“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Senin, 09 Desember 2019

Hadits (54): Qodho' Sholat yang Tertinggal dan Tatacaranya

Hadits 54:

عَن جَابر بْنِ عَبْدِ الله رَضيَ الله عَنْهُمَا: أنَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضي الله عَنْهُ، جَاءَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ بَعْدَ مَا غَرَبَتِ الشمس فَجَعَل يَسُبّ كُفَّارَ قُرَيْش، وَقَالَ: يَا رسول الله، مَا كِدتُ أصَلي العَصر حَتَّى كَادَتِ الشمسْ تَغْرُبُ.
فَقَاَل النَبيُّ صَلّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلّمَ: " والله مَا صَليْتُهَا ".
قَالَ: فَقُمْنَا إِلى بُطْحَانَ فَتَوَضَّأ للصّلاةَ وتوضأنا لَهَا، فصَلّى العَصْرَ بَعْدَ مَا غَرَبَتِ الشَّمس، ثُم صَلّى بَعْدَهَا المَغْرِبَ.
"Dari Jabir bin 'Abdullah -radhiyallohu 'anhuma-: Bahwa Umar bin Khottob -radhiyallohu 'anhu- datang pada saat perang Khandaq setelah terbenamnya matahari. Maka mulailah dia mencerca kafir Quraisy. Beliau berkata: "Ya Rasululloh, hampir-hampir aku tidak pernah mengerjakan sholat Ashar hingga matahari nyaris terbenam". Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- berkata: "Demi Alloh, aku belum mengerjakannya (Ashar)".
Dia (Jabir) berkata: Kami pergi ke Buthan lalu beliau berwudhu' untuk sholat dan kami pun berwudhu' untuk sholat. Beliau sholat Ashar setelah matahari tenggelam, kemudian sholat Maghrib setelahnya". (HR Bukhari 596 dan Muslim 631).

Penjelasan Lafadz:
(1). Makna يَوْمَ الْخَنْدَقِ yaitu perang A-Ahzab yang orang-orang Quraisy datang bersama kabilah-kabilah Najd. Mereka mengepung kota Madinah.
(2). Makna  مَا كِدتُ dengan mengkasrahkan kaf dan 'Kaada' termasuk fi'il muqorobah, yang artinya: hampir mendapatkan sesuatu yang tidak didapatkan.
(3). Makna غَرَبَتِ (tenggelam). Az-Zarkasyi berkata: dengan fathah ra'. Dan dianggap keliru dengan dhommah. Dan maknanya di sini: Tidak pernah aku sholat Ashar sampai matahari hampir tenggelam.
(4). Makna بُطْحَانَ dengan dhommah ba' dan mensukunkan tho' yaitu suatu lembah di kota madinah.

makna Global:
Umar bin Khottob -radhiyallohu 'anhu- datang kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- pada perang Khondaq setelah matahari tenggelam dengan mencaci orang-orang kafir Quraisy sebab mereka telah membuatnya sibuk dari mengerjakan sholat Ashar. Dan dia tidaklah mengerjakannya sampai matahari hampir tenggelam. Maka Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersumpah -dan beliau adalah orang yang benar- bahwa beliau belum mengerjakannya sampai saat ini untuk menenangkan Umar yang perkara ini telah membuatnya sempit.

Kemudian bangkit Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- lalu berwudhu' dan para shahabat berwudhu' bersama beliau. Beliau mengerjakan sholat Ashar setelah matahari tenggelam, dan setelah sholat Ashar beliau mengerjakan sholat maghrib.

Kesimpulan Hadits:
1. Wajibnya melakukan qadha' sholat lima waktu yang terluput.
2. Dzahirnya bahwa mengakhirkannya (sholat ashar) dalam qodha' ini tidaklah karena lupa namun dengan sengaja. Tapi hal ini sebelum disyariatkannya sholat khouf sebagaimana yang dikuatkan oleh para ulama.
3. Di dalamnya ada dalil mendahulukan sholat yang tertinggal daripada sholat yang sedang datang waktunya selama tidak sempit waktunya. Dengan mendahulukan tersebut agar tidak semakin banyak yang tertinggal (sholatnya).
4. Bolehnya mendoakan keburukan kepada orang yang dzolim karena Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- tidak mengingkaari hal tersebut.
5. Disyariatkannya meringankan musibah atas orang yang tertimpanya.
6. Bolehnya orang yang jujur bersumpah meski tidak diminta bersumpah.

