“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Kamis, 30 Juli 2020

Bersikap Pertengahan Dalam Menggunakan Harta


Apakah berhias dan memakai pakaian-pakaian yang mewah menafikkan zuhud?

Syaikh Sholih bin Fauzan Al-Fauzan -hafidzahulloh- menjawab:

Seseorang hendaklah bersikap pertengahan. Hendaklah bersikap pertengahan. Jika Alloh memberikan nikmat kepadanya hendaklah bersikap pertengahan tidak boros dalam masalah pakaian, wewangian dan kendaraan.
Dan janganlah seperti kondisi orang-orang fakir sehingga mengingkari nikmat Alloh yang diberikan padanya. Bersikap pertengahanlah dalam urusanNya. Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan antara kikir dan pemborosan.

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُواْ لَمۡ يُسۡرِفُواْ وَلَمۡ يَقۡتُرُواْ

"Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir" (QS Al-Furqan: 67)

Pertengahan antara kikir dan bakhil dengan berlebih-lebihan.

‏🔵 هل التجمل ولبس الملابس الفاخرة ينافي الزهد ؟

قال الشيخ صالح بن فوزان الفوزان
حفظه الله :

يتوسط الإنسان ، الإنسان يتوسط ، إذا أعطاه الله نعمة يتوسط ما يسرف في اللباس والطيب والمراكب.

ولا  يكون كهيئة الفقراء ؛ فيجحد نعمة الله عليه. فليتوسط في أمره ، وخير الأمور الوسط ، https://t.co/CZL9CvdMmX‎

Minggu, 26 Juli 2020

Tidak Ada Yang Mengetahui Perkara Ghaib Kecuali Alloh


Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:
لا يعلم الغيب أحد إلا الله
"Tidak ada yang mengetahui perkara ghaib kecuali Alloh"

Penjelasan:
Kemudian penulis -hafidzahullohu ta'ala- membawakan dalil dalil akan hal itu. Dan kami akan menyusunnya sebagai berikut:

1. Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dan para Nabi sebelumnya tidaklah mengetahui perkara yang ghaib kecuali sebagian darinya yang Alloh -ta'ala- ajarkan pada mereka.
Alloh -ta'ala- berfirman:
قُل لَّآ أَقُولُ لَكُمۡ عِندِي خَزَآئِنُ ٱللَّهِ وَلَآ أَعۡلَمُ ٱلۡغَيۡبَ وَلَآ أَقُولُ لَكُمۡ إِنِّي مَلَكٌۖ إِنۡ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَيَّۚ قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلۡأَعۡمَىٰ وَٱلۡبَصِيرُۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.” Katakanlah, “Apakah sama antara orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?”(QS Al-An'am: 50)

Alloh berfirman:

قُل لَّآ أَمۡلِكُ لِنَفۡسِي نَفۡعٗا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُۚ وَلَوۡ كُنتُ أَعۡلَمُ ٱلۡغَيۡبَ لَٱسۡتَكۡثَرۡتُ مِنَ ٱلۡخَيۡرِ وَمَا مَسَّنِيَ ٱلسُّوٓءُۚ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ وَبَشِيرٞ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS Al-A'raf: 188)

Nabi Nuh -alaihis salam- berkata:
وَلَآ أَقُولُ لَكُمۡ عِندِي خَزَآئِنُ ٱللَّهِ وَلَآ أَعۡلَمُ ٱلۡغَيۡبَ
"Dan aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tidak mengetahui yang gaib..." (QS Hud: 31)

Alloh -ta'ala- berfirman:
عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا

"Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya.(QS Al-Jin: 26-27)

2. Para malaikat tidak mengetahui perkara yang ghaib kecuali yang diajarkan oleh Alloh kepada mereka. Sebagaimana yang Alloh khabarkan tentang mereka bahwa mereka berkata:

قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ

“Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.” (QS  Al-Baqarah: 32)

Alloh -ta'ala- telah mengkabarkan tentang mereka:

حَتَّىٰٓ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمۡ قَالُواْ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمۡۖ قَالُواْ ٱلۡحَقَّۖ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡكَبِيرُ

" Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab, “(Perkataan) yang benar,” dan Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar"(QS Saba': 23)
Dua hal ini tidak disebutkan oleh penulis.

3. Jin tidak mengetahui perkara ghaib. Alloh ta'ala berfirman:
فَلَمَّا قَضَيۡنَا عَلَيۡهِ ٱلۡمَوۡتَ مَا دَلَّهُمۡ عَلَىٰ مَوۡتِهِۦٓ إِلَّا دَآبَّةُ ٱلۡأَرۡضِ تَأۡكُلُ مِنسَأَتَهُۥۖ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ ٱلۡجِنُّ أَن لَّوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٱلۡغَيۡبَ مَا لَبِثُواْ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلۡمُهِينِ

"Maka ketika Kami telah menetapkan kematian atasnya (Sulaiman), tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka ketika dia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentu mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan" (QS Saba': 14)

4. Dukun dan ahli nujum sama sekali tidak mengetahui perkara ghaib. Alloh -ta'ala- berfirman:
قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُۚ وَمَا يَشۡعُرُونَ أَيَّانَ يُبۡعَثُونَ

"Katakanlah (Muhammad), “Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.”(QS An-Naml: 65)

Dan firmanNya:
۞وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ

"Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia" (QS Al-An'am: 59)
FirmanNya:
فَقُلۡ إِنَّمَا ٱلۡغَيۡبُ لِلَّهِ
"Katakanlah, “Sungguh, segala yang gaib itu hanya milik Allah"(QS Yunus: 20)
FirmanNya:
قُلِ ٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا لَبِثُواْۖ لَهُۥ غَيۡبُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ

Katakanlah, “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi" (QS Al-Kahfi: 26)
Dan firmanNya:
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُطۡلِعَكُمۡ عَلَى ٱلۡغَيۡبِ

" Allah tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib"(QS Ali 'Imran: 179)

Penulis -hafidzahulloh- ta'ala berkata:
عَنِ عبد الله بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " مَفَاتِحُ الغَيْبِ خَمْسٌ لاَ يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ: لاَ يَعْلَمُ أحد مَا يكون فِي غَدٍ إِلَّا اللَّهُ، وَلاَ يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُوْنُ فِي  الأَرْحَامُ إِلَّا اللَّهُ، وَ لَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا؛ وَلَا تَدْرِيْ نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ؛ وَلَا يَعْلَمُ أَحَدٌ مَتَى يَجِيْءُ المَطَرُ إِلَا اللّٰه ، وَلَا يَعْلَمُ مَتَى تَقُوْمُ السَّاعَةُ إِلَا اللّٰه "
"Dari Abdullah bin Umar -radhiyallohu 'anhuma: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Kunci-kunci hal yang ghaib ada lima tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh: tidak ada seorang pun yang tau apa yang akan terjadi besok kecuali Alloh. Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim kecuali Alloh. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan dikerjakan besok. Tidak ada seorang pun yang yang tahu di mana dia akan mati. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan datangnya hujan kecuali Alloh. Dan tidak ada seorang pun yang tahu kapan datangnya hari kiamat kecuali Alloh" (Dikeluarkan Al-Bukhari dan Ahmad dengan sanad shahih)

Penjelasan:
Ucapan beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- : "Kunci-kunci yang ghaib ada 5, tiada yang mengetahuinya kecuali Alloh.." Khabar dari Rasululloh yang perkataannya benar lagi dibenarkan ini menunjukkan akan dustanya orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib dari kalangan dukun, tukang ramal, ahli nujum dan orang-orang upahan seperti penyihir yang mereka memakan harta manusia dengan batil.
Jika ada yang berkata: Sesungguhnya manusia berkata: Besok aku akan melakukan demikian dan demikian, padahal Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- berkata: "tiada jiwa yang mengetahui apa yang akan dilakukan besok"?
Jawabnya: Bahwasannya di sana ada perbedaan antara hasil dan harapan. Terkadang seseorang merencanakan dan memperhitungkan untuk melakukan demikian dan demikian. Kemudian ada penghalang yang menghalangi antara dia dan rencana yang telah dia niatkan untuk mengerjakannya. Berdasarkan hal ini maka manusia tidak bisa mengetahui secara yakin dan bahkan tidak pula dengan dugaan yang kuat bahwa dia besok akan melakukan demikian dan demikian.

Dan perkataan beliau: "Dan tiada seorang pun yang mengetahui kapan turun hujan kecuali Alloh..."

Perkataan beliau: "Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim kecuali Alloh...". Terkadang ada orang yang berkata: Sesungguhnya para dokter menginformasikan bahwa seorang wanita hamil, dan bahwa janinnya hidup atau mati di dalam rahimnya.
Jawaban akan pernyataan ini bahwa mereka (para dokter) tidak mengetahui berapa banyak yang akan menjadi rejekinya, seberapa lama hidupnya, tidak pula mengetahui bahagia dan celakanya. Ini seandainya kita terima bahwa mereka mengetahui jenis kelamin laki-laki dan perempuannya (bayi yang ada di rahim).
Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡأَرۡحَامِۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسٞ مَّاذَا تَكۡسِبُ غَدٗاۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسُۢ بِأَيِّ أَرۡضٖ تَمُوتُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرُۢ

"Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal".(QS Luqman: 34)

Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:
Aku katakan: Dari ayat-ayat dan hadits-hadits yang mulia ini maka menjadi jelaslah bagi para pembaca yang bijaksana akan batilnya apa yang dibawakan para dukun, tukang ramal dan ahli nujum berupa kedustaan dan penyesatan, seperti Mahdi Amiin dan rekannya Al-Maushuful Muhyiah, Qawiir dan yang selainnya dari kalangan para dukun. Karena tidak ada seorang pun yang mengetahui perkara ghaib kecuali Alloh saja yang tiada sekutu bagiNya.

Penjelasan:
Dan dari terdahulu yang dibawakan penulis maka menjadi jelaslah bahwa orang yang mengklaim mengetahui hal ghaib bersama Alloh atau selain Alloh maka dia kafir, wal 'iyadu billah.

Diterjemahkan dari kitab Tuhfatul Murid Syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al-Watr hal 118-122.

Bagian Ketiga: Bersiwak Dengan Apa?

Disunnahkan bersiwak dengan ranting yang basah dan tidak remuk serta tidak melukai mulut. Sesungguhnya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- beraiwak dengan ranting Araak. Beliau bersiwak dengan tangan kanan atau kiri. Permasalahan ini luas (ada keleluasaan untuk bersiwak dengan tangan kanan atau kiri).
Apabila beliau tidak memiliki ranting yang bisa dipakai bersiwak ketika wudhu maka beliau mencukupkannya bersiwak dengan jari-jarinya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib -radhiyallohu 'anhu- dalam shifat wudhu' Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-. (Diriwayatkan Imam Ahmad dalam musndnya dan dishahihkan Ibnu Hajar dalam At-Takhlis)

Diterjemahkan dari Kitab Fiqih Muyassar.

المسألة الثالثة: بم يكون؟
يسن أن يكون التسوك بعود رطب لا يتفتت، ولا يجرح الفم؛ فإن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كان يستاك بعود أراك (١). وله أن يتسوك بيده اليمنى أو اليسرى، فالأمر في هذا واسع.
فإن لم يكن عنده عود يستاك به حال الوضوء، أجزأه التسوك بأصبعه، كما روى ذلك عليُّ بن أبي طالب - رضي الله عنه - في صفة وضوء النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -. (٢)

١) الأرَاك: شجر من الحمض يستاك بقضبانه، واسمه الكَبَاث.
(٢) أخرجه أحمد في المسند (١/ ١٥٨)، وصححه ابن حجر في التلخيص الحبير (١/ ٧٠).

Penjelasan Surat An-Nisaa' ayat 58: Alloh Pemberi Bimbingan Paling Baik

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 209 - 212

Alloh -ta'ala- berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ
"Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu" (QS An-Nisa': 58)

Ayat ini adalah lanjutan dari firman Alloh -ta'ala-:
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil" (QS An-Nisa': 58)

Alloh -azza wa jalla- memerintahkan untuk menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan di antaranya juga persaksiaan atas seseorang baik atau buruknya. Dan agar ketika kita memutuskan perkara di antara manusia dengan adil. Alloh -subhanahu wa ta'ala- menjelaskan bahwa Dia memerintahkan kepada kita untuk menegakkan kewajiban dalam alur hukum dan hukum itu sendiri. Alur hukum yaitu persaksian masuk dalam keumuman firmanNya: أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا "agar kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya" dan hukum yaitu:  وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن  تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ "dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil". Kemudian Alloh -ta'ala- berfirman: إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ "Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu" asalnya adalah: نِعْمَ ما namun mim dan mim diidghamkan dengan idgham kabiir sebab idgham tidak bisa dilakukan diantara dua huruf yang sejenis kecuali jika yang pertama sukun. Dan di sini menjadi idgham dengan huruf pertama fathah.

FirmanNya:  نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ "memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu". Alloh -subhanahu wa ta' ala- menjadikan perintah dengan dua hal ini -yakni menunaikan amanah dan memutuskan perkara dengan adil- sebagai pengajaran sebab hal ini bisa menjadikan baiknya hati. Dan setiap yang menjadikan baiknya hati maka itu adalah mauidzah (pengajaran/nasehat). Dan menegakkan perintah-perintah ini tidak diragukan lagi menjadikan baiknya hati.

Kemudian Alloh berfirman: إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا "Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat". FirmanNya : كَانَ ini adalah fi'il namun tak terkait dengan waktu 1). Maksudnya adalah penunjukkan pada sifat saja. Yakni, bahwasannya Alloh memiliki sifat maha mendengar dan maha melihat. Hanya saja kita katakan tak terkait dengan waktu sebab seandainya kita tetap membiarkannya dengan penunjukkan waktu (yang telah lampau) niscaya shifat ini telah berakhir2). Dulu di awalnya (Alloh) Maha Mendengar dan Maha Melihat adapun sekarang tidaklah demikian !!!? Jelas diketahui bahwa makna ini jelas rusak dan bathil. Maksudnya hanyalah bahwa Alloh bersifat dengan dua sifat ini yaitu As-Samii(Maha Mendengar) dan Al-Bashir(Maha Melihat) secara terus menerus. Dan كَانَ (kaana) pada konteks ini dimaksudkan untuk tahqiiq (penetapan kebenaran).

FirmanNya:  سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا (Maha Mendengar lagi Maha Melihat). Kita katakan sebagaimana kita katakan pada ayat sebelumnya: di dalamnya ada penetapan AsSam'u (pendengaran) untuk Alloh dengan dua maknanya 3) dan penetapan Al-Bashr (penglihatan) Alloh dengan dua maknanya 4).

Abu Hurairah membaca ayat ini dan berkata:
إن الرسول الله - صلى الله عليه وسلم- وضع إبهامه سبابته على عينه وأذنه
"Sesungguhnya Rasululloh shoallohu 'alaihi wa sallam- meletakkan ibu jari dan jari telunjuknya ke matanya dan telinganya"

Maksudnya dengan meletakkan ini adalah sebagai penetapan kebenaran pendengaran dan penglihatan (bagi Alloh) bukan menetapkan mata dan telinga; sebab penetapan tentang mata (bagi Alloh) ada di dalil-dalil yang lain. Adapun telinga (bagi Alloh) menurut ahlus sunnah wal jamaah tidaklah ditetapkan bagi Alloh dan tidak pula dinafi'kan dariNya karena tiada dalil tentang hal itu.
Jika ditanyakan kepadamu: Apakah kita juga mesti melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasululloh -sholallahu 'alaihi wa sallam-?
Jawabnya: Sebagian ulama mengatakan: iya! Lakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasululloh. Engkau tidaklah lebih mendapat petunjuk dari pada Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam- dan engkau juga tidaklah lebih berhati-hati dari Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dalam menyandarkan kepada Alloh apa yang tidak layak bagiNya.
Di antaranya ada yang mengataan: Tidak ada perlunya engkau melakukannya selama kita mengetahui bahwa maksudnya adalah penetapan kebenaran. Dengan demikian, isyarat ini bukanlah yang dimaksudkan namun dimaksudkan untuk hal yang lain (penetapan mendengar dan melihat bagi Alloh pent). Sehingga dengan demikian tidak perlu berisyarat (dengan cara seperti itu -pent) terlebih jika ditakutkan dengan isyarat seperti ini menjadikan manusia mengkhayalkan tamtsil (permisalan); sebagaimana jika di hadapanmu ada orang awam yang mereka tidak memahami sesuatu sebagaimana mestinya; dengan demikian selayaknya menahan diri dari hal ini. Dan setiap perkataan ada tempatnya tersendiri.
Demikian pula riwayat yang datang dari hadits Ibnu Umar bagaimana Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
يَأْخُذُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ سَمَاوَاتِهِ وَأَرَضِيهِ بِيَدَيْهِ فَيَقُولُ أَنَا اللَّهُ وَيَقْبِضُ أَصَابِعَهُ وَيَبْسُطُهَا
"Alloh -'azza wa jalla- menggenggam langitlangit dan buinya dengan kedua tanganNya. Lalu berfirman: "Akulah Alloh". Rasululloh menggenggam jari-jarinya dan merenggangkannya" (HR Muslim dari hadits Ibnu Umar -radhiyallohu 'anhuma-)

Dikatakan di sini apa yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah.
Dan faidah yang dapat dari iman kepada dua sifat -As-Sam'u dan Al-Bashor-: kita berhati-hati menyelisihi Alloh dalam perkataan-perkataan kita dan perbuatan-perbuatan kita.
Dalam ayat ini terdapat nama-nama Alloh -ditetapkan dua nama yaitu-: As-Samii' (Maha Mendengar) dan Al-Bashir (Maha Melihat). Dan terdapat shifat-shifat Alloh: ditetapkannya pendengaran, penglihatan, perintah dan nasehat (mau'idzoh).

Catatan Penterjemah:
1). Fi'il adalah kata yang menunjukkan suatu kejadian yang terkait dengan waktu, baik waktu lampau (fi'il madhi), sekarang maupun yang akan datang(fi'il mudhari) dan fi'il yang menuntut pekerjaan setelah waktu pembicaraan. Adapun كَانَ ini masuk pada fi'il madhi. Namun dalam konteks ini kata kaana ini penunjukkan waktunya dinafi'kan (ditiadakan). Jadi hanya menjelaskan tentang sifat Alloh saja.
2). Kaana (كَانَ )untuk waktu yang telah berlalu (fi'il madhi)namun sifat Alloh adalah azali dan abadi. Alloh akan senantiasa bersifat dengan sifat maha melihat dan maha mendengar.
3). As-Sam'u (pendengaran) Alloh maknanya: Mengabulkan do'a dan mendengar segala sesuatu.
4). Al-Bashar (penglihatan) Alloh maknanya: mengetahui segala sesuatu dan melihat segala sesuaatu.

Jumat, 24 Juli 2020

Jangan Bengong Sendirian


Wahai Para Pemuda,
Sibukkanlah dirimu meski dengan perkara yang mubah,
Dan berhati-hatilah dirimu dengan waktu nganggur dan sendirian meskipun engkau bersama manusia dengan kebaikan.
Ketahuilah bahwa pertemanan yang amanah meski dalam perkara mubah itu lebih baik dari pada nganggur dan sendirian.
Nganggur dan sendirian adalah pintu masuk dari berbagai keburukan. Kebanyakan dari kemunduran dan berubah adalah karena hal tersebut. (Serigala hanya memangsa kambing yang terpisah sendirian).

‏أيها الشاب 
 أشغل نفسك ولو بالمباح
وإياك والفراغ والوحدة، ولو كنت بين الناس بالخير مذكورا.

واعلم أن الصحبة الآمنة ولو في المباحات خير من الفراغ والوحدة.

فالفراغ مع الوحدة بوابة كثير من الشرور.
وكثير من النكوص والتغير كان في ذلك الحال
(وإنما يأكل الذئب من الغنم القاصية)

dari tweet Syaikh Abdul Aziz Asy-Syayi'

Kamis, 23 Juli 2020

Doa Bisa Menjadi Pengangkat Musibah

Cukuplah Alloh -ta'ala- Sebaik-baik Penolong...

Syaikh Abdul 'Aziz Asy-Syayi berkata:

Bergantung kepada selain Alloh menjadikan urusan tercerai-berai dan binasa. Penyembuhannya adalah dengan melanggengkan doa di setiap waktu:

 اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

"Ya Alloh, cukupilah aku dengan rezekiMu yang halal sehingga tidak butuh lagi dari yang haram. Cukupkanlah aku dengan karuniaMu dari membutuhkan kepada selainMu"

اللهم حبب إلي الإيمان وزينه في قلبي وكره إلي الكفر والفسوق والعصيان واجعلني من الراشدين

"Ya Alloh jadikanlah aku mencintai keimanan dan jadikanlah keimanan itu indah dalam hatiku. Dan jadikanlah aku membenci kekufuran, kefasikan dan maksiat-maksiat. Serta jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk".

Sesungguhnya senantiasa berdoa bisa mengangkat musibah, mengikhlaskan hati dan menjadikan kekuatan di dalamnya sehingga tidaklah ia peduli kecuali dengan apa yang dikehendaki Alloh.

Dari tweet beliau.

Maksiat Penyebab Musibah di Bumi

Ka'ab berkata kepasa Ibnu Abbas -radhiyallohu 'anhuma: 
"Jika engkau melihat pedang-pedang telah terhunus dan darah-darah tertumpah maka ketahuilah sesungguhnya perintah Alloh telah diabaikan di muka bumi sehingga Alloh menghukum mereka dengan sebagian yang lain.
Jika engkau melihat hujan dari langit telah tertahan maka ketahuilah sesungguhnya zakat telah ditahan(enggan membayarkannya) sehingga Alloh pun menahan apa yang ada di sisiNya.
Apabila engkau melihat wabah merajalela maka ketahuilah sesungguhnya zina telah merajalela.

(Hilyatul Auliaa)
‏قال كعب لابن عباس رضي الله عنهما:
 إذا رأيت السيوف قد عريت والدماء قد أُريقت فاعلم أن أمر الله قد ضُيِّع في الأرض، فانتقم الله من بعضهم لبعض،
 وإذا رأيت قطر السماء قد مُنِع فاعلم أن الزكاة قد مُنِعت فمنع الله ماعنده
وإذا رأيت الوباء قد فشا فاعلم أن الزنا قد فشا.

📚حلية الأولياء

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)