qobri, Abu Dawud (4753) dan selain keduanya. Dan Al Hakim (1/93) dan dia berkata: Shahih berdasarkan syarat Asy-Syaikhoin. Dan Ad Dzahabi menetapkannya, dan Al Haitsami berkata: Diriwayatkan Ahmad dan perawinya perawi-perawi shahih" 3/48. Bisa dilihat di Ahkamul Janaiz wa bida'uha oleh Syaikh Al Albani hal 156.

3. Sebagaimana yang diriwayatkan Al Bukhari (6408) dalam kitab Ad Da'waat; bab Fadhlu dzikrillah azza wa jalla. Muslim (2689) dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
إن لله ملائكة يطوفون في الطرق يلتمسون أهل الذكر, وجدوا قوماً يذكرون الله تعالى تنادوا هلما إلى حاجتكم. قال فيحفونهم بأجنحتهم إلى السماء الدنياء
"Sesungguhnya Alloh memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di jalan-jalan mencari ahlu dzikir. Mereka mendapati suatu kaum yang berdzikir kepada Alloh ta'ala, mereka menyeru: kemarilah!! inilah yang kalian cari". Beliau berkata: "Mereka mengelilinginya dengan sayap-sayapnya sampai ke langit dunia".
Lafadz Al Bukhari dalam kitab Ad Da'waat / Bab Fadhlj Majalis ad dzikr.

4. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sholih bin Imam Ahmad, dia berkata: Bapakku berkata di saat sakit menjelang wafatnya: Keluarkan Kitab Abdullah bin Idris. Lalu ia berkata: "Bacakan kepadaku hadits Laits: Sesungguhnya Thowus membenci rintihan ketika sakit. Maka aku tidak lagi mendengar Bapakku merintih sampai meninggalnya. "Siyar A'lamin Nubala (11/215).

5. Diriwayatkan oleh Ahmad (5/173), At Tirmidzi (2312) dalam kitab Az Zuhud bab perkataan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam لو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلاً, Ibnu Majah (4190) dalam kitab Az Zuhud bab Al Huznu wal Baka', Al Hakim (2/510) dari Abu Dzar -radhoyallohu 'anhu- dan lafadznya:
أطت السماء وحق لها أن تئط, ما فيها موضع أربع أصابع إلاّ عليه ملك واضع جبهته ساجداً لله ...
"Langit berderit, dan sepantasnya dia berderit. Tidaklah ada tempat seluas empat jari kecuali ada pada malaikat yang meletakkan dahinya sujud kepada Alloh..."
Hadits ini dikeluarkan Al-Albani dalam As-Shohihah (1722)

6. Diriwayatkan oleh Muslim (162) dari hadits Anas dalam kisah Isra' Kitabul Iman bab Al Isra'.

7. Diriwayatkan oleh Al Bukhari (3232, 3233) dari Ibnu Mas'ud -radhiyallohu 'anhu dalam kitab bada'il kholqi bab:
إذا قال أحدكم "آمين" والملائكة في السماء فوافقت أحدهما الأخرى غفر له ما تقدم من ذنبه.
(Apabila salah seorang di antara kalian mengucapkan "amiiin" dan malaikat di langit berbarengan dengannya, maka diampuni dosanya yang telah lalu).

*****************
Diterjemahkan dari Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Utsaimin -rahimahulloh-

Pokok-Pokok Rukun Iman: Iman kepada Alloh

✔ Perkataan penulis -rahimahulloh-:

"وهو الإيمان بالله, وملائكته, وكتبه, ورسله, والبعث بعد الموت, والإيمان بالقدر خيره وشره".

"Yaitu iman kepada Alloh, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rosulNya, kebangkitan setelah kematian, dan keimanan kepada Qodar(taqdir) yang baik ataupun yang buruk".

Penjelasan:
Ini adalah aqidah yang telah dibangun pondasinya oleh Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- untuk kita, ketika beliau menjawab pertanyaan Jibril yang bertanya kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- tantang apa itu iman? Apa itu Islam? Apa itu ihsan? Dan kapan datangnya hari kiamat. Beliau bersabda kepada Jibril:

"أن تؤمن بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، والقدر خيره وشره"
"Engkau beriman kepada Alloh, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir, dan qadar yang baik maupun yang buruk. (HR Muslim no. 8 dari hadits Umar bin Khottob -radhiyallohu 'anhu dalam kitab Al Iman pada bab Bayan arkanul Iman wal Islam)

✔ "Iman kepada Alloh". Al Iman secara bahasa: banyak yang mengatakan: yaitu at-tashdiiq (pembenaran). Aku membenarkan dan aku mengimani makna keduanya adalah satu secara bahasa. Dan telah berlalu penjelasan kami bahwa perkataan ini tidaklah benar. Akan tetapi Al Iman secara bahasa:  Menetapkan sesuatu yang telah dibenarkan (diyakini). Buktinya engkau mengatakan:  Aku mengimani yang demikian dan aku membenarkannya. Dan aku membenarkan si Fulan, dan engkau tidak mengatakan: Aku beriman kepada fulan.
Dengan demikian, iman memiliki makna tambahan dari hanya sekedar tashdiiq (pembenaran), yaitu penetapan dan pengetahuan yang mengharuskan menerima khabar-khabar dan kepatuhan terhadap hukum-hukum. Inilah iman.

Adapun sekedar engkau meyakini bahwa Alloh itu ada, ini bukanlah iman, sampai keyakinan ini melahirkan kelaziman dalam menerima khabar-khabar dan kepatuhan terhadap hukum-hukum. Jika tidak, makan bukanlah iman namanya.

Dan iman kepada Alloh mencakup 4 hal:
1. Iman akan wujud Alloh -subhanahu wa ta'ala-.
2. Iman kepada Rububiyyah Alloh, yakni pengesaan terhadap RububiyyahNya.
3. Iman terhadap keesaan Alloh dalam uluhiyahNya.
4. Iman kepada Nama-nama dan Shifat-shifatNya.
Tidak mungkin bisa merealisasikan iman kecuali dengan hal tersebut.
Barang siapa yang tidak beriman dengan wujudnya Alloh, dia bukanlah seorang mukmin. Dan barang siapa yang beriman kepada wujud Alloh tapi tidak mengimani keesaan Alloh dalam Rububiyah, maka dia bukan orang mukmin. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh, dan mengesakan dalam Rububiyahnya, namun tidak beriman kepada UluhiyahNya, maka dia bukanlah seorang mukmin. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh, mengesakannya dalam Rububiyah dan UluhiyahNya, namun tidak beriman kepada Asma (nama) dan shifat-shifatNya, maka dia juga bukan seorang mukmin. Meski yang terakhir ini, terkadang menghapuskan iman secara keseluruhan dan terkadang juga menghapuskan kesempurnaan iman.

Iman kepada Wujud Alloh:
Apabila yang bertanya: "Apa buktinya bahwa Alloh azza wa jalla itu ada? Kita jawab: Bukti akan adanya Alloh adalah (berdasarkan): akal, indra, dan syar'i. Ketiganya ini memberikan bukti akan adanya Alloh. Jika mau, engkau bisa menambahkan: fitrah. Sehingga bukti akan adanya Alloh ada 4 yaitu: Akal, Indra, Fitrah dan Syar'i. Kami mengakhirkan bukti secara syar'i bukan karena tidak layak untuk didahulukan, akan tetapi kita sedang berbicara dengan orang yang tidak mengimani syariat.