Minggu, 08 Desember 2019

Hadits (52 & 53): Larangan Sholat Ketika Makanan Dihidangkan Atau Menahan Hadats

Hadits 52:
عن عَبْدِ الله بْنِ عَبَّاس رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَال " شَهدَ عِنْدي رِجَال مَرْضيونَ وأرْضَاهُمْ عِنْدِي عُمَرُ: أن رَسُوَل الله صلى الله عليه وسلم نَهَى عن الصلاةِ بَعْدَ الصبحِ حَتى تَطْلُع الشمس، وبَعْدَ العصر حَتًى تَغْرُبَ ". وما في معناه من الحديث.
"Dari Abdulloh bin Abbas -radhiyallohu 'anhuma- berkata: Orang-orang yang diridhoi memberikan persaksian di sisiku -dan yang paling diridhai di antara mereka menurutku adalah Umar-: "Bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- melarang sholat setelah subuh sampai terbit matahari dan setelah Ashar sampai terbenam matahari" dan apa yang maknanya seperti hadits ini. (HR Bukhari 581 & Muslim 826)

Hadits 53:
عَنْ أبي سَعِيدٍ الخُدْرِي رَضيَ الله عَنْهُ عن رَسُول الله صَلَّى الله عَلَيهِ وسلم قَاَل: " لا صَلاةَ بَعدَ الصّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشمس ، وَلا صلاَةَ(1) بَعْدَ العصْرِ حَتَى تَغِيبَ الشمسُ".

قال المصنف: وفى الباب عن على بن أبي طالب، وعبد الله بن عمرو بن العاص، وأبي هريرة، وسمرة بن جندب، وسلمة بن الأكوع، وزيد بن ثابت، ومعاذ بن جبل، وكعب بن مرة، وأبي أمامة الباهلي، وعمرو بن عَبَسَةَ السُلمِّي، وعائشة -رضي الله عنهم- والصُّنابحى، ولم يسمع من النبي صلى الله عليه وسلم فحديثه مُرْسل.

Dari Abu Sa'id Al-Khudry -radhiyallohu 'anhu- dari Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Tidak ada sholat setelah subuh sampai matahari terbit, dan tidak ada sholat setelah Ashar sampai matahari terbenam".

Penulis berkata: Dalam bab ini terdapat hadits lain yang diriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib, Abdullah bin Amr bin 'Ash, Abu Hurairah, Samurah bin Jundub, Salamah bin Al-Akwa', Zaid bin Tsabit, Muadz bin Jabal, Ka'ab bin Murrah, Abu Umamah Al-bahily, Amr bin Abasah As-Sulamy dan 'Aisyah -radhiyallohu 'anhum-dan Ash-Shonabahi dan dia tidak mendengar dari Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- sehingga haditsnya mursal.

Makna Global:
Dalam kedua hadits ini Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- melarang sholat setelah Shubuh sampai terbit matahari dan meninggi seukuran tombak; atu sekitar 3 meter.
Dan beliau juga melarang sholat setelah Ashar sampai matahari tenggelam sebab sholat di kedua waktu ini menyerupai orang-orang musyrik yang menyembah matahari ketika terbit dan terbenamnya. Beliau telah melarang kita menyerupai mereka dalam peribadahan, sebab barang siapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.

Perbedaan Pendapat Ulama:
Ulama berselisih pendapat mengenai sholat di waktu-waktu ini.
Jumhur ulama berpendapat bahwa sholatnya makruh; mereka berdalil dengan hadits-hadits ini dan yang selainnya. Dzohiriyah berpendapat bahwa boleh sholat pada waktu tersebut mereka berargumen tentang hadits-hadits yang melarang bahwa hadits-hadits tersebut mansukh (terhapus hukumnya).
Setiap hadits-hadits yang mereka anggap nasikh (pengganti) para ulama menjadikannya termasuk bab membawa yang mutlak kepada yang muqayyad atau bentuk khusus atas keumuman. Dan tidaklah memenuhi syarat naskh (terhapus) kecuali apabila tidak mungkin untuk dijama' (digabungkan). Dan di sini memungkinkan hal tersebut dengan mudah.

Kemudian mereka berbeda pendapat: Sholat apa yang terlarang pada waktu-waktu ini?
Hanfiyah, Malikiyah dan Hanabilah berpendapat seluruh sholat sunnah kecuali dua rekaat thawaf. Mereka berdalil dengan keumuman larangan yang ada pada hadits-hadits yang datang.
Sedangkan madzhab Syafi'iyyah dan sebuah riwayat dari Ahmad dan ini menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan jamaah dari sahabat-sahabat kami: bahwa itu adalah sholat-sholat nawafil (sunnah) mutlak yang tidak terikat oleh sebab, ada pun sholat-sholat yang memiliki sebab seperti tahiyatul masjid bagi orang yang memasukinya dan dua rokaat sholat sunnah wudhu' maka boleh karena adanya sebab di waktu kapan pun.

Dalil mereka adalah hadits-hadits khusus untuk sholat-sholat ini; karena hadits-hadits tentang sholat ini mengkhususkan hadits-hadits yang melarang secara umum.

Berdasarkan pendapat ini bisa digabungkan seluruh dalil dan bisa diamalkan masing-masing hadits dari kedua sisi.
Kemudian mereka berbeda pendapat: Apakah larangan di waktu shubuh ini dimulai dari terbitnya fajar kedua ataukah dari sholat subuh?

Hanafiyah berpendapat bahwa dimulai dari terbitnya fajar dan ini masyhur dari madzhab Hanabilah. Mereka berdalil dengan beberapa hadits di antaranya yang diriwayatkan ashabus sunan yang empat dari Ibnu Umar bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
لا صلاة بعد الفجر إﻻ سجدتين
"Tidak ada sholat setelah fajar kecuali dua sujud (sholat sunnah fajar 2 rekaat)".(1)
Hal itu menunjukkan akan terlarangnya sholat sunnah setelah terbit fajar kecuali dua rekaat fajar; sebab maksud dari peniadaan adalah larangan.
Kebanyakan para ulama berpendapat bahwa larangan dimulai dari sholat fajar (subuh) bukan dari terbitnya fajar. Mereka berdalil dengan beberapa hadits di antaranya yang diriwayatkan Al-Bukhari(2) dari Abu Sa'id:
ﻻ صلاة بعد صلاة الفجر حتى تطلع الشمس
"Tidak ada sholat setelah sholat Shubuh sampai terbit matahari"
Dan yang diriwayatkan Imam Bukhari juga dari Umar in Khottob bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
ﻻ صلاة بعد صلاة الصبح حتى تطلع الشمس
"Tidak ada sholat setelah sholat Shubuh sampai terbit matahari" (3)
Dan hadits-hadits selainnya yang banyak dan shahih.

Pendalilan kelompok pertama ada kritikan padanya dan tidaklah sekuat hadits-hadits ini.

Kesimpulan Hadits:
1. Larangan mengerjakan sholat sunnah mutlak setelah sholat Shubuh hingga matahari terbit dan naik seukuran 3 meter.
2. Larangan mengerjakan sholat sunnah mutlak setelah shalat Ashar sampai matahari tenggelam.
3. Berdasarkan hadits Abu Sa'id ﻻ صلاة بعد صلاة الفجر (Tidak ada sholat setelah sholat Subuh) bahwa penafikan di sini untuk jenis, dan ini konsekwensi dari bahasa. Namun bentuk penafikkan apabila masuk kepada amalan dalam lafadz-lafadz Syaari'(pembuat Syariat) maka yang lebih utama membawanya kepada peniadaan amalan syar'i sebab jenis sholat tidak mungkin di tiadakan. Maka Syari' memutlakkan lafadz-lafadznya kepada kebiasaannya yaitu syar'i.
4. Dipahami dari sebagian hadits-hadits bahwa illat larangan adalah kekhawatiran menyerupai orang-orang kafir. Maka disimpulkan dari sini larangan menyerupai dan mengekor mereka dalam peribadahan, tradisi-tradisi dan kebiasaan-kebiasaan mereka.

Faidah:
Penulis tidak menyampaikan yang ketiga dari waktu-waktu larangan padahal telah shahih dalam hadits-hadits; yaitu waktu singkat yang dimulai ketika matahari tepat di atas sampai tergelincir. Telah ada ketetapan larangan sholat padanya dengan beberapa hadits:
Di antaranya yang diriwayatkan Muslim (831) dari Uqbah bin Amir:
ثَلاثُ سَاعَاتٍ نَهَانَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم أنْ نُصَلّىَ فِيهنَّ، وَأن نَقبُرَ فِيهنَّ مَوْتَانَا- إحداها: حِينَ يَقُومُ قائِمُ الظَّهِيرَةِ
"Tiga waktu yang Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- melarang kami untuk sholat padanya dan menguburkan jenazah padaya. -salah satunya- ketika matahari tepat dipuncaknya"

Di antaranya juga yang diriwayatkan Muslim juga dari Amr bin Abasah, di antaranya:
ثُمَّ صَلّ حَتى يَستقل الظل بِالرمْح، ثم أقصِرْ عَنِ الصّلاة، فَإنَه حينَئِذِ تُسْجَرُ جَهَنم
"Kemudian sholatlah sampai bayangan memendek seukuran tombak, kemudian tahanlah dari menerjakan sholat karena pada waktu itu neraka Jahannam di nyalakan".

Faidah Kedua:
Banyak dari hukum-hukum syar'i yang dibangun atas dasar menjauhi keserupaan dengan orang-orang musyrik; sebab dengan taklid dan menyerupai mereka memberikan pengaruh terhadap jiwa. Bertahap dan berangsur-angsur sampai menganggap baik perbuatan mereka dan mengikutinya. Sehingga sirnalah dari kaum muslimin kemulian, ciri khas, kemandirian dan menjadi pengekor mereka. Sungguh telah melebur kepribadian dan karekteristik kaum muslimin dengan mereka. Dengan demikian mereka bisa menyetir kaum muslimin.

Islam menghendaki dari kaum muslimin kemulian mereka, ciri khas dalam ibadah mereka, tradisi mereka, kebiasaan-kebiasaan mereka dan seluruh kondisi mereka. Dan menghendaki dari mereka umat yang mandiri, yang mereka memiliki shifat yang khusus dan karekteristik yang dikenal.

Namun sangat disayangkan; kita dapati kaum muslimin di masa sekarang mengekor dibelakang mereka (orang-orang kafir) tanpa peduli dan tanpa pengetahuan; apa pun yang datang dari barat maka itu baik (menurut mereka) dan setiap perbuatan yang datang dari mereka maka itu bagus meski menyelisihi agama dan akhlak. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Ya Alloh, bangunkanlah kaum muslimin dari tidurnya, dan peringatkanlah mereka dari kelalaiannya, dan satukanlah kalimat mereka di atas kebenaran dan petunjuk. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan do'a.

Dan bukanlah maksudnya bahwa kita tidak mempelajari pengetahuan mereka dari industri dan penemuan teknologi sebab ini adalah ilmu yang dipelajari oleh siapa pun dan kita lebih layak mempelajarinya dari pada mereka; sebab kita -tatkala kita mempelajarinya- kita akan memanfaatkannya untuk perkara yang diperintahkan oleh agama kita untuk menciptakan keamanan dan perdamaian serta kebaagian manusia. Adapun jika berada di tangan penjajah maka akan menjadi alat penghancur dan perusak dunia.

Note:
(1). Hadits ini tidak diriwayatkan seluruh Ashabus Sunnan yang empat namun hanya diriwayatkan Abu Dawud (1278); At-Tirmidzi (419); dan ia berkata hadits Gharib. Namun hadits ini shahih dalam lafadz yang lain, silahkan lihat Irwaul Gholil (478).
(2). No 586 dan Muslim juga dengan no 827 dan ini lafadz darinya.
(3). Hadits ini dengan lafadz seperti ini dari riwayat Umar bin Khottob saya tidak mendapatinya dalam riwayat Al-Bukhari dan tidak juga riwayat Muslim. Perlu ditinjau lagi masalah ini. Wa billahi taufiq.

Selasa, 03 Desember 2019

Bab Disunahkan Bersalaman ketika Bertemu Saudaranya

Dari Syarah Riyadus Shalihin Syaikh Utsaimin.

٨٨٥ - عن أبي الخطاب قتادة قال قلت لأنس أكانت المصافحة في أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قال نعم رواه البخاري

Dari Abu Al-Khottob Qotadah berkata: Aku bertanya kepada Anas: Apakah para shahabat Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersalaman? Beliau menjawab: iya. (HR Bukhari)

٨٨٦ - وعن أنس رضي الله عنه قال لما جاء أهل اليمن قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قد جاءكم أهل اليمن وهم أول من جاء بالصافحة رواه أبو داود بإسناد صحيح

Dan dari Anas -radhiyallohu 'anhu- berkata: tatkala datang orang-orang Yaman, Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Telah datang kepada kalian penduduk Yaman, dan merekalah yang pertama kali yang mengamalkan bersalaman" (Diriwayatkan Abu Dawud dengan sanad shahih).

٨٨٧ - وعن البراء رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان إلا غفر لهما قبل أن يفترقا رواه أبو داود

Dari Baraa' -radhiyallohu 'anhu- berkata: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa salla- bersabda: Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu saling bersalaman kecuali diampuni keduanya sebelum berpisah" (HR Abu Dawud)

٨٨٨ - وعن أنس رضي الله عنه قال قال رجل يا رسول الله الرجل منا يلقى أخاه أو صديقه أينحني له قال لا قال أفيلتزمه ويقبله قال لا قال قيأخذ بيده ويصافحه قال نعم رواه
 الترمذي وقال حديث حسن

Dari Anas -radhiyallohu 'anhu- berkata: Seorang laki-laki berkata: "Seseorang di antara kami bertemu saudaranya atau temannya apakah dia membungkuk (sebagai penghormatan) kepadanya?" Beliau bersabda: "Tidak". Dia berkata: "Apakah dia memeluknya dan menciumnya?". Jawab beliau: "Tidak". Dia berkata lagi:"Dia mengambil tangannya dan bersalaman dengannya?". Beliau menjawab: "Iya". (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan).

Penulis -Imam Nawawi rahimahulloh- menggabungkan bab ini dalam kitab Riyadhus Shalihin dengan Adab Salam dan meminta izin serta yang terkait dengan bab itu. Di antaranya: Mushafahah(bersalaman). Apakah disunnahkan bagi seseorang jika bertemu saudaranya bersalaman dengannya. Jawabnya: iya, disunnahkan baginya hal itu sebab hal itu termasuk adabnya para shahabat -radhiyallohu 'anhum- sebgaiman yang ditanyakan Qatadah kepada Anas bin Malik -radhiyallohu 'anhu-; apakah para shahabat Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersalaman. Ia berkata: iya. Bersalaman dengan tangan kanan dan jika melakukan hal itu maka keduanya diampuni sebelum berpisah. Ini menunjukkan keutamaan bersalaman ketika bertemu.
Ini apabila ia bertemu untuk bercakap-cakap dengannya, atau yang semisal dengan hal itu. Adapun sekedar bertemu di pasar maka tidaklah hal tersebut termasuk tuntunan shahabat. Yakni apabila engkau melewati manusia di pasar maka cukuplah mengucapkan salam untuk mereka. Dan jika engkau berhenti dan berbincang-bincang sesuatu dengannya maka salamilah dia.
Kemudian sepatutnya kita ketahui bahwa sebagian orang jika salam dari sholat yang fardhu ia bersalaman dengan saudaranya dan terkadang berkata kepadanya: تقبل الله أو قبول (semoga Alloh menerima atau qabuul). Lafadz qabuul ini adalah bid'ah. Para shahabat tidak pernah mengamalkan yang demikian. Hanyalah cukup orang yang sholat mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri "assalmu 'alaikum wa rahmatulloh".

Adapun membungkuk ketika bertemu atau memeluk dan merangkulnya maka sesungguhnya Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang membungkuk, beliau berkata: Tidak. Berkata lagi orang yang bertanya: Apakah merangkulnya dan memeluknya? Beliau berkata: Tidak. Apabila berjumpa tidak perlu merangkulnya yakni merengkuh pundaknya dan tidak pula memeluknya dan membungkuk kepadanya. Dan membungkuk lebih keras dan lebih besar lagi (larangannya) karena padanya ada bentuk ketundukan kepada selain Alloh -azza wa jalla-, sebagaimana yang dilakukan untuk Alloh ketika ruku' sehingga terlarang namun hendaklah bersalaman dan ini cukup, kecuali jika di sana ada sebab maka merangkul dan menciumnya tidak mengapa seperti datang dari safar atau semisalnya.
Seandainya ada yang berkata bagaimana mendudukkan ucapan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- tentang tidak boleh membungkuk dengan firman Alloh -ta'ala- tentang saudara Yusuf -alaihissalam-  tatkala mereka menemuinya dan ia berkata :
وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ * وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ

Dan dia berkata, “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.” Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semua) tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). (QS Yusuf: 99-100)

Jawabannya bahwa hal itu pada syariat terdahulu, sedangkan syariat kita Al-Islamiyah telah mengjapus dan melarangnya. Maka tidak boleh seseorang bersujud kepada orang lain meskipun tidak dimaksudkan ibadah; atau membungkuk karena membungkuk telah dilarang Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- . Jika seseorang bertemu denganmu dan tidak mengetahui masalah ini dan membungkuk kepadamu, maka nasehatilah dan jelaskanlah. Katakan kepadanya: Ini terlarang, janganlah membungkuk dan janganlah merendahkan diri kecuali kepada Alloh saja. Dan mencium tangan tidaklah mengapa jika memang orang tersebut pantas untuk itu.
Allohu muwaffiq.

****

٨٨٥ - عن أبي الخطاب قتادة قال قلت لأنس أكانت المصافحة في أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قال نعم رواه البخاري

٨٨٦ - وعن أنس رضي الله عنه قال لما جاء أهل اليمن قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قد جاءكم أهل اليمن وهم أول من جاء بالصافحة رواه أبو داود بإسناد صحيح

٨٨٧ - وعن البراء رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان إلا غفر لهما قبل أن يفترقا رواه أبو داود

٨٨٨ - وعن أنس رضي الله عنه قال قال رجل يا رسول الله الرجل منا يلقى أخاه أو صديقه أينحني له قال لا قال أفيلتزمه ويقبله قال لا قال قيأخذ بيده ويصافحه قال نعم رواه
 الترمذي وقال حديث حسن

الشرح:

هذا الباب عقده المؤلف النووي رحمه الله في كتاب رياض الصالحين بآداب السلام والاستئذان وما يتعلق بذلك فمنها: المصافحة هل يسن للرجل إذا لقي أخاه أن يصافحه والجواب نعم يسن له ذلك لأن هذا من آداب الصحابة رضي الله عنهم كما سأل قتادة أنس بن مالك رضي الله عنه هل كانت المصافحة في أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قال نعم ويصافحه باليد اليمنى وإذا حصل ذلك فإنه يغفر لهما قبل أن يفترقا وهذا يدل على فضيلة المصافحة إذا لاقاه وهذا إذا كان لاقاه ليتحدث معه أو ما أشبه ذلك أما مجرد الملاقاه في السوق فما كان هذا من هدي الصحابة يعني إذا مررت بالناس في السوق يكفي أن يسلم عليهم وإذا كنت تقف إليه دائما وتتحدث إليه بشيء فصافحه ثم ينبغي أن نعرف أن بعض الناس إذا سلم من الصلاة إذا كانت فرضا صافح أخاه وأحيانا يقول له تقبل الله أو قبول ...
قبول وهذا من البدع فما كان الصحابة يفعلون هذا وإنما يكفي أن يسلم المصلي عن يمينه وعن يساره السلام عليكم ورحمة الله.
وأما الانحناء عند الملاقاة أو المعانقة والالتزام فإن النبي صلى الله عليه وسلم سئل عن ذلك أننحني قال لا قال السائل أيلتزمه ويعانقه قال لا فإذا لاقاه فإنه لا يلتزم أي لا يضمه إليه ولا يعانقه ولا ينحني له والانحناء أشد وأعظم لأن فيه نوعا من الخضوع لغير الله عز وجل بمثل ما يفعل لله في الركوع فهو منهي عنه ولكنه يصافحه وهذا كاف إلا إذا كان هناك سبب فإن المعانقة أو التقبيل لا بأس به كأن كان قادما من سفر أو نحو ذلك فإن قال قائل كيف يكون قول الرسول صلى الله عليه وسلم لا ينحني له مع قول الله تعالى في إخوة يوسف لما دخلوا عليه وقال ادخلوا مصر إن شاء الله آمنين ورفع أبويه على العرش وخروا له سجدا فالجواب عن هذا أنه في شريعة سابقة وشريعتنا الإسلامية قد نسخته ومنعت منه فلا يجوز لأحد أن يسجد لأحد وإن لم يرد بذلك العبادة أو ينحني فإن الانحناء منع منه الرسول صلى الله عليه وسلم إذا قابلك أحد يجهل هذا الأمر وانحنى لك
 فانصحه وأرشده قل له هذا ممنوع لا تنحن ولا تخضع إلا لله وحده وتقبيل اليد لا بأس به إذا كان الرجل أهلا لذلك والله الموفق

Minggu, 01 Desember 2019

Apakah Setiap Khariqul Adah (Kejadian Luar Biasa) Pada Seseorang Adalah Karomah?

Pertanyaan:
Apakah karomah wali itu benar adanya? Dan apakah setiap khoriqul 'adah (kejadian diluar kebiasaan) menunjukkan akan kebenaran orang yang memilikinya? Mohon kami diberikan penjelasan dengan perincian. Jazakallohu khoiron.

Jawab:

الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلامُ على مَنْ أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصَحْبِهِ وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعد:
Karomah adalah sesuatu yang Alloh jalankan melalui tangan sebagian dari para waliNya yang mukmin berupa kejadian yang di luar kebiasaan dalam perkara pengetahuan, mukasyafah, kemampuan dan pengaruh yang tidak berkaitan dengan dakwah kenabian dan bukan pula permulaannya.
Masalah khoriqul 'adah -dalam karomah- hanya Alloh -ta'ala- berikan kepada orang yang secara dzohirnya beriman dan beramal sholih serta iltizamnya dalam mengikuti Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- terbebani dengan syariat. Karomah tidaklah diperoleh kecuali dengan barakahnya mengikuti Nabi. Maka adanya karomahnya para wali -pada hakikatnya- adalah dari mu'jizatnya para Nabi.

Adapun kejadian di luar nalar yang terjadi pada para pendusta, orang sesat dan orang yang menyimpang  secara manhaj dan aqidah dari kalangan penyembah sesembahan lain selain Alloh, atau mengklaim mengetahui rahasia alam atau mengetahui yang ghaib, atau orang yang berdoa kepada yang mati atau yang hidup seperti jin dan manusia dengan meyakini mampu memberikan manfaat dan mudharat; seperti tukang sihir, dukun, tukang tenung dan yang semisalnya Maka yang demikian ini adalah tipuan syaiton dan ulah iblis bukanlah dari karomah sama sekali. (1).
Dengan kriteria tersebut maka nampak juga mu'jizat yang Alloh -ta'ala- tampakkan melalui tangan para rosul dan para nabi yang mereka menyampaikan kabar tentang Alloh -ta'ala- dan mereka menghadapi tantangan para hamba dengan mu'jizat agar mereka membenarkannya (para rasul) dan mengikuti dakwah mereka serta apa yang mereka bawa.
Berdasarka hal ini maka tidaklah mesti kejadian luar biasa secara dzatnya menunjukkan kebenaran orang yang memilikinya dan tidak pula (menunjukkan) kewaliannya. Terkadang justru istidraj dan tipuan. Terkadang sebagai ujian sehingga menjadi bahagia suatu kaum dengannya dan menjadi sedih kaum yang lainnya.
Hal ini; dan di antara contoh karomah yang berupa ilmu dan mukasyafah yaitu kisah Khoidhir (2) dan Musa -'alaihi wa sallam- dan apa yang Alloh tampakkan melalui tangannya berupa tiga kejadian yang dianggap Musa -alaihis salam- sebagai perkara besar: melubangi perahu, pembunuhan anak kecil dan menegakkan dinding. Dan juga pengkhabaran Abu Bakar -radhiyalohu 'anhu- bahwa di kandungan istrinya adalah anak perempuan; Alloh pun membenarkan dugaannya dan dijadikan hal itu sebagai karomah baginya (3). Dan seruan Umar bin Khottob -radhiyallohu 'anhu- sedangkan beliau berada di atas mimbarnya di Madinah. Dia berseru: "Wahai Sariyah bin Zunaim, gunung!!" sedangkan dia (Sariyah bin Zunaim) di Iraq mendengarnya.(4)
Adapun contoh karomah dalam masalah qudrah (kemampuan) dan ta'tsir yaitu kisah Ashabul Kahfi dan tinggalnya mereka di dalamnya dalam keadaan hidup selama 309 tahun. Kisah Maryam ketika dia diberi buah-buahan musim dingin di musim panas, dan buah-buahan musim panas di musim dingin. Maka takjublah Zakariya akan hal itu dan berkata:
يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللهِ
"Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". (QS Ali Imron: 37)
Dan kisah Sarah istri Ibrahim Al-Khalil -'alaihis salam- yang diberi kabar gembira oleh para utusan (malaikat) dengan Ishaq. Alloh -ta'ala- berfirman:
وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ. قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ. قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللهِ رَحْمَتُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
"Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya'qub. Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh". Para malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah".(QS Hud: 71-73)
Demikian pula kisah tentang seseorang yang memiliki ilmu dari Kitab bersama Sulaiman -'alaihi sholatu was salam-; Alloh -ta'ala- berfirman:
قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِنَ الكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
"Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".(QS An-Naml: 40)

Dan yang semisal ini banyak sekali(5). Karomahnya para wali akan senantiasa ada sampai hari kiamat. Dan ini menunjukkan bahwasannya (karomah para wali) dijumpai bersamaan dengan kejadian-kejadian dan sebab-sebab yang menuntut terjadinya musabab (yakni karomah -pent). Dan peletakan(karomah itu sendiri -pent) ada peristiwa lain yang tidak diketahui ilmu manusia dan tidak dapat diperoleh dengan amal-amal mereka dan sebab-sebab mereka.
Dengan demikian, Ahlus Sunnah wal jamaah beriman dengan karomah para wali yang shahih sebagai kewajiban dan bahwa karomah itu benar adanya. Ada pun yang tidak jelas maka hukumnya adalah tawaquf (menahan diri tidak berkomentar) dengan menetapkan kemungkinan kejadiannya tanpa menetapkan dan menafikkan. Dan mereka (Ahlus Sunnah) dengan hal ini menyelisihi Mu'tazilah dan yang semodel mereka dalam pengingkarannya terhadap karomah para wali.
Dan ilmunya ada di sisi Alloh -ta'ala-.
وآخرُ دعوانا أنِ الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، وصَلَّى اللهُ على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسَلَّم تسليمًا.

Aljazair, 19 Jumadal Ula 1430 H bertepatan 14 Mei 2009.

ferkous.com
######
Note: catatan kaki ada pada teks asli dibawah tulisan ini.
#########

في كرامات الأولياء

السـؤال:

هل كراماتُ الأولياء حقٌّ؟ وهل كلُّ خارقةٍ للعادة تدلُّ على صِدقِ مَن ظهرت على يديه؟ أفيدونا مع التفصيل جزاكم الله خيرًا.

الجـواب:

الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلامُ على مَنْ أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصَحْبِهِ وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعد:

فالكرامةُ هي ما يجريه اللهُ على يد بعض أوليائه المؤمنين من خوارق العادات في العلوم والمكاشفات والقدرة والتأثير غيرَ مقرونٍ بدعوة النبوَّة ولا مقدِّمةٍ لها.

والأمر الخارق للعادة -في الكرامة- إنما يجريه الله تعالى على مَنْ ظاهرُه الإيمان والعملُ الصالح والتزامه بمتابعة نبيٍّ كُلِّف بشريعةٍ، فالكرامةُ لا تحصل إلاَّ ببركةِ متابعة النبيِّ، فكان وقوع كرامات الأولياء -في حقيقة الأمر- من معجزات الأنبياء.

أمَّا خوارق العادات التي تظهر على أيدي أهل الدَّجل والضلال والانحراف السلوكيِّ والعقديِّ ممَّن يدعو مع الله إلهًا آخر أو يدَّعي معرفةَ أسرار الكون والاطِّلاعَ على الغيب أو من يدعو الأمواتَ والأحياء من الجنِّ والإنس معتقدًا نَفْعَهم وضرَّهم، كالسحرة والكهنة والمشعوذة ونحو ذلك؛ فإنما هي أحوالٌ شيطانيةٌ وخوارق إبليسيةٌ ليست من الكرامة في شيءٍ(١).

وبهذا المعيار السابق تظهر –أيضًا- خوارق المعجزة التي يجريها الله تعالى على أيدي الرسل والأنبياء الذين يخبرون عن الله تعالى ويتحدَّوْن بالمعجزة العبادَ لتصديقهم والإقرار بدعوتهم وما أُرسلوا به.

وعليه فلا تدلُّ خوارق العادات في ذاتها على صدقِ مَن ظهرت على يديه ولا على ولايته، فقد تكون استدراجًا أو مَكْرًا، وقد تُعَدُّ ابتلاءً فيسعد بها قومٌ ويشقى آخَرون.

هذا، ومن أمثلة الكرامة في باب العلوم والمكاشفات: قصَّة الخَضِر(٢) مع موسى عليه السلام وما أجرى الله على يده من الوقائع الثلاث التي استعظمها موسى عليه السلام: خرق السفينة، وقتل الصبيِّ، وتقويم الجدار، وكإخبار أبي بكرٍ رضي الله عنه أنَّ في بطن امرأته أنثى فصدَّق الله ظنَّه وجعل ذلك كرامةً له(٣)، ونداء عمر بن الخطَّاب رضي الله عنه وهو على منبره بالمدينة فقال: «يا سارية بنَ زُنَيْم، الجبلَ» وهو بالعراق فسمعه(٤).

أمَّا أمثلة الكرامة في باب القدرة والتأثير: فقصَّة أصحاب الكهف ومكوثهم فيه أحياء ثلاثمائةٍ سنينَ وازدادوا تسعًا، وقصَّة مريم حيث كانت تؤتى بفاكهة الشتاء في الصيف وفاكهة الصيف في الشتاء، فعجب من ذلك زكريَّا وقال: ﴿يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللهِ﴾ [آل عمران: ٣٧] وقصَّة «سارَة» زوجة إبراهيم الخليل عليه السلام التي بشَّرها الرسل بإسحاق، وقال تعالى: ﴿وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ. قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ. قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللهِ رَحْمَتُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ﴾ [هود: ٧١-٧٣]، وكذلك في قصَّة الذي عنده علمٌ من الكتاب مع سليمان عليه الصلاة والسلام، قال تعالى: ﴿قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِنَ الكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ﴾ [النمل: ٤٠]، ونحو ذلك كثيرٌ(٥)، ولا تزال كرامات الأولياء جاريةً إلى قيام الساعة. وهذا يدلُّ على أنه يوجد مع السنن والأسباب المقتضية للمسبَّبات الموضوعة لها سننٌ أخرى لا يقع علمُ البشر عليها ولا تدركها أعمالُهم وأسبابهم.

هذا، وأهل السنَّة والجماعة يؤمنون بما صحَّ من كرامات الأولياء وجوبًا وأنها حقّ، أمَّا ما لم يثبت فحكمه التوقُّف فيه مع الإقرار بإمكان وقوعه من غير إثباته ولا نفيه، وهم بذلك يخالفون المعتزلةَ ومن وافقهم في إنكارهم لكرامات الأولياء(٦).

والعلمُ عند اللهِ تعالى، وآخرُ دعوانا أنِ الحمدُ للهِ ربِّ العالمين، وصَلَّى اللهُ على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسَلَّم تسليمًا.

الجزائر في: ١٩ جمادى الأولى ١٤٣٠ﻫ
الموافق ﻟ: ١٤ ماي ٢٠٠٩م

(١) انظر: «قاعدة في المعجزات والكرامات» لابن تيمية (١١/ ٣١١)، وانظر رسالته: «الفرقان بين أولياء الرحمن وأولياء الشيطان» وفي «مجموع الفتاوى» (١١/ ٢٧٦-٢٨٢).

(٢) وهذا إذا ما تقرَّر أنَّ الخضر وليٌّ و ليس نبيًّا وهو قول أكثر العلماء. [انظر: «مجموع الفتاوى» لابن تيمية (٤/ ٤٩٧)، «تفسير ابن كثير» (٤/ ١٨٧)].

(٣) أخرجه مالك في «الموطإ» (٢/ ٧٥٢)، والبيهقي في «السنن الكبرى» (١١٩٤٨)، والطحاوي في «شرح معاني الآثار» (٤/ ٨٨)، واللالكائي في «شرح أصول الاعتقاد» (٩/ ١٢٤)، عن عