“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Selasa, 15 Maret 2022

Waktu berniat puasa dan hukumnya

Seri Fikih Ringkas
KITAB PUASA

Waktu berniat puasa dan hukumnya
    Bagi orang yang berpuasa wajib untuk berniat untuk puasa. Niat adalah salah satu rukun puasa sebagaimana telah lalu penjelasannya berdasarkan sabda Rasululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-:

إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى

“Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya dan setiap orang hanyalah mendapatkan apa yang dia niatkan”.

    Dan ia meniatkan puasa pada malam hari untuk puasa yang wajib; seperti puasa Ramadhan, puasa kaffarah, puasa qadha’ dan puasa nadzar, meskipun hanya satu menit sebelum terbit fajar, berdasarkan sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-:

من لم يبيت الصيام قبل الفجر فلا صيام له

“Barang siapa yang tidak meniatkan puasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya”¹
    Barang siapa yang berniat puasa di siang hari dalam keadaan dia belum makan sesuatu pun maka tidak sah kecuali puasa sunnah. Maka boleh berniat pada siang hari (untuk puasa sunnah) apabila dia belum menyantap sesuatu pun baik makanan atau pun minuman, berdasarkan hadits Aisyah -radhiyallohu ‘anha- ia berkata:

دخل عليَّ النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ذات يوم فقال: (هل عندكم من شيء؟) فقلنا: لا، قال: (فإني إذنْ صائم)

“Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- masuk menemuiku pada suatu hari lalu berkata: ‘Apakah engkau memiliki sesuatu makanan?’. Maka kami berkata: ‘Tidak’. Beliau berkata: ‘Kalau begitu aku berpuasa’ ².
    Adapun puasa wajib maka tidaklah sah dengan berniat di siang hari dan haruslah dengan niat di malam hari.
    Dan cukup dengan sekali niat pada awal Ramadhan untuk sebulan penuh dan disunnahkan memperbarui niat setiap hari.

    Bersambung in sya Alloh…

📚 Diterjemahkan dari Kitab Al-Fiqih Al-Muyassar fi Dhouil Kitabi was Sunnah hal 153.

Note:
1. HR At-Tirmidzi 733, An-Nasa’i 4/196, Ibnu Majah 1700, dan lafadz ini milik An Nasa’i. Dishahihkan syaikh Al-Albany (Shahih At-Tirmidzi no 583).
2. Dikeluarkan Muslim no 1153 – 170.

🌐 Telegram : http://t.me/patimengaji
📱 Instagram : http://Instagram.com/patimengaji
💻 Facebook : facebook.com/patimengajiofficial

المسألة السابعة: وقت النية في الصوم وحكمها:
يجب على الصائم أن ينوي الصيام، وهي ركن من أركانه كما مضى؛ لقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى). وينويها من الليل في الصيام الواجب؛ كصوم رمضان والكفارة والقضاء والنذر، ولو قبل الفجر بدقيقة واحدة؛ لقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (من لم يبيت الصيام قبل الفجر فلا صيام له) (٣).
فمن نوى صوماً في النهار، ولم يطعم شيئاً، لم يجزئه إلا في صيام التطوع، فيجوز بنية من النهار، إذا لم يطعم شيئاً من أكل أو شرب؛ لحديث عائشة رضي الله عنها قالت: دخل عليَّ النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ذات يوم فقال: (هل عندكم من شيء؟) فقلنا: لا، قال: (فإني إذنْ صائم) (٤). أما صيام الواجب فلا ينعقد بنية من النهار، ولابد فيه من نية الليل.
وتكفي نية واحدة في بداية رمضان لجميع الشهر، ويُستحب تجديدها في كل يوم.

(٣) أخرجه الترمذي برقم (٧٣٣)، والنسائي (٤/ ١٩٦)، وابن ماجه برقم (١٧٠٠)، واللفظ للنسائي، وصححه الألباني (صحيح الترمذي رقم ٥٨٣).
(٤) أخرجه مسلم برقم (١١٥٤) – ١٧٠

Penetapan Mulai dan Berakhirnya Bulan Ramadhan

Seri Fikih Ringkas
KITAB PUASA
Penetapan Mulai dan Berakhirnya Bulan Ramadhan

    Penetapan masuknya bulan Ramadhan dengan melihat hilal(bulan sabit), baik oleh dirinya sendiri, atau persaksian orang lain yang melihatnya atau dengan adanya berita tentangnya.

    Jika ada seorang muslim yang adil yang bersaksi melihat hilal maka dengan persaksiannya ini telah tetap masuknya bulan Ramadhan, berdasarkan firman Alloh ta’ala:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barang siapa di antara kalian berada di bulan itu maka hendaklah dia berpuasa” (QS Al Baqarah: 185)

    Dan berdasarkan sabda Rasululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-:

إذا رأيتموه فصوموا

“Apabila kalian melihatnya maka berpuasalah” (HR Bukhari 1900 dan Muslim 1080-8)
    Dan berdasarkan hadits Ibnu Umar -radhiyallohu ‘anhuma- :

أخبرت النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – برؤية رمضان فصامه، وأمر الناس بصيامه

“Aku khabarkan kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- tentang (kami) melihat (hilal) Ramadhan maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa” (HR Abu Dawud 2342 dan Hakim dalam Mustadraknya 1/423 dan dia menshahihkannya)

    Jika hilal tidak terlihat, atau tidak ada seorang muslim yang adil yang melihatnya maka wajib menetapkan hitungan bulan Sya’ban 30 hari. Dan tidaklah ditetapkan masuknya bulan Ramadhan selain dari dua metode ini -yaitu melihat hilal atau menyempurnakan hitungan Sya’ban 30 hari- berdasarkan sabda Rasululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-:

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته، فإن غُبِّي (١) عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين(٢)

“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya. Jika (hilal) terhalang¹ bagi kalian (untuk bisa melihatnya) maka sempurnakanlah hitungan Sya’ban menjadi 30” (HR Bukhari 1909 dan Muslim 1081)

    Dan penetapan berakhirnya Ramadhan dengan terlihatnya hilal bulan Syawal dengan persaksian dua orang muslim yang adil. Jika tidak ada persaksian dua orang muslim yang adil tentang melihat hilal, maka wajib menyempurnakan hitungan Ramadhan menjadi 30 hari.

    Bersambung in sya Alloh…

📚 Diterjemahkan dari Kitab Al-Fiqih Al-Muyassar fi Dhouil Kitabi was Sunnah hal 152-153.

Note:
1. Sebagian riwayat غُمِّي dan sebagiam lagi غُمَّ yang artinya tertutup, tersamarkan dan tidak kelihatan.

🌐 Telegram : http://t.me/patimengaji
📱 Instagram : http://Instagram.com/patimengaji
💻 Facebook : facebook.com/patimengajiofficial
المسألة السادسة: ثبوت دخول شهر رمضان وانقضائه:
يثبت دخول شهر رمضان برؤية الهلال، بنفسه أو بشهادة غيره على رؤيته، أو إخباره بذلك؛ فإذا شهد مسلم عدل برؤية هلال رمضان ثبت بهذه الشهادة دخول شهر رمضان؛ لقوله تعالى: (فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ) [البقرة: ١٨٥]، ولقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (إذا رأيتموه فصوموا) (٣)، ولحديث ابن عمر رضي الله عنهما: (أخبرت النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – برؤية رمضان فصامه، وأمر الناس بصيامه). (٤)
فإن لم يرَ الهلال، أو لم يشهد مسلم عدل برؤيته، وجب إكمال عدة شعبان ثلاثين يوماً. ولا يثبت دخول الشهر بغير هذين الأمرين -رؤية الهلال، أو إتمامشعبان ثلاثين يوما- لقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته، فإن غُبِّي (١) عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين) (٢).
ويثبت انقضاء رمضان برؤية هلال شهر شوال بشهادة مسلمين عدلين، فإن لم يشهد مسلمان عدلان برؤية الهلال، وجب إكمال عدة رمضان ثلاثين يوماً.

(٤) رواه أبو داود برقم (٢٣٤٢)، والحاكم في المستدرك (١/ ٤٢٣) وصححه.
(١) وفي بعض الروايات: (غُمِّي) وبعضها (غُمَّ) والمعنى: غطي وخفي ولم يظهر.
(٢) رواه البخاري برقم (١٩٠٩)، ومسلم برقم (١٠٨١)

Syarat-syarat wajib puasa Ramadhan.

Seri Fikih Ringkas
KITAB PUASA

Syarat-syarat wajib puasa Ramadhan.
Puasa Ramadhan wajib atas orang yang terpenuhi syarat-syarat berikut:

  1. Islam. Puasa tidak wajib dan tidak sah dikerjakan oleh orang kafir sebab puasa adalah ibadah dan ibadah tidaklah sah dikerjakan oleh orang kafir. Jika dia masuk Islam tidak wajib mengganti puasa yang telah ia tinggalkan (ketika dalam kekafiran -pent).

  1. Baligh. Puasa tidak diwajibkan atas orang yang belum sampai usia taklif berdasarkan sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-:
    رفع القلم عن ثلاثة
    “Pena diangkat dari tiga orang”
    beliau menyebutkan di antaranya anak kecil sampai dia mimpi basah. Akan tetapi puasa tetap sah dilakukan oleh anak yang belum baligh jika anak tersebut sudah mumayiz. Dan selayaknya bagi wali yang mengurusinya memerintahkannya berpuasa untuk membiasakannya.

  2. Berakal. Puasa tidak wajib bagi orang gila dan tidak waras berdasarkan sabda Rasululloh -shollallohi ‘alaihi wa sallam-:

    رفع القلم عن ثلاثة
    “Pena di angkat dari tiga orang”
    di antaranya beliau menyebutkan orang gila sampai di sadar.

  3. Sehat. Maka orang yang sakit yang tidak mampu berpuasa tidaklah wajib atasnya (berpuasa). Namun jika ia puasa maka sah puasanya berdasarkan firman Alloh -ta’ala-:

    وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
    “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”.(QS Al Baqarah: 185)  Jika telah sembuh sakitnya maka wajib baginya mengganti sejumlah hari yang dia tinggalkan

  4. Bermukim sehingga tidak wajib puasa bagi orang yang bepergian. Berdasarkan firman Alloh -ta’ala-:
    وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
    “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”. (QS Al Baqarah: 185) .Jika musafir (orang yang bepergian) berpuasa maka sah puasanya dan wajib baginya mengganti puasa sesuai jumlah hari yang dia tinggalkan ketika safar.
  5. Suci dari haid dan nifas. Orang yang haid dan nifas tidak wajib puasa baginya bahkan diharamkan atas keduanya, berdasarkan sabda Nabi -shollallahu alaihi wa sallam:
    أليس إذا حاضت لم تصلِّ، ولم تصم؟، فذلك من نقصان دينها
    “Bukankah apabila wanita haidh dia tidak sholat dan tidak puasa? Maka demikian itu termasuk kurangnya agamanya” (HR Bukhari no 304)
    dan wajib qadha’ (menggantinya) berdasarkan perkataan Aisyah -radhiyallohu ‘anha-
    كان يصيبنا ذلك، فنؤمر بقضاء الصوم، ولا نؤمر بقضاء الصلاة
    “Kami pernah mengalami hal itu, maka kami diperintahkan mengqadha’ puasa dan tidak diperintah mengqadha’ sholat” (HR Bukhari no 335)

Bersambung in sya Alloh…

📚 Diterjemahkan dari Kitab Al-Fiqih Al-Muyassar fi Dhouil Kitabi was Sunnah hal 151-152.

🌐 Telegram : http://t.me/patimengaji
📱 Instagram : http://Instagram.com/patimengaji
💻 Facebook : facebook.com/patimengajiofficial

المسألة الخامسة: شروط وجوب صيام رمضان:
يجب صيام رمضان على من توافرت فيه الشروط التالية:
١ – الإسلام: فلا يجب، ولا يصح الصيام من الكافر؛ لأن الصيام عبادة، والعبادة لا تصح من الكافر، فإذا أسلم لا يلزم بقضاء ما فاته.
٢ – البلوغ: فلا يجب الصيام على من لم يبلغ حد التكليف؛ لقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (رفع القلم عن ثلاثة) (٣) فذكر منهم الصبي حتى يحتلم، ولكنه يصح الصيام من غير البالغ لو صام، إذا كان مميزاً، وينبغي لولي أمره أن يأمره بالصيام؛ ليعتاده ويألفه.
٣ – العقل: فلا يجب الصيام على المجنون والمعتوه؛ لقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (رفع القلم عن ثلاثة) فذكر منهم المجنون حتى يفيق.
٤ – الصحة: فمن كان مريضاً لا يطيق الصيام لم يجب عليه، وإن صام صح صيامه؛ لقوله تعالى: (وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ) [البقرة: ١٨٥]. فإن زال المرض وجب عليه قضاء ما أفطره من أيام.
٥ – الإقامة: فلا يجب الصوم على المسافر؛ لقوله تعالى: (وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ) الآية؛ فلو صام المسافر صَحَّ صيامه، ويجب عليه قضاء ما أفطره في السفر.
٦ – الخلو من الحيض والنفاس: فالحائض والنفساء لا يجب عليهما الصيام، بل يحرم عليهما؛ لقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (أليس إذا حاضت لم تصلِّ، ولم تصم؟، فذلك من نقصان دينها) (١). ويجب القضاء عليهما؛ لقول عائشة رضي الله عنها: (كان يصيبنا ذلك، فنؤمر بقضاء الصوم، ولا نؤمر بقضاء الصلاة). (٢)

(٣) رواه أحمد (٦/ ١٠٠)، وأبو داود (٤/ ٥٥٨)، وصححه الألباني (الإرواء برقم ٢٩٧).
(١) رواه البخاري برقم (٣٠٤).
(٢) رواه مسلم برقم (٣٣٥).

Minggu, 13 Maret 2022

Puasa terbagi atas dua macam: Puasa wajib dan tathowu’ (sunnah).

Seri Fikih Ringkas
KITAB PUASA

Pembagian Puasa
Puasa terbagi atas dua macam: Puasa wajib dan tathowu’ (sunnah). Dan puasa wajib terbagi tiga: (1) Puasa Ramadhan, (2) Puasa Kafarat, dan (3) Puasa Nadzar.
Di sini yang akan kita bahas adalah puasa Ramadhan dan puasa tathowu’.

Keutamaan puasa bulan Ramadhan dan hikmah disyariatkannya.

  1. Keutamaannya: dari Abu Hurairah -radhiyallohu ‘anhu- dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- beliau bersabda:
    من قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه، ومن صام رمضان إيماناً واحتساباً غُفر له ما تقدم من ذنبه
    “Barang siapa yang sholat pada malam lailatul qadar dengan keimanan dan mengharap pahala maka diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”¹
    Dan dari beliau -radhiyallohu ‘anhu- :
    أن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قال: (الصلوات الخمس، والجمعة إلى الجمعة، ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن إذا اجتنبت الكبائر
    “Bahwasannya Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: ‘Sholat yang lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at berikutnya, dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, adalah penghapus dosa-dosa selama dijauhi dosa-dosa besar”²

Ini adalah sebagian riwayat tentang keutamaan puasa bulan Ramadhan. Dan keutamaan-keutamaannya sangat banyak.

  1. Hikmah disyariatkannya puasa Ramadhan.
    Alloh -subhanahu wa ta’ala- mensyariatkan puasa Ramadhan dengan hikmah dan manfaat yang banyak, di antaranya:

  2. Pensucian dan pembersihan jiwa dari tabiat-tabiat jelek dan akhlak-akhlak yang buruk sebab puasa menyempitkan aliran setan dalam tubuh manusia.

  3. Dalam ibadah puasa terdapat sikap zuhud terhadap dunia dan kesenangannya serta motivasi terhadap akhirat dan kenikmatannya.
  4. Puasa menumbuhkan empati terhadap kaum miskin dan merasakan kesulitan-kesulitan mereka, sebab orang yang berpuasa merasakan tidak enaknya lapar dan haus.
    Dan hikmah-hikmah lain yang jelas dan manfaat yang banyak.

Bersambung in sya Alloh…

📚 Diterjemahkan dari Kitab Al-Fiqih Al-Muyassar fi Dhouil Kitabi was Sunnah hal 149.

Footnote:
1. Diriwayatkan Bukhari no 1901 dan Muslim no 760
2. Diriwayatkan Muslim no 233.

🌐 Telegram : http://t.me/patimengaji
📱 Instagram : http://Instagram.com/patimengaji
💻 Facebook : facebook.com/patimengajiofficial

المسألة الثالثة: أقسام الصيام:
الصيام قسمان: واجب، وتطوع؛ والواجب ينقسم إلى ثلاثة أقسام:
١ – صوم رمضان.
٢ – صوم الكفارات.
٣ – صوم النذر.
والكلام هنا ينحصر في صوم رمضان، وفي صوم التطوع، أما بقية الأقسام فتأتي في مواضعها، إن شاء الله تعالى.
المسألة الرابعة: فضل صيام شهر رمضان، والحكمة من مشروعية صومه:
١ – فضله: عن أبي هريرة – رضي الله عنه – عن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قال: (من قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه، ومن صام رمضان إيماناً واحتساباً غُفر له ما تقدم من ذنبه) (١).
وعنه – رضي الله عنه – أن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قال: (الصلوات الخمس، والجمعة إلى الجمعة، ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن إذا اجتنبت الكبائر) (٢).
هذا بعض ما ورد في فضل صيام شهر رمضان، وفضائله كثيرة.
٢ – الحكمة من مشروعية صومه: شرع الله سبحانه الصوم لحكم عديدة وفوائد كثيرة، فمن ذلك:
١ – تزكية النفس، وتطهيرها، وتنقيتها من الأخلاط الرديئة والأخلاق الرذيلة؛ لأن الصوم يضيق مجاري الشيطان في بدن الإنسان.
٢ – في الصوم تزهيد في الدنيا وشهواتها، وترغيب في الآخرة ونعيمها.
٣ – الصوم يبعث على العطف على المساكين، والشعور بآلامهم؛ لأن الصائم يذوق ألم الجوع والعطش.
إلى غير ذلك من الحكم البليغة، والفوائد العديدة.

(١) رواه البخاري برقم (١٩٠١)، ومسلم برقم (٧٦٠).
(٢) رواه مسلم برقم (٢٣٣).

Jumat, 02 April 2021

Pendahuluan: Pengertian puasa dan penjelasan rukun-rukunnya.

KITAB PUASA

Pendahuluan: Pengertian puasa dan penjelasan rukun-rukunnya.

Pengertian, shiyam secara bahasa: al-imsak (menahan diri dari sesuatu).
Secara Syar'i: Menahan diri dari makan, minum dan seluruh yang membatalkannya disertai niat dari terbit fajar shodiq sampai tenggelam matahari.
Rukun-rukunnya.
Berdasarkan definisi puasa secara istilah maka menjadi jelas bahwa puasa memiliki dua rukun utama yaitu:
Pertama: menahan diri dari pembatal-pembatalnya sejak terbit fajar sampai tenggelamnya matahari.
Dalil dari rukun ini adalah firman Alloh -ta'ala-:
فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

"Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam" (QS Al-Baqarah: 187)

Maksud benang putih dan benang hitam yaitu terangnya siang dan gelapnya malam.

Kedua: niat, yaitu orang yang berpuasa dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya ini diniatkan untuk beribadah kepada Alloh -azza wa jalla-. Dengan niat ini amal-amal terbedakan tujuannya untuk ibadah dan selainnya. Dengan niat pula ibadah-ibadah terbedakan antara satu dengan lainnya, sehingga orang yang berpuasa dengan puasanya ini bermaksud untuk puasa Ramadhan atau pun puasa lainnya.

Dalil dari rukun ini adalah sabda Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى
"Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niat-niatnya. Dan setiap orang hanyalah dibalas sesuai dengan yang diniatkannya" (HR Bukhari 1, Muslim 1907)

Hukum puasa Ramadhan dan dalilnya.
Alloh -azza wa jalla- telah mewajibkan puasa Ramadhn dan menjadikannya salah satu dari rukun Islam yang lima. Hal ini berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa" (QS Al Baqarah: 183).

Dan firman Alloh -ta'ala-:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah" (QS Al Baqarah: 185)

Dan sebagaimana yang diriwayatkan Abdullah bin Umar -radhiyallohu 'anhuma- berkata: Rasululloh -shollallahu 'alaihi wa sallam- bersabda:
بني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمداً رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج بيت الله الحرام من استطاع إليه سبيلاً
"Islam dibangun di atas lima perkara: Persaksian bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh, menegakkan sholat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadhan dan berhaji ke baitulloh Al-Haram bagi yang mampu ke sana"¹

Dan hadits yang diriwayatkan oleh Thalhah bin Ubaidillah bahwa seorang Baduwi yang beruban rambutnya datang kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- lalu berkata:
يا رسول الله، أخبرني ماذا فرض الله علي من الصيام؟، قال: (شهر رمضان)، قال: هل عليَّ غيره؟ قال: (لا، إلا أن تطوع شيئاً ... )
"Wahai Rasululloh, khabarkan kepadaku apakah yang diwajibkan Alloh atasku dari puasa? Beliau bersabda: "Puasa Ramadhan". Dia bertanya lagi: "Apakah ada kewajiban puasa lain untukku?". Beliau bersabda: "Tidak, kecuali engkau berpuasa sunnah..." ²

Umat Islam telah ijma' akan wajibnya puasa Ramadhan dan merupakan salah satu rukun Islam yang telah diketahui secara dhoruri. Orang yang mengingkarinya telah kafir, murtad keluar dari agama Islam. Kewajiban puasa ini telah ditetapkan oleh Al Qur'an dan As-Sunnah serta Ijma'. Dan kaum muslimin telah bersepakat tentang kafirnya orang yang mengingkarinya.

Bersambung in sya Alloh...

📚 Diterjemahkan dari Kitab Al-Fiqih Al-Muyassar fi Dhouil Kitabi was Sunnah hal 149.

Footnote:
1. Diriwayatkan Bukhari no 8 dan Muslim no 16
2. Diriwayatkan Bukhari no 46 dan Muslim no 11.

🌐 Telegram : http://t.me/patimengaji
📱 Instagram : http://Instagram.com/patimengaji
💻 Facebook : facebook.com/patimengajiofficial
رابعاً: كتاب الصيام
ويشتمل على خمسة أبواب:
الباب الأول: في مقدمات الصيام، وفيه مسائل:
المسألة الأولى: تعريف الصيام، وبيان أركانه:
١ - تعريفه: الصيام في اللغة: الإمساك عن الشيء.
وفي الشرع: الإمساك عن الأكل، والشرب، وسائر المفطرات، مع النية، من طلوع الفجر الصادق إلى غروب الشمس.
٢ - أركانه: من خلال تعريف الصيام في الاصطلاح، يتضح أن له ركنين أساسين، هما:
الأول: الإمساك عن المفطرات من طلوع الفجر إلى غروب الشمس.
ودليل هذا الركن قوله تعالى: (فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ) [البقرة: ١٨٧]. والمراد بالخيط الأبيض والخيط الأسود: بياض النهار وسواد الليل.
الثاني: النية، بأن يقصد الصائم بهذا الإمساك عن المفطرات عبادة الله عز وجل، فبالنية تتميز الأعمال المقصودة للعبادة عن غيرها من الأعمال، وبالنية تتميز العبادات بعضها عن بعض، فيقصد الصائم بهذا الصيام: إما صيام رمضان، أو غيره من أنواع الصيام.
ودليل هذا الركن قوله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى) (١).

(١) رواه البخاري برقم (١)، ومسلم برقم (١٩٠٧).
  

Minggu, 07 Februari 2021

Pembatal-Pembatal Wudhu'

Pembahasan Ke Enam: Pembatal-Pembatal Wudhu'

Pembatal wudhu' yaitu segala sesuatu yang membatalkan wudhu' dan merusaknya. Ada 6 macam:
1. Sesuatu yang keluar dari dua jalan yaitu tempat keluarnya kencing dan berak. Sesuatu yang keluar bisa berupa kencing, tinja, mani, madzi, darah istihadhah, dan buang angin baik sedikit atau pun banyak. Berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ
"Atau salah seorang dari kalian kembali dari kakus" (QS An-Nisa': 43)

Dan sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
(لا يقبل الله صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ)
"Alloh tidak menerima shalat salah seorang di antara kalian apabila dia berhadats sampai dia berwudhu'" dan telah disebutkan terdahulu tentang hadits ini.
Dan sabda beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
ولكن من غائط أو بول ونوم
"Akan tetapi karena berak atau kencing dan tidur" 1)

Dan sabda beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- kepada orang yang ragu-ragu apakah ia telah buang angin ataukah tidak:
فلا ينصرف حتى يسمع صوتاً أو يجد ريحاً
"Janganlah dia berpaling (dari sholatnya) sampai dia mendengar suaranya atau mencium baunya" 2)

2. Keluarnya najis dari anggota badan selainnya. Jika berupa kencing atau buang air besar maka membatalkan wudhu secara mutlak karena masuk dalam dalil-dalil terdahulu. Namun jika selain keduanya seperti darah dan muntahan: jika kotor dan banyak maka yang paling utama adalah berwudhu sebagai bentuk kehati-hatian. Namun jika sedikit maka tidak usah berwudhu karenanya menurut kesepakatan (ulama).

3. Hilang atau tertutupnya akal dengan pingsan atau pun tidur. Berdasarkan sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
ولكن من غائط أو بول ونوم
"Akan tetapi karena berak atau kencing dan tidur"

Dan sabda beliau:
العين وِكَاءُ (٣) السَّه (٤)، فمن نام فليتوضأ

"Mata adalah pengikat ³) dubur ⁴). Maka barang siapa yang tidur hendaklah dia berwudhu'"⁵)

Ada pun gila, pingsan, mabuk dan yang semisalnya maka membatalkan wudhu' secara ijma'.  Tidur yang membatalkan wudhu adalah tidur nyeyak yang dia tidak tahu sama sekali keadaannya ketika tidur. Ada pun tidur ringan maka tidak membatalkan wudhu' sebab para shahabat -radhiyallohu 'anhum- mereka terserang kantuk ketika menunggu sholat, lalu mereka bangun, dan sholat tanpa berwudhu' lagi.⁶)
4. Menyentuh kemaluan manusia tanpa ada pembatas berdasarkan hadits Busrah binti Shofwan -radhiyallohu 'anha- bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
من مسّ ذكره فليتوضأ
"Barang siapa yang menyentuh kemaluannya hendaklah dia berwudhu'" ⁷)
Dan dalam hadits Abu Ayyub dan Ummu Habibah:
من مسّ فرجه فليتوضأ
"Barang siapa yang menyentuh kemaluannya hendaklah ia berwudhu'"⁸)

5. Memakan daging unta, berdasarkan hadits Jabir bin Samurah:
أن رجلاً سأل النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أنتوضأ من لحوم الغنم؟ قال: (إن شئت توضأ وإن شئت لا تتوضأ)، قال: أنتوضأ من لحوم الإبل؟ قال: (نعم توضأ من لحوم الإبل).
"Bahwasannya seseorang bertanya kepada Nabi -shollallohu 'alihi wa sallam-: 'Apakah kami harus berwudhu' karena makan daging kambing?' Beliau bersabda: "Jika kamu ingin(wudhu') silahkan berwudhu', jika kamu berkehendak (untuk tidak berwudhu') silahkan tidak berwudhu".
Sahabat bertanya: 'Apakah kami harus berwudhu' karena makan daging onta?'. Beliau menjawab: "Ya, berwudhulah karena makan daging onta".⁹)
6. Murtad dari Islam, berdasarkan firmanNya -ta'ala-:
وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
"Barangsiapa kafir setelah beriman, maka sungguh, sia-sia amal mereka" (QS Al Maidah: 5)
Setiap yang mewajibkan mandi maka juga mewajibkan wudhu' kecuali orang yang mati.

Diterjemahkan dari Kitab Al-Fiqih Al-Muyassar fi Dhouil Kitabi was Sunnah hal 21-22.

Catatan kaki:
1. Diriwayatkan Ahmad (4/239), An-Nasa'i no 1/83, At-Tirmidzi no 96 dan dia menshahihkannya. Dihasankan Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa': 1/141.
2. Muttafaqun 'alaih: Bukhari (137) dan Muslim (361).
3. Tali yang digunakan untuk mengikat kantong air dari kulit.
4. Yaitu dubur. Maksudnya: bahwa kedua mata dengan keterjagaannya (tidak tidur) seperti tali yang digunakan mengikat. Sehingga hilangnya keterjagaan seperti lepasnya tali pengikat ini.
5. Diriwayatkan Abu Dawud no 203, Ibnu Majah no 477, dan dihasankan Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa' no 1/148.
6. Shahih Muslim no 376.
7. Dikeluarkan oleh Abu Dawud no 181 dan ini lafadz beliau, An-Nasa'i no 163, At-Tirmidzi no 82 dan berkata hadits hasan shahih, Ibnu Majah no 4479, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Al-Irwa' 1/150.
8. Diriwayatkan oleh Ummu Habibah dikeluarkan oleh Ibnu Majah no 481, dan dishahihkan Syaikh Al Albany dalam Al Irwa' 1/151. Ada pun hadits Ayyub Syaikh Al Albany berkata: Saya belum menemukan sanadnya.(Al Irwa: 1/151).
9. HR Muslim no. 360.

المسألة السادسة: في نواقضه:
والنواقض: هي الأشياء التي تبطل الوضوء وتفسده.
وهي ستة:
١ - الخارج من السبيلين: أي من مخرج البول والغائط، والخارج: إما أن يكون بولاً أو غائطاً أو منيّاً أو مذيّاً أو دم استحاضة أو ريحاً قليلاً كان أو كثيراً؛ لقوله تعالى: (أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ) [النساء: ٤٣]. وقوله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (لا يقبل الله صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ) وقد تقدَّم. وقوله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (ولكن من غائط أو بول ونوم) (١). وقوله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فيمن شك هل خرج منه ريح أو لا: (فلا ينصرف حتى يسمع صوتاً أو يجد ريحاً) (٢).
٢ - خروج النجاسة من بقية البدن: فإن كان بولاً أو غائطاً نقض مطلقاً لدخوله في النصوص السابقة، وإن كان غيرهما كالدم والقيء: فإن فحش وكَثُرَ فالأَولى أن يتوضأ منه؛ عملاً بالأحوط، وإن كان يسيراً فلا يتوضأ منه بالاتفاق.
٣ - زوال العقل أو تغطيته بإغماء أو نوم: لقوله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (ولكن من غائط وبول ونوم). وقوله: (العين وِكَاءُ (٣) السَّه (٤)، فمن نام فليتوضأ) (٥). وأما الجنون والإغماء والسكر ونحوه فينقض إجماعاً، والنوم الناقض هو المستغرق الذي لا يبقى معه إدراك على أي هيئة كان النوم، أما النوم اليسير فإنه لا ينقض الوضوء، لأن الصحابة -رضي الله عنهم- كان يصيبهم النعاس وهم في انتظار الصلاة، ويقومون، يُصَلُّون، ولا يتوضؤون (٦).
٤ - مس فرج الآدمي بلا حائل: لحديث بسرة بنت صفوان رضي الله عنها أن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قال: (من مسّ ذكره فليتوضأ) (١). وفي حديث أبي أيوب وأم حبيبة: (من مسّ فرجه فليتوضأ) (٢).
٥ - أكل لحم الإبل: لحديث جابر بن سمرة أن رجلاً سأل النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أنتوضأ من لحوم الغنم؟ قال: (إن شئت توضأ وإن شئت لا تتوضأ)، قال: أنتوضأ من لحوم الإبل؟ قال: (نعم توضأ من لحوم الإبل). (٣)

٦ - الردة عن الإسلام: لقوله تعالى: (وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ) [المائدة: ٥]. وكل ما أوجب الغسل أوجب الوضوء غير الموت.

(١) رواه أحمد (٤/ ٢٣٩)، والنسائي برقم (١/ ٨٣)، والترمذي برقم (٩٦) وصححه، وحسنه الألباني في الإرواء (١/ ١٤١).
(٢) متفق عليه: البخاري برقم (١٣٧)، ومسلم برقم (٣٦١).
(٣) الخيط الذي يربط به الخريطة والقربة.
(٤) الدبر. والمعنى: أن العينين في يقظتهما بمنزلة الحبل الذي يربط به، فزوال اليقظة كزوال هذا الرباط.
(٥) رواه أبو داود برقم (٢٠٣)، وابن ماجه برقم (٤٧٧)، وحسنه الألباني في الإرواء (١/ ١٤٨).
(٦) صحيح مسلم برقم (٣٧٦).

(١) أخرجه أبو داود برقم (١٨١) واللفظ له، والنسائي برقم (١٦٣)، والترمذي برقم (٨٢) وقال: حديث حسن صحيح، وابن ماجه برقم (٤٤٧٩)، وصححه الألباني في الإرواء (١/ ١٥٠).
(٢) رواية أم حبيبة أخرجها: ابن ماجه برقم (٤٨١)، وصححها الألباني في الإرواء (١/ ١٥١)، أما حديث أبي أيوب فقال الألباني: "لم أقف على إسناده" الإرواء (١/ ١٥١).
(٣) رواه مسلم برقم (٣٦٠).
  

Rabu, 06 Januari 2021

Pembahasan Kelima:Sunnah-Sunnah Wudhu'


Di sana ada amalan-amalan yang disunnahkan mengerjakannya ketika wudhu' dan diberi pahala bagi orang yang mau mengerjakannya, dan orang yang meninggalkannya tidaklah mengapa. Dan amalan-amalan ini disebut sunnah-sunnah wudhu yaitu:

1. Membaca tasmiyah di awal wudhu' berdasarkan sabda Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-
لا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه
"Tidak ada wudhu' bagi orang yang tidak menyebut nama Alloh atasnya" (HR Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim dan lain-lainnya. Dihasankan oleh syaikh Al-Albani)

2. Bersiwak, berdasarkan sabda Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك مع كل وضوء
"Kalaulah tidak karena memberatkan atas umatku niscaya aku akan memerintahkan mereka bersiwak ketika wudhu'" (HR Bukhari secara mu'allaq dengan ungkapan pasti, kitab Ash-Shiyam)
3. Mencuci dua telapak tangan tiga kali di awal wudhu. Berdasarkan amalan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- yang demikian, karena beliay mencuci dua telapak tangannya tiga kali sebagaimana yang terdapat pada shifat wudhu beliau.
4. Bersungguh-sungguh dalam berkumur-kumur dan istinsyak(memasukkan air ke hidung) kecuali ketika beliau puasa: sungguh telah diriwayatkan dalam sifat wudhu beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam-:

فمضمضَ واستنثَر
"Beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung".
Dan berdasarkan sabda beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائماً
"Dan bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyak (menghirup air ke hidung) kecuali jika engkau sedang berpuasa" (HR Abu Dawud dan An-Nasa'i dan dishahihkan syaikh Al-Albani dalam shahih An-Nasa'i)
5. Menggosok (lengan) dan menyela-nyela jenggot yang lebat dengan air sampai air masuk ke dalamnya berdasarkan sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau:
كان إذا توضأ يدلك ذراعيه
"Beliau apabila berwudhu' menggosok-gosok kedua lengannya" (Diriwayatkan Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim dalam Mustadrak dan beliau menshahihkannya, Ibnu Khuzaimah dan Imam Ahmad dalam Musnadnya).
Dan demikian pula beliau:
كان يدخل الماء تحت حنكه ويخلل به لحيته
"Beliau memasukkan air dibawah janggutnya dan menyela-nyela jenggotnya dengan air itu" 
(HR Abu Dawud dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa')
6. Mendahulukan anggota wudhu yang kanan dari pada yang kiri ketika membasuh kedua tangan dan kedua kaki berdasarkan amalan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau:
كان يحب التيامن في تنعله وترجله وطهوره وفي شأنه كله
"Beliau menyukai mendahulukan yang kanan dalam memakai sendal, menyisir rambut, bersuci dan dalam segala urusan beliau"(HR Bukhari dan Muslim)
7. Mengulangi tiga kali-tiga kali dalam mencuci wajah, kedua tangan dan kedua kaki. Yang wajib adalah sekali saja dan disunnahkan tiga kali berdasarkan amalan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-  yang shahih dari beliau:
أنه توضأ مرة مرة ومرتين مرتين وثلاثاً ثلاثاً
"Beliau berwudhu' sekali-sekali, dua kali-dua kali dan tiga kali-tiga kali"(HR Bukhari dan Muslim)

8. Membaca dzikir yang warid (telah ada riwayatnya) setelah wudhu berdasarkan sabda beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
"Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu lalu menyempurnakan wudhu'nya, lalu mengatakan: "Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi selain Alloh saja yang tiada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- adalah hamba dan utusanNya" kecuali akan sibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan, dia masuk dari arah mana saja yang dia kehendaki" (HR Muslim, dan At-Tirmidzi menambahkan: اللهم اجعلني من التوابين واجعلني من المتطهرين "Ya Alloh jadikanlah aku termasuk orang-orang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mensucikan diri". Dan syaikh Al-Albani menshahihkan penambahan ini (al-Irwa': 96).

Diterjemahkan dari kitab fiqih Muyassar.

المسألة الخامسة: سننه:
هناك أفعال يستحب فعلها عند الوضوء ويؤجر عليها من فعلها، ومن تركها فلا حرج عليه، وتسمى هذه الأفعال بسنن الوضوء، وهي:
١ - التسمية في أوله: لقوله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (لا وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه) (٣).
٢ - السواك: لقوله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك مع كل وضوء) (٤).
٣ - غسل الكفين ثلاثاً في أول الوضوء: لفعله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - ذلك، إذ كان يغسل كفيه ثلاثاً كما ورد في صفة وضوئه.
٤ - المبالغة في المضمضة والاستنشاق لغير الصائم: فقد ورد في صفة وضوئه - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (فمضمضَ واستنثَر)، ولقوله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائماً) (١).
٥ - الدلك، وتخليل اللحية الكثيفة بالماء حتى يدخل الماء في داخلها: لفعله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فإنه (كان إذا توضأ يدلك ذراعيه) (٢)، وكذلك (كان يدخل الماء تحت حنكه ويخلل به لحيته) (٣).
٦ - تقديم اليمنى على اليسرى في اليدين والرجلين: لفعله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فإنه (كان يحب التيامن في تنعله وترجله وطهوره وفي شأنه كله) (٤).
٧ - تثليث الغسل في الوجه واليدين والرجلين: فالواجب مرة واحدة، ويستحب ثلاثاً، لفعله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فقد ثبت عنه: (أنه توضأ مرة مرة ومرتين مرتين وثلاثاً ثلاثاً) (٥).
٨ - الذكر الوارد بعد الوضوء: لقوله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (ما منكم أحد يتوضأ فيسبغ الوضوء ثم يقول: أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، إلا فتحت له أبواب الجنة الثمانية، يدخل من أيها شاء) (٦).





(٣) أخرجه أحمد (٢/ ٤١٨)، وأبو داود برقم (١٠١)، والحاكم (١/ ١٤٧) وغيرهم من حديث أبي هريرة - رضي الله عنه -، وحسنه: ابن الصلاح، وابن كثير، والعراقي، وقواه المنذري وابن حجر، وقال الألباني: حسن.
(إرواء الغليل ١/ ١٢٢).
(٤) أخرجه البخاري معلقاً بصيغة جزم: ك الصيام، ب سواك الرطب واليابس للصائم. ووصله النسائي (انظر: فتح الباري ٤/ ١٥٩).
 

(١) أخرجه أبو داود برقم (١٤٢)، والنسائي (١/ ٦٦ رقم ٨٧)، وصححه الألباني (صحيح النسائي رقم ٨٥).
(٢) رواه ابن حبان في صحيحه (٣/ ٣٦٣) برقم (١٠٨٢)، والبيهقي في السنن الكبرى (١/ ١٩٦)، والحاكم في المستدرك (١/ ٢٤٣) وصححه، وابن خزيمة في صحيحه (١/ ٦٢)، والإمام أحمد في مسنده (٤/ ٣٩).
(٣) رواه أبو داود برقم (١٤٥)، وصححه الألباني (الإرواء برقم ٩٢).
(٤) متفق عليه: رواه البخاري برقم (١٦٨)، ومسلم برقم (٢٢٦).
(٥) متفق عليه: رواه البخاري برقم (١٥٧، ١٥٨، ١٥٩) ومسلم برقم (٢٢٦) وعنده ذكر الثلاث فقط.
(٦) أخرجه مسلم برقم (٢٣٤) وزاد الترمذي: (اللهم اجعلني من التوابين واجعلني من المتطهرين) برقم (٥٥)، وصححه بهذه الزيادة الألباني (الإرواء برقم ٩٦).
 

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)