✔ Adapun bukti secara akal, kita katakan: Apakah adanya segala sesuatu ini ada dengan menciptakan dirinya sendiri, atau ada dengan tiba-tiba begitu saja? Jika engkau mengatakan: ada karena menciptakan dirinya sendiri. Maka hal ini tidak masuk akal selama sesuatu itu tidak ada. Bagaimana sesuatu itu menjadi ada padahal ia tidak ada? Sesuatu yang tidak ada tidaklah ada sampai ia diciptakan. Sehingga tidak mungkin sesuatu itu menciptakan dirinya sendiri. Jika engkau mengatakan: ada dengan sendirinya. Maka kami katakan pula: ini juga mustahil. Maka engkau, wahai orang yang mendustakan, apakah adanya pesawat-pesawat, roket-roket, mobil-mobil, dan berbagai peralatan dengan berbagai modelnya, apakah ada dengan sendirinya?
Maka dia akan berkata: tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Demikian pula burung-burung, gunung-gunung, matahari, bulan, bintang-bintang, pepohonan, bebatuan, pasir-pasir, lautan dan yang selain itu, tidak mungkin terjadi dengan sendirinya -selamanya.

Dan dikisahkan: Ada sekelompok orang Atheis yang datang kepada Abu Hanifah -rahimahulloh-, yang berasal dari India. Mereka berdebat dengan beliau dalam masalah penetapan Al Kholik (Pencipta) 'azza wa jalla. Dan Abu Hanifah adalah salah seorang ulama yang cerdas. Maka beliau menjanjikan agar mereka datang lagi sehari atau dua hari lagi. Maka mereka pun datang lagi. Mereka berkata: "Apa yang akan kamu sampaikan?". (Abu Hanifah berkata)Saya sedang memikirkan sebuah kapal yang penuh dengan barang dagangan dan kebutuhan(untuk manusia) yang datang dengan mengarungi gelombang samudera, sampai ke pelabuhan dan menurunkan muatannya kemudian pergi, tanpa nahkoda dan pengangkut barang.
Mereka berkata: Engkau berfikir demikiab? Beliau menjawab: Ya. Mereka berkata: "Jika demikian, kau tidak memiliki akal. Apakah masuk akal bahwa suatu kapal datang tanpa nahkoda, berlabuh lalu berangkat pergi? Ini tidak masuk akal. Beliau berkata: "Kenapa tak masuk akal kalian? Padahal menurut kalian masuk akal bahwa langit, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, binatang-binatang, dan manusia seluruhnya ada tanpa pencipta?" Pahamlah mereka bahwa beliau ini berbicara dengan logika mereka. Dan mereka tidak mampu menjawabnya.

Dan dikatakan kepada orang arab Baduwi dari Badiyah: Bagaimana engkau mengetahui Rabbmu? Dia berkata: Bekas itu menunjukkan adanya pelaku. Langit yang memiliki bangunan tinggi, bumi yang memiliki jalan-jalan, samudra yang memiliki gelombang, bukankah itu menunjukkan kepada Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat? Oleh karenanya, Alloh 'azza wa jalla berfirman:
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُون

"Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?"(QS At-Tur: 35)

Maka dengan demikian, akal menjadi petunjuk yang jelas akan adanya wujud Alloh.

✔ Adapun bukti dengan hissi (indera) akan adanya Alloh, yaitu bahwasannya manusia berdoa kepada Alloh 'azza wa jalla, dan berkata: Ya Robb! Dan meminta sesuatu kemudian diperkenankan do'anya. Dan ini bukti perasaannya, yaitu jiwanya tidaklah memohon kecuali kepada Alloh, dan Alloh mengabulkan untuknya. Dia menyaksikan hal itu dengan mata kepalanya. Demikian itu kita mendengar dari orang-orang terdahulu dan orang-orang pada zaman kita sekarang, bahwasannya Alloh mengabulkan baginya.

Seorang Arab Baduwi yang menemui Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- ketika beliau sedang berkhutbah di hadapan manusia pada hari Jumat, ia berkata: Harta-harta kami telah musnah dan jalan-jalan telah terputus, berdoalah kepada Alloh untuk kami agar Dia menurunkan hujan.

Anas bin Malik berkata: "Demi Alloh, tidaklah ada di langit gumpalan awan ataupun mendung, tidak pula ada diantara kami dan gunung Sala' (gunung di kota madinah yang datang awan dari arahnya), tidak pula dari arah rumah dan pemukiman...setelah do'anya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam tiba-tiba muncul awan berarak seperti perisai dan meninggi, menyebar, muncul guruh dan petir, lalu turun hujan.

Tidaklah Rasululoh -shollallohu 'alaihi wa sallam- turun (dari khotbah) kecuali air hujan bercucuran dari jenggot beliau -. shollallohu 'alaihi wa sallam- (Diriwayatkan Al Bukhadi 1033 dalam Kitabul Istisqa/Bab Istisqa' fi khutbatil Jum'ah. Muslim 897 dari hadits Anas -radhiyallohu 'anhu- dalam kitabus Sholatil Istisqa/Bab Dua al Istisqa')

Ini adalah perkara nyata yang menunjukkan akan adanya Sang Pencipta dengan bukti hissiyah (perasaan).
Dan dalam Al Qur'an banyak yang seperti ini, misal:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ فَاسْتَجَبْنَا لَه
Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Maka kami kabulkan doa'nya”(QS Al Anbiya' 83-84)

✔ Adapun dalil fithrah, sesungguhnya kebanyakan manusia yang tidak melenceng fitrahnya meyakini akan adanya Alloh, sampai pun binatang-binatang ternak beriman akan adanya Alloh. Kisah semut yang diriwayatkan dari Sulaiman -alaihis sholatu wa sallam-. Beliau keluar untuk memohon hujan, lalu beliu mendapati seekor semut yang terlentang pada punggungnya, kaki-kakinya tengadah ke langit, berdoa: Ya Alloh, aku adalah hamba di antara para hambamu, maka janganlah engkau halangi dari kami air (hujan)Mu. Maka beliau berkata: "Kembalilah kalian, sesungguhnya kalian telah diberi hujan dengan doa selain kalian" (As Suyuti menisbatkannya kepada Ibnu Abi Syaibah dalam Ad darrul Mantsur. Dan Ahmad dalam Az Zuhud. Ibnu Abi Hatim dari Abu Shodiq An Naji. Silahkan dilihat dalam Ijtima'uj Juyusy oleh Ibnul Qoyyim hal 328,321)

Maka fithrah diciptakan untuk mengenal Alloh -azza wa jalla- dan mengesakannya. Dan Alloh ta'ala telah mengisyaratknn hal itu dalam firmanNya:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ .أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ ۖ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”
Atau agar kamu mengatakan, “Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah keturunan yang (datang) setelah mereka. (QS Al A'raf: 172-173)

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan dengan fitrahnya untuk mengakui adanya Alloh dan rububiyyahnya. Sama saja apakah kita mengatakan: "Sesungguhnya Alloh mengeluarkan mereka dari punggung Adam dan meminta persaksian mereka", ataupun kita katakan: "Ini adalah sesuatu yang Alloh ta'ala sertakan kepada fitrah mereka berupa persaksian tentangnya". Sesungguhnya ayat ini menunjukkan bahwa manusia mengetahui Robbnya dengan fitrahnya.
Inilah empat bukti yang menunjukkan akan adanya Alloh -ta'ala-.

✔ Adapun dalil Syar'i, yakni karena syariat Alloh ta'aa yang dibawa para rasul mencakup seluruh perkara yang memperbaiki keadaan makhluk menunjukkan bahwa Dzat yang mengutus membawanya adalah Rabb yang Rahim (Maha Penyayang) lagi Hakim (Maha Bijaksana). Terlebih lagi Al-Qur'an yang Mulia ini yang manusia dan jin tidak mampu membuat yang semisalnya.

*****************
Diterjemahkan dari Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Utsaimin -rahimahulloh-

Siapakah Al-Firqatun Najiyyah?

✔Perkataan penulis:
"أماّ بعد؛ فهذا اعتقاد الفرقة الناجية المنصورة إلى قيام الساعة؛ أهل السنة والجماعة".
"Amma ba'du, ini adalah keyakinan Al Firqah(golongan) yang selamat dan ditolong (oleh Alloh) sampai tegaknya hari kiamat, Ahlus Sunnah wal Jama'ah".

Penjelasan امّا ini adalah pengganti dari isim syarat dan fi'ilnya. Taqdirnya: "bagaimana pun juga kondisinya". Ibnu Malik berkata:

أما كمهما يك من شيء وفا ... لتلو تلوها وجوباً ألفا
(artinya) اما seperti seperti "mahma yakun min syaiin" (apa pun kondisinya). Dan huruf fa' untuk diikutkan dan pengikutannya wajib dituliskan.

Maka perkataan mereka: amma ba'du taqdirnya adalah:
مهما يكن من شيء بعد هذا، فهذا
"Apa pun kondisinya setelah ini, maka inilah..."

Demikian pula, huruf fa' di sini sebagai penghubung bagi jawaban dan kalimat setelahnya pada posisi jazm sebagai jawab syarat. Dan menurutku memungkinkan makna "أما بعد، فهذا" yakni bahwa lafadz amma adalah huruf syarat dan tafshil (perincian) atau huruf syarat saja tanpa tafshil, sehingga taqdir (perkiraannya): "Adapun setelah menyebutkan ini, maka aku menyampaikan demikian dan demikian". Dan tidak ada pentingnya kami memperkirakannya dengan fiil syarat. Dan kami katakan, bahwa اما adalah huruf yang menggantikan kalimat.

✔ Perkataan penulis فهذا اعتقاد (maka ini adalah keyakinan). Lafadz فهذا (maka ini): penunjukkan yang mengharuskan kepada sesuatu yang ada. Tatkala saya berkata: "Ini..." maka saya menunjuk kepada sesuatu yang bisa diindra dan nampak. Di sini penulis menulis khotbah sebelum menulis kitab dan sebelum menyajikannya kepada khalayak umum. Bagaimana bisa?

Saya katakan: Para ulama mengatakan: Jika penulis menulis Kitab kemudian menulis muqaddimah dan khotbah maka yang disyaratkan kepadanya sesuatu yang ada dan bisa di indra dan tidak ada masalah dalam hal ini. Dan jika belum menulisnya maka penulis mengisyaratkan kepada apa yang ada dalam pikirannya tentang makna-makna yang akan dituliskannya di dalam kitab. Dan ada juga bentuk ketiga yaitu penulis berkata berdasarkan sudut pandang mukhotob (orang yang diajak bicara). Dan mukhotob tidaklah diajak bicara dengannya kecuali setelah kitab disebarkan dan diterbitkan. Seolah-olah dia berkata: "Kitab yang ada di hadapanmu ini isinya demikian dan demikian". Inilah ketiga kemungkinan tersebut.

✔ Kata اعتقاد 'i'taqada' adalah wazan افتعال dari العقد yaitu ikatan. Ini dari Sisi tasrif lughowi. Adapun dalam istilah menurut mereka yaitu hukum akal yang pasti. Dikatakan aku berkeyakinan seperti ini, yakni saya memastikan hal tersebut dalam hatiku. Itu adalah hukum akal yang pasti. Jika sesuai dengan kenyataan maka benar dan jika menyelisihi kenyataan maka fasad (salah). Kita berkeyakinan bahwasanya Allah adalah Ilah yang satu ini adalah shahih (benar), dan keyakinan Nasrani bahwa Allah adalah satu dari yang tiga, maka ini salah karena menyelisihi kenyataan. Dan bentuk pertaliannya dengan makna lughawi adalah jelas, karena hukum yang ada didalam hati terhadap suatu hal, seolah-olah ia terikat kepadanya yang mana tidak akan berpaling darinya.

Perkataan penulis: الفرقة Al Firqah, dengan mengkasrahkan huruf fa' bermakna thoifah (golongan). Alloh ta'ala berfirman:

فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ
"Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka". (QS At Taubah: 122).

Adapun furqoh, dengan mendhommahkan fa, maka ini diambilkan dari kata al iftiraq (perpecahan).

Dan الناجية "an najiyah" adalah isim fail dari نجا artinya selamat. Selamat di dunia dari bid'ah, dan selamat di akhirat dari api neraka.

Dan sisi pendalilannya bahwasannya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:
وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة، كلها في النار إلا واحدة" قالوا: من هي يا رسول الله؟ قال: "من كان على مثل ما أنا عليه وأصحابي
"Umatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu golongan". Shahabat bertanya: "Siapakah yang satu itu wahai Rasululloh?". Beliau bersabda: "Yaitu dia yang berada (pada agama) yang aku dan para shahabatku berada di atasnya"¹.

Hadits ini memberi penjelasan pada kita makna 'an-najiyah' (yang selamat). Maka siapa pun yang berada pada suatu agama yang Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan para shahabatnya di atasnya maka ia selamat dari bid'ah. Dan كلها في النار إلا واحدة (semuanya ada di dalam neraka kecuali satu): dengan demikian ia selamat dari api neraka. Keselamatan di sini, selamat dari bid'ah di dunia dan selamat dari neraka di akhirat.

Dan المنصورة إلى قيام الساعة (ditolong sampai datangnya hari kiamat). Penulis mengkabarkan hal itu sesuai dengan hadits, tatkala Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:

لا تزال طائفة من أمتي على الحق ظاهرين
"Senantiasa ada segolongan dari ummatku di atas al haqq(kebenaran) mereka menang"².

Makna dzuhur adalah intishor (tertolong), sebagaimana firman Alloh ta'ala:

فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ
"Lalu Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang". (QS Ash-Shof: 14).

Penolongnya adalah Alloh, para malaikatNya, dan kaum mukmin. Maka dia tertolong sampai datangnya hari kiamat. Mendapat pertolongan Robb Azza wa jalla, dari para malaikatnya, dan dari hamba-hambaNya yang beriman. Bahkan terkadang ditolong oleh jin. Jin menolongnya dengan menakut-nakuti musuhnya.

✔ Perkataan penulis إلى قيام الساعة artinya sampai datangnya hari kiamat. Ia ditolong sampai datangnya hari kiamat.
Di sini ada permasalahan, yaitu bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- mengkhabarkan hari kiamat terjadi kepada seburuk-buruk manusia ³. Dan bahwa hari kiamat tidak terjadi sampai tidak ada yang berucap: Alloh! Alloh!⁴ Maka bagaimana engkau mengkompromikan hal ini dengan perkataan: 'sampai datang hari kiamat?'

Jawab: dikatakan bahwa maksudnya adalah sampai dekat datangnya hari kiamat. Sebagaimana sabda beliau dalam riwayat lain:
حتى يأتي أمر الله
"Sampai datang urusan Alloh"⁵.

Atau Maksud 'الى قيام الساعة' yang lain, yaitu ajal mereka, atau kematian mereka, sebab orang yang mati artinya telah datang kiamatnya.

Akan tetapi pendapat pertama yang lebih dekat kepada kebenaran. Mereka ditolong sampai dekat dengan terjadinya hari kiamat. Kami membawakan penafsiran ini karena adanya dalil, dan penafsiran dengan dalil adalah diperbolehkan, sebab semuanya berasal dari sisi Alloh.

✔ Perkataan penulis أهل السنة والجماعة (Ahlus sunnah wal jamaah). Disandarkannya kepada sunnah sebab mereka berpegang teguh dengannya. Sedangkan Al Jamaah karena mereka berkumpul di atasnya. Jika dikatakan kepadamu: Bagaimana mengatakan: 'Ahlus sunnah wal jamaah', karena mereka ini jamaah, maka bagaimana bisa disandarkan sesuatu tersebut kepada dirinya?

Jawabnya: Berdasar asalnya kata jamaah bermakna ijtima' (berkumpul), ini adalah isim masdar. Ini menurut asalnya. Kemudian dinukilkan dari bentuk asal ini kepada suatu kaum yang berkumpul, dan berada di atasnya. Sehingga makna ahlus sunnah wal jamaah yaitu ahlus sunnah wal ijtima'. Mereka disebut ahlus sunnah sebab mereka berpegang teguh kepadanya dan bersatu di atasnya.

Oleh karenanya, firqah ini tidak berpecah belah sebagaimana perpecahan ahlul bid'ah. Kita mendapati ahlul bid'ah seperti Jahmiyyah mereka berpecah belah, Mu'tazilah berpecah belah, Rafidhoh berpecah belah, dan selainnya seperti ahlut ta'thil (meniadakan shifat Alloh) juga berpecah belah. Akan tetapi firqah ini bersatu di atas Al Haq. Meskipun terkadang terjadi beda pendapat di antara mereka, dengan perbedaan pendapat yang tidak memudharatkan. Perbedaan pendapat yang tidak menjadikan sesat antara satu dengan lainnya. Yakni, bahwasannya dada-dada mereka merasa lapang dengannya. Mereka bukan berselisih dalam permasalahan-permasalahan yang terkait aqidah. Misal: Apakah Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- melihat Rabb-nya dengan kedua matanya ataukah tidak? Dan misalnya juga: Apakah adzab kubur menimpa jasad dan ruh, atau menimpa ruh saja? Dan semisal permasalahan yang mereka perselisihkan. Akan tetapi ini permasalan-permasalahan yang terhitung far'iyyah(cabang) dari segi ushul, dan bukan permasalahan ushul. Kemudian, bersamaan dengan hal itu, apabila mereka berselisih pendapat, tidak menyesatkan antara mereka, berbeda dengan ahlul bid'ah. Dengan demikian, mereka berkumpul di atas sunnah, merekalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Dan dapat dipahami dari perkataan penulis -rahimahulloh- bahwa tidak termasuk dalam kelompok ini orang yang menyelisihi jalan mereka. Al-Asyairoh misalnya, dan Al Maturidiyyah, mereka tidak terhitung ahlus sunnah wal jamaah dalam permasalahan ini, sebab mereka menyelisihi metode yang dijalani oleh Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan para shahabatnya di dalam memberlakukan shifat-shifat Alloh -subhanahu wa ta'ala- sesuai hakekatnya.

Oleh karenanya, tidak benar orang yang berkata: Sesungguhnya Ahlus Sunnah wal Jamaah ada 3 yaitu: Salafiyun, Asy-'ariyun dan Maturidiyun, ini salah!!
Kami katakan: Bagaimana mungkin semuanya Ahlus Sunnah padahal mereka berbeda-beda?! Maka, bukankah setelah kebenaran itu kecuali kesesatan?! Dan bagaimana mungkin semuanya Ahlus Sunnah padahal antara satu dengan yang lain saling bertentangan?! Ini tidaklah mungkin, kecuali jika memungkinkan berkumpulnya dua hal yang bertolak belakang. Na'am. Jika tidak, maka tidak diragukan lagi bahwa salah satunya adalah yang ahlus sunnah. Maka siapa dia? Al Asy-ariyah, Maturidiyyah, ataukah salafiyyah? Kami katakan: Barang siapa yang sesuai dengan sunnah, maka dialah Ahlus sunnah. Dan barang siapa yang menyelisihi sunnah maka dia bukanlah Ahlus Sunnah. Kami katakan: As Salaf adalah Ahlus Sunnah wal jamaah.

Dan tidaklah benar pensifatan kepada selain mereka selamanya. Dan ucapan dilihat menurut hakikatnya. Agar kita melihat, bagaimana kita bisa memberikan julukan orang yang menyelisihi sunnah dengan Ahlus Sunnah? Tidak mungkin. Dan mana mungkin kita mengatakan tiga kelompok yang berbeda bahwasannya mereka ini bersatu? Persatuan macam mana? Ahlus sunnah wal jamaah adalah as Salaf secara aqidah, sampai yang terakhir menjelang hari kiamat. Apabila di atas sunnahnya Nabi shollallohu alaihi wa sallam dan para shahabatnya maka dia adalah seorang salafy.

==============
Catatan kaki:
1. Diriwayatkan At Tirmidzi (2641) Kitabul Iman, Bab Ma jaa'a fi iftiroqi hadzihil ummah. Al-Lalikai dalam Syarhus Sunnah 147. Al Hakim (1/129). Al-Ajuriy (15 & 16) dari hadits Abdulloh bin 'Amr -radhiyallohu 'anhuma- dengan sanadnya terdapat Abdurrahman bin Ziyad an'am Al Ifriqy yang dia dhoif karena buruk hafalannya. Akan tetapi hadits ini ada syahid dari Anas -radhiyallohu 'anhu- yang dikeluarkan At-Thobrony dalam Ad-Dhoghir (724) dan Al Uqaily dalam Ad-Dhu'afa'(2/262) sehingga terangkat menjadi hasan.

2. Diriwayatkan sejumlah shahabat -radhiyallohu 'anhum-, ini adalah hadits mutawatir, sebagaimana sebagaimana yang dikatakan: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam "Iqtidhaus Shirath" (1/69), Al Kitany dalam "Nadzmul Muntanashir" (94), AzZabidy dalam "Luqatul Laly al Muntanatsir" p68), Al Albany dalam Sholatul Idain (hal 39-40). Dikeluarkan Imam Bukgari dalam kitabul Manaqib/ bab sualul Musyrikina an yariyahumun Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam Ayah. Muslim dalam kitabul Imarah bab qouluhu shollallohu 'alaihi wa sallam " La tazalu thoifah..."

3. Diriwayatkan Muslim (2949) dari Abdulloh bin Mas'ud -radhiyallohu 'anhu- dalam 'kitabul fitan' bab 'qurbis sa'ah'.

4. Diriwayatkan oleh Muslim 148 dari Anas bin Malik -radhiyallohu 'anhu- dalam kitab Al-Iman bab dzahaabul Imani fi akhiriz zaman.

5. Diriwayatkan Al Bukhari 7312 dan Muslim 1920.

Diterjemahkan oleh Abu Unais Pati dengan beberapa editan dari Ust Abu Said -hafidzahulloh

Muqaddimah - Penjelasan Shalawat Kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-

Penulis berkata:
صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه وسلم تسليماً مزيداً
"Semoga Alloh melimpahkan sholawat dan salam kepada beliau, keluarga dan shahabat beliau, dan memberikan keselamatan tambahan"

Penjelasan:
Makna صلى الله عليه pendapat yang paling bagus dalam masalah ini adalah sebagaimana yang disampaikan Abu Al-'Aliyah -rahimahulloh-: "Sholawat Alloh kepada rasul-Nya adalah pujian kepada beliau di Al-Malaul A'la"¹. Adapun orang yang menafsirkan sholawat Alloh kepada beliau dengan rahmat, maka ini

pendapat yang lemah sebab rahmat diberikan kepada siapa saja. Oleh karenanya, para ulama bersepakat diperbolehkan engkau mengatakan: Fulan dirahmati Allah. Tapi mereka berbeda pendapat apakah boleh engkau mengatakan: Allah bershalawat kepada Fulan. Hal ini menunjukkan bahwa

sholawat bukankah rahmat dan juga, Allah ta'ala telah berfirman:
أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَة
"Mereka itulah orang-orang yang mendapat sholawat dan rahmat dari Tuhannya". (Al Baqarah: 157).

Dan athof (kata sambung) mengharuskan perbedaan. dengan demikian sholawat lebih khusus daripada rahmat, maka sholawat Allah kepada rasulNya adalah pujianNya kepada beliau di Malaul a'la.

Demikian pula ucapan penulis وعلى آله (dan kepada Aali beliau), kata 'Aali beliau' adalah pengikut agama beliau. Ini jika engkau menyebutkan kata Aali saja atau bersamaan (dengan kata) sahabat, maka kata ini bermakna pengikut di atas agama beliau sejak diutusnya beliau sampai hari kiamat. Dan dalil yang menunjukkan bahwasanya الآل (keluaga) bermakna pengikut di atas agama adalah firman Allah ta'ala tentang Aali Firaun:
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
"Kepada mereka diperlihatkan neraka, pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Lalu kepada malaikat diperintahkan), “Masukkanlah Fir‘aun dan Aali-nya (kaumnya) ke dalam azab yang sangat keras!” (QS Ghafir:46).
Maksudnya yaitu pengikut agamanya.

Adapun apabila engkau gabungkan dengan 'pengikut' dengan dikatakan: "آله وأتباعه", maka Aali disini maksudnya adalah kaum mukminin dari ahlul bait yakni yakni ahlul bait Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-.

Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak menyebutkan 'atbaa' (pengikut) di sini, beliau berkata: "آله وصحبه", maka kami katakan Aali beliau adalah pengikut beliau di atas agamanya. Dan sahabat beliau adalah setiap orang yang bersama dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam- beriman kepada beliau dan mati dalam keadaan iman. Lalu athaf (disertakannya penyebutan) sahabat kepada (aali) keluarga di sini adalah athaf sesuatu yang khusus kepada umum, karena kata shahabat lebih khusus daripada kemutlakan kata itbaa' (pengikut).

Ucapan penulis: وسلم تسليماً مزيداً "Semoga Alloh memberikan keselamatan tambahan". "Keselamatan" di dalamnya adalah keselamatan dari ketergelinciran,sedangkan dalam sholawat yaitu diperolehnya kebaikan-kebaikan.

Penulis menggabungkan dalam kalimat ini antara permohonan kepada Allah ta'ala agar merealisasikan kebaikan-kebaikan kepada nabiNya, dan yang paling utama yakni pujian kepada beliau di malaul a'laa dan memalingkan dari ketergeliciran, demikian pula kepada orang yang mengikuti Beliau.

Dan kalimat dalam ucapan beliau: "sholawat dan salam" adalah sebagai khobar secara lafadz, namun berupa permintaan secara makna, karena maksudnya di sini adalah do'a (permohonan).

Ucapan penulis: مزيداً bermakna 'yang bertambah' atau 'tambahan' dan maksudnya adalah keselamatan tambahan atas sholawat, sehingga menjadi permohonan keselamatan yang lain setelah sholawat.

Rasul menurut ahli ilmu adalah orang yang diberikan wahyu kepadanya berupa syariat dan diperintahkan untuk menyampaikannya (kepada umatnya). Beliau shallallahu alaihi wassalam diangkat menjadi nabi dengan: اقْرَأْ (Surat al-'Alaq 1-5) dan diutus menjadi rasul dengan surat Al-Mudatsir dengan firman Allah ta'ala: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ} "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan", sampai kepada ayat: {عَلَّمَ الأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ} "Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya". Ini adalah pengangkatan kenabian. Sedangkan ayat {يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ} "Wahai orang yang berselimut, bangun dan berilah peringatan" (QS Al-Muddatsir: 1-2) adalah pengukuhan kerasulan beliau -shallallahu alaihi wasallam-.

=============
Catatan kaki :
1. Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Abul 'Aliyah dalam tafsirnya tentang surat Al Ahzab pada bab: "Innalloha wa malaikatuhu yusholluna alan Nabiy" . Fath (8/532) dan Qadhi Ismail bin Ishaq Al-Jahdhomi memaushulkannya pada "Fadlus sholati 'alan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam " (95) dengan sanad hasan sebagaimana yang disampaikan syaikh Al-Albani.

Diterjemahkan oleh Abu Unais Pati, dengan beberapa editan Ust Abu Said -hafidzahulloh-

Muqaddimah - Penjelasan Dua Kalimat Syahadat

Penulis berkata:
وأشهد أن لا إله إلا الله، وحده، لا شريك له، إقراراً به وتوحيداً".
"Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhaq diibadahi dengan benar melainkan Alloh saja, tiada sekutu bagiNya, aku menetapkan dan mengesakanNya".

Penjelasan:
✔Arti أشهد bermakna 'aku membenarkan dengan hatiku, mengucapkan dengan lisanku sebab syahadat adalah pengucapan dan pengabaran sesuatu yang ada di hati. engkau ketika berada di sisi hakim bersaksi dengan haknya fulan atas fulan. engkau bersaksi dengan lisan mengungkapkan apa yang ada di dalam hati. Dan dipilih syahadat bukan iqror (pengucapan) sebab syahadat asalnya adalah menyaksikan sesuatu, yaitu hadir dan

melihatnya, maka seolah-olah pengabaran ini tentang apa yang ada dihatinya dan diucapkan dengan lisannya, seolah-olah dia melihat perkaranya dengan kedua matanya.

✔ Dan لا إله إلا الله maknanya yaitu لا معبودَ حقٌّ (tiada yang diibadahi dengan benar kecuali Alloh). Dengan demikian khobar لا dihilangkan (yaitu حقٌّ)
dan lafdzul jalalah (yaitu الله) sebagai badalnya.

✔Dan وحده لا شريك له : lafadz وحده (satu-satunya) adalah dari sisi makna adalah penekanan itsbat (penetapan). Sedangkan "لا شريك له (tiada sekutu bagiNya) adalah penekanan nafyi (peniadaan).

✔ Dan إقراراً به وتوحيداً (menetapkan dengannya dan mengesakan-Nya). Lafadz إقراراً adalah masdar, dan boleh juga engkau katakan: ini adalah maf'ul mutlaq karena berupa masdar maknawi dari ucapan beliau أشهد (aku bersaksi). Dan para pakar nahwu berkata: 'Jika masdar bermakna fi'il bukan berupa huruf-hurufnya maka itu adalah masdar maknawi, atau maf'ul mutlaq. Dan apabila bermakna fi'il dan (tersusun dari) huruf-hurufnya maka ini adalah masdar lafdzi. Jadi قُمْتُ قِياماً (aku berdiri tegap) adalah masdar lafdzi sedangkan ُقُمْت وُقُوفاً (aku berdiri tegap) adalah masdar maknawi. Demikian pula جَلَسْتُ جُلُوْساً (Aku duduk) adalah masdar lafdzi sedangkan ُجَلَسْت قعوداً (aku duduk) adalah masdar maknawi.

✔ Dan ucapan beliau وتوحيداً (mengesakan-Nya) adalah masdar yang menguatkan ucapan لا إله إلا الله.

Penulis Berkata:
وأشهد أن محمداً عبده ورسوله
"Dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya".

✔Penjelasan أشهد sebagaimana penjelasan kami yang telah lalu.

✔ Lafadz محمد (Muhammad) beliau adalah putra Abdulloh bin Abdul Mutholib Al Qurasyi Al Hasyimi yang merupakan anak keturunan Ismail bin Ibrahim -'alaihis sholatu wa salam-, manusia yang paling mulia nasabnya.

Nabi yang mulia ini adalah hamba Alloh dan utusanNya. Beliau adalah hamba yang paling kuat dalam beribadah kepada Alloh dan paling kuat dalam merealisasikan peribadahan kepada Alloh. Beliau -alaihis sholatu was salam- berdiri sholat malam sampai bengkak kedua kakinya. Dan dikatakan kepada beliau: Bagaimana engkau beribadah sedemikian rupa padahal dosa-dosamu telah diampuni Alloh baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Maka beliau berkata:
ﺃَﻓَﻼَ ﺃَﻛُﻮﻥُ ﻋَﺒْﺪًﺍ ﺷَﻜُﻮﺭًﺍ ‏
"Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang bersyukur?".

Karena Alloh -ta'ala- memuji hambaNya yang bersyukur, sampai Alloh berkata tentang Nuh -alaihis salam-
إِنَّهُ كَانَ عَبْداً شَكُوراً
"Sesungguhnya Nuh adalah hamba yang bersyukur"(QS Al Isra': 3).

Maka Nabi -alaihis sholatu was salam- ingin sampai pada kedudukan ini, dan beliau beribadah kepada Alloh dengan sebenar-benar ibadah kepadaNya. Oleh karenanya, beliau adalah manusia yang paling bertaqwa dan paling takut kepada Alloh, dan paling kuat dalam berharap apa yang ada di sisi Alloh -ta'ala-.

Beliau adalah hamba Allah dan konsekuensi dari peribadatannya kepada Allah adalah Beliau tidaklah mampu menimbulkan kemudhorotan dan memberikan kemanfaatan bagi dirinya sendiri dan orang lain dan tiada pula bagi Beliau memiliki hak Rububiyah sama sekali, bahkan beliau adalah hamba yang membutuhkan dan memerlukan Alloh, memohon dan berdoa kepadaNya, berharap dan takut kepadaNya. Bahkan Alloh memerintahkannya untuk memberitahukan dan menyampaikan secara tegas bahwa beliau tidak memiliki kuasa apa pun dalam permasalahan ini. Alloh berfirman:

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

"Katakanlah (Wahai Rusululloh), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS Al-A'raf: 188).

Dan Alloh memerintahkan kepada beliau untuk mengatakan:

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ
"Katakanlah (Wahai Rusululloh), “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS Al-An'am: 50).

Alloh juga memerintahkan beliau untuk mengatakan:

قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا ؛ قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا ؛
إِلَّا بَلَاغًا

"Katakanlah (Wahai Rusululloh), “Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan kebaikan.”
Katakanlah (Wahai Rusululloh), “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya. (Aku hanya) menyampaikan" (QS Al Jin: 21-23).

Lafadz الا adalah istitsna munqothi', maknanya yaitu menyampaikan penjelasan dan risalah dari Alloh.

Kesimpulannya bahwasannya Muhammad -semoga sholawat dan salam dari Alloh tercurah kepada beliau- adalah hamba Alloh, dan konsekwensi peribadahan ini tidak ada hak baginya sedikit pun dari perkara-perkara rububiyyah sama sekali.

Dan kalaulah Muhammad Rosululloh -semoga sholawat dan salam tercurah kepada beliau- demikian keadaannya, maka bagaimana sikapmu dengan hamba-hamba Alloh yang di bawah beliau?, Mereka tidak mampu memberikan mudharat dan manfaat pada diri mereka sendiri, tidak pula pada selainnya selamanya. Dengan demikian menjadi jelas bodohnya orang-orang yang menyeru orang-orang yang mereka klaim sebagai penolong-penolong selain Alloh -azza wa jalla-.

✔ Ucapan beliau: ورسوله (dan rasulNya). Ini juga sifat yang tidak boleh diberikan kepada seorang pun setelah Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- karena beliau adalah penutup para Nabi. Beliau adalah utusan Alloh yang telah sampai pada suatu tempat yang tidak dicapai seorang pun, bahkan juga tidak dicapai oleh para malaikat -sebagaimana yang kami ketahui-, kecuali para malaikat pemikul 'Arsy. Beliau sampai di atas langit ke tujuh, sampai kepada tempat terdengarnya suara pena-pena (penulis) taqdir yang Alloh -azza wa jalla- menetapkan (ketetapan-ketetapan) untuk hambaNya. Tidak ada seorang pun menurut pengetahuan kami yang sampai pada tingkatan ini. Dan Alloh -azza wa jalla- berbicara kepada beliau tanpa perantara. Alloh mengutus beliau kepada seluruh makhlukNya, dan menguatkan beliau dengan ayat-ayat yang agung yang tidak diberikan kepada manusia atau pun rasul-rasul sebelum beliau, yaitu Al Qur'an Al Adzim. Sesungguhnya Al Qur'an ini tidak ada bandingannya dengan mukjizat-mukjizat para nabi sebelumnya selamanya. Alloh ta'ala berfirman dalam masalah ini:
وَقَالُوا لَوْلا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَاتٌ مِنْ رَبِّهِ قُلْ إِنَّمَا الآياتُ عِنْدَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِم

Dan mereka (orang-orang kafir Mekah) berkata, ”Mengapa tidak diturunkan mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?” Katakanlah (Wahai Rusululloh), ”Mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Aku hanya seorang pemberi peringatan yang jelas. Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) yang dibacakan kepada mereka?" (QS Al-Ankabut: 50-51).

Ini cukup dari segala sesuatu, akan tetapi bagi orang yang memiliki hati atau orang yang mau mendengarkan sedangkan dia menyaksikan. Ada pun orang yang berpaling, maka dia akan berkata sebagaimana perkataan orang-orang sebelumnya: هذا أساطير الأولين (ini adalah dongeng orang-orang terdahulu).

Kesimpulannya: Bahwasannya Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam adalah Rasul Alloh dan penutup para nabi. Alloh menutup kenabian dan kerasulan dengan beliau juga, sebab kenabian telah tiada padahal kenabian ini lebih umum dari kerasulan, maka ketiadaan kerasulan lebih khusus lagi. Sebab ketiadaan yang umum mengharuskan ketiadaan yang khusus. Maka Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam adalah penutup para nabi.

Diterjemahkan oleh Abu Unais Lasmin pati dengan beberapa editan Ust Abu Said -hafidzahulloh-

Jumat, 01 Maret 2019

Muqaddimah - Makna Pujian Kepada Alloh

Perkataan Muallif -rahimahulloh-:

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيداً
"Segala puji bagi Alloh yang telah mengutus rasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq, agar Dia memenangkannya dari seluruh agama yang ada. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi".

Penjelasan:
✔Perkataan muallif:
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق
"Segala puji bagi Alloh yang telah mengutus rasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq"
Alloh ta'ala dipuji karena kesempurnaanNya dan atas nikmat-nikmat-Nya. Kita memuji Alloh 'azza wa jalla karena Dialah yang memiliki kesempurnaan sifat-sifat dan seluruh sisi. Dan kita memujiNya juga karena kesempurnaan nikmat dan kebaikan-Nya.

(وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ)
Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan. [QS An-Nahl 53].

Dan sebesar-besar nikmat yang Alloh karuniakan kepada makhlukNya adalah dengan diutusnya para nabi yang menjadi hidayah bagi makhlukNya. Oleh karenanya muallif berkata:
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق
"Segala puji bagi Alloh yang telah mengutus rasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq".

Dan yang dimaksud dengan Rasul di sini adalah "isim jenis". Seluruh rasul diutus dengan petunjuk dan agama yang haq akan tetapi yang Alloh jadikan penyempurna risalahNya adalah (dengan mengutus) Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Alloh telah menutup kenabian dengan (diutusnya) beliau, dan telah sempurna bangunannya. Sebagaimana yang telah digambarkan Nabi Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- tentang diri beliau dinisbatkan kepada para rasul lainnya, seperti seseorang yang membangun istana dan menyempurnakannya kecuali satu tempat batu bata. Maka manusia mendatangi bangunan istana tersebut dan terkagum-kagum dengannya kecuali satu tempat batu bata tersebut. Beliau bersabda:
فأنا اللَبِنَة، وأنا خاتم النبيين"
"Maka akulah batu bata tersebut, dan akulah penutup para nabi". (HR Bukhari dan Muslim)¹

✔Perkataan muallif: بالهدى (dengan petunjuk). Huruf ba' disini 'li mushohabah' (penyertaan). Al Huda (petunjuk) disini maknanya adalah ilmu yang bermanfaat. Ba' ini juga bisa berfungsi sebagai ta'diyah (membuat kata kerjanya butuh kepada obyak), yaitu bahwa yang dibawa beliau adalah petunjuk dan agama yang haq.

✔Sedangkan دين الحق Dinul Haq (agama yang benar) adalah amal sholih karena agama adalah amal, atau balasan atas amal-amal. Contoh pemutlakannya atas amal yaitu firman Alloh ta'ala:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الأِسْلامُ
(Sesungguhnya agama yang diridhoi Alloh adalah Islam)". (QS Ali Imron: 19).

Adapun contoh pemutlakannya kepada balasan adalah firman Alloh ta'ala:
وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ
(Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?). (QS Al Infithor 17).

Dan Al Haq adalah lawan Al Bathil, yakni Al Haq terkandung didalamnya diperolehnya kemaslahatan-kemaslahatan dan tercegahnya kerusakan-kerusakan dalam hukum-hukumnya dan pemberitaannya.

✔Ucapan beliau ليظهره على الدين كله (Agar dia memenangkannya atas agama seluruhnya). Huruf lam adalah untuk ta'lil (sebab). Dan makna 'liyudzhirohu' yaitu mengungguli, sebab makna dzohuur bermakna tinggi di atas. Misalnya: Dzohrud dabbah (punggung hewan melata) adalah yang atasnya. Misal lain dzohrul ardhi (muka/bagian atas bumi). Sebagaimana firman Alloh ta'ala:
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ

"Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di muka bumi ini"(QS Fatir: 45)

Huruf Ha' dalam يظهره (memenangkannya) apakah kembalinya kepada rasul ataukah kepada Ad-Dien (Islam)? Apabila kembalinya kepada Dienul Haq maka setiap orang yang berperang untuk Dienul haq maka dia memiliki kedudukan tinggi karena Alloh ta'ala berfirman: ليظهره (agar Dia memenangkan/meninggikan). Dien ini akan menang/unggul di atas seluruh agama, dan bagi orang yang tidak memiliki agama maka Dien ini akan lebih dimenangkan lagi, sebab orang yang tidak beragama lebih buruk dari pada orang yang beragama dengan kebathilan. Dengan demikian, setiap agama yang pemeluknya menganggap bahwa mereka di atas kebenaran maka Dienul Islam akan mengunggulinya, sedangkan yang selain itu (orang-orang yang tidak beragama) Islam lebih unggul lagi.

Dan jika Ha' kembalinya kepada rasul alaihi sholatu wa salam maka Allah akan memenangkan rasul-Nya karena agama yang haq ada bersamanya. Berdasar kedua kemungkinan (penafsiran tersebut), maka siapa pun yang berpegang pada agama yang haq ini maka dia akan menang dan unggul. Barang siapa yang mencari kemuliaan pada selainnya, sungguh dia telah mencari kehinaan sebab tidak ada kemenangan dan kemuliaan serta kehormatan kecuali dengan Dinul Haq (agama Islam).

Oleh karenanya, aku mengajakmu -wahai ikhwah sekalian- untuk berpegang pada agama Alloh lahir dan batin dalam perkara ibadah, tingkah laku dan akhlaq serta berdakwah kepadanya sehingga tegak agama ini dan menjadi lurus umat ini.

✔Ucapan muallif وكفى بالله شهيداً (cukuplah Alloh yang menjadi saksi).
Para ahli bahasa berkata: Huruf Ba' disini sebagai zaidah (tambahan) untuk memperindah lafadz dan bermubalaghoh dalam lafadz kifayah. Asalnya adalah وكفى الله (cukuplah Alloh). Dan "شهيداً" (sebagai saksi) sebagai tamyiz dari fail sebab asalnya adalah وكفت شهادة الله (cukuplah persaksian Alloh).
Al Muallif membawakan ayat dan seandainya ada yang berkata: Apa hubungan antara "cukuplah Alloh yang menjadi saksi" dengan firmanNya "agar Alloh memenangkanNya atas seluruh agama"? Jawabnya: hubungannya sangat jelas, sebab Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- datang menyeru manusia dan berkata:
من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني دخل النار
"Barang siapa taat kepadaku dia masuk surga, dan barang siapa yang bermaksiat kepadaku masuk neraka"³.

Atau lisanul halnya mengatakan : "Barang siapa mentaatiku maka aku memberi keselamatan padanya, dan barang siapa yang bermaksiat kepadaku maka aku memeranginya dan orang-orang yang berpegang dengan agama ini akan memeranginya juga, sehingga dihalalkan darah, harta, wanita-wanita, dan anak keturunan mereka. Dan dia (Rasululloh) ditolong dan tidak terkalahkan. Demikian pengokohan baginya di bumi, yaitu pengokohan Alloh bagi rasul-Nya di bumi: Persaksian fi'liyah (dengan tindakan)dari Alloh 'azza wa jalla bahwa Beliau adalah benar (seorang Rasul) dan bahwasannya agama ini adalah haq(benar).

Setiap orang yang membuat-buat kedustaan kepada Alloh maka kesesudahannya adalah ditinggalkan, sirna dan musnah. Perhatikanlah orang-orang yang mengaku-aku memperoleh nubuwah (kenabian) bagaimana kesesudahan mereka? Mereka dilupakan dan dibinasakan sebagaimana Musailamah Al Kadzab dan Aswad Al Ansii dan selain keduanya yang mengaku mendapat nubuwah. Semuanya lenyap dan menjadi jelas batilnya perkataan mereka. Dan mereka terhalangi dari kebenaran.

Akan tetapi Nabi Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- ini justru sebaliknya, dakwahnya sampai sekarang -walhamdulillah- masih berlanjut dan (bahkan)sampai hari kiamat, tetap kokoh dan kuat. Dengan dakwahnya, dihalalkan -sampai hari ini- darah dan harta orang kafir yang menentangnya, dan ditawan wanita-wanita dan keluarga mereka⁴. Ini adalah persaksian fi'liyah, tidaklah Alloh menghukumnya, tidak pula membuka aibnya dan tidak pula mendustakannya. Dan persaksian ini setelah firman Alloh: ليظهره على الدين كله
"Agar Alloh memenangkannya di atas seluruh agama".

=============
Catatan kaki:
1. Diriwayatkan oleh Al Bukhari 3535 dalam kitabul manaqib bab khotamun nabiyyin -shollallohu 'alaihi wa sallam-, dan Muslim (2286) dalam kitabul fadhoil bab dzikru kaunihi khotamun nabiyyin -shollallohu 'alaihi wa sallam.

2. Catatan penterjemah: Makna Dien (الدين) dalam Al Qur'an memiliki beberapa makna yaitu: (1) Agama, (2) Amal, dan (3) Al Jaza' (balasan atas amal).

Sedangkan ayat
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الأِسْلامُ
(Sesungguhnya agama yang diridhoi Alloh adalah Islam)". (QS Ali Imron: 19).
Allohu a'lam - mungkin lebih sesuai dijadikan dalil bahwa makna Ad Din disini adalah agama.

Sedangkan ayat yang menunjukkan bahwa Ad-Din adalah amal adalah ayat :
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
"Untukmu Din-mu, dan untukku Din-ku.”( Al-Kafirun: 6). Kata Din disini bermakna amal.

Sebagaimana ayat
وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, semoga selamatlah kamu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang bodoh.” (QS Al-Qasas: 55).
Allohu a'lam.

3. Sebagaimana yang diriwayatkan Al Bukhari (7280), kitabul i'tishom bab al-iqtida'u bi sunnani rosulillahi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- bahwa rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:
كل أمتي يدخلون الجنة إلاّ من أبى, قالوا يا رسول الله! ومن يأبى؟ قال: من أطاعني دخل الجنة ومن عصاني فقد أبى
"Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan. Sahabat bertanya: Ya Rasululloh, siapakah orang yang enggan itu? Beliau bersabda: "Barang siapa mentaatiku dia masuk surga, dan barang siapa bermaksiat kepadaku dialah yang enggan".

4. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Bukhari (25) dan Muslim (22) dari Ibnu Umar radhiyallohu 'anhuma:

عن ابن عمر رضي الله عنهما: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله, ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة, فإن فعلوا ذلك عصموا مني دمائهم وأموالهم؛ إلاّ بحق الإسلام وحسابهم على الله".
Bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwasannya tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Alloh dab Muhammad utusan Alloh, menegakkan sholat dan menunaikan zakat. Jika mereka sudah melakukannya maka terjaga dariku darah-darah mereka dan harta-harta mereka, kecuali dengan haknya Islam, dan hisabnya di sisi Alloh".

Diterjemahkan oleh Abu Unais lasmin Pati dengan beberapa editan dari Ust Abu Said - hafidzahulloh.

Muqaddimah: Penjelasan Basmallah

Penulis -rahimahulloh- berkata:
بسم الله الرحمن الرحيم
Penjelasan:
Memulai dengan basmalah adalah kebiasaan para penulis sebagai bentuk mengikuti Kitabulloh, yangmana basmalah diturunkan di setiap permulaan surat, dan juga sebagai bentuk peneladanan terhadap sunnah rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-.

Mengenai i'rob basmalah dan maknanya banyak padanya pendapat para ulama dan juga tentang keterkaitannya. Dan yang paling bagus dalam masalah ini adalah: bahwa basmalah ini terkait dengan fiil (kata kerja) yang dihilangkan dan diakhirkan serta sesuai dengan kondisinya. Pada saat engkau mendahulukannya ketika makan maka taqdirnya (perkiraannya) adalah: بسم الله آكل "bismillahi, saya akan makan". Begitu juga ketika engkau membaca maka taqdirnya adalah: bismillah saya akan membaca.

Kami memperkirakannya dengan fi'il (kata kerja) karena asal dari amalan adalah perbuatan bukan isim, karena fi'il itu digunakan tanpa ada syarat, sedangkan isim itu tidaklah digunakam kecuali dengan syarat, karena amalan adalah asal dari perbuatan dan cabang pada isim.

Kami memperkirakan dengan "yang diakhirkan" karena ada dua faidah :
PERTAMA: sebagai pembatasan karena mendahulukan ma'mul memberikan faidah pembatasan. Sehingga ucapan: "bismillah, saya akan membaca" dengan pengertian: "tidaklah aku membaca kecuali dengan bismillah".
KEDUA: Tayamunan (mengawalkan di sebelah kanan) nama Alloh -subhanahu wa Ta'ala-.

Kami menakdirkan dengan "khusus", sebab khusus lebih menunjukkan pada maksud (yang dikehendaki) dari pada yang umum, yang memungkinkan untuk saya katakan: "bismillah, saya akan memulai". Namun "bismillah, saya akan memulai" tidak menunjukkan maksud yang spesifik. Sedangkan "bismillah, saya akan membaca" lebih khusus. Dan suatu yang khusus lebih menunjukkan suatu makna daripada yang umum.

Lafadz الله adalah nama Dzat Alloh -azza wa jalla-, dan tidak boleh selainnya dinamai dengan nama ini. Dan maknanya: 'al-Ma'luh', yaitu yang diibadahi dengan kecintaan dan pengagungan. Dan ini adalah musytaq (kata turunan) menurut pendapat yang kuat. Berdasarkan firman Alloh ta'ala:

وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ ۖ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُم

"Dan Dialah Allah (yang disembah), di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan" (QS Al-An'am: 3).

Lafadz في السموات (di langit) terkait dengan lafdzul jalalah (nama Alloh) yaitu: "Dialah yang disembah di langit dan di bumi".

Lafadz (الرحمن) Dia yang memiliki rahmat yang luas. Sebab wazan فعلان dalam bahasa Arab menunjukkan keluasan dan penuh. Sebagaimana dikatakan: رجل غضبان (seseorang yang sangat marah) jika kemarahannya telah meluap.

Lafadz ( الرحيم) adalah isim (kata benda) yang menunjuklan fi'il (kata kerja) sebab فعيل bermakna فاعل. Sehingga lafadz ini menunjukkan kepada fi'il.

Digabungkannya (الرحمن الرحيم) menunjukkan bahwasannya rahmat Alloh itu sangat luas dan rahmat itu sampai kepada makhluk. Ini yang diisyaratkan sebagian mereka dengan ucapannya: Ar-Rahman yaitu rahmat yang umum, dan Ar-Rahiim adalah rahmat yang khusus bagi kaum mukminin. Sedangkan rahmat Alloh untuk orang kafir adalah rahmat yang khusus di dunia saja, seolah-olah tidak ada rahmat untuk mereka (di akhirat), karena di akhirat kelak Alloh ta'ala berkata kepada mereka, tatkala mereka meminta kepada Alloh agar Alloh mengeluarkannya dari neraka dan mereka bertawasul kepada Alloh dengan rububiyahNya dan mengakui (dosa-dosa) diri mereka

رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ
"Wahai Robb kami, keluarkanlah kami darinya. Seandainya kami kembali (kepada kekafiran) maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang dzolim" (Al Mukminun: 107).

Maka rahmat tidak sampai kepada mereka, justru keadilan yang sampai kepada mereka. Alloh 'azza wa jalla berkata kepada mereka:
اخْسَأُوا فِيهَا وَلا تُكَلِّمُون
Dia (Allah) berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.”(QS. Al Mukminun: 108).

Diterjemahkan oleh Abu Unais Pati dengan beberapa editan dari Ust Abu Sa'id -hafidzohulloh-

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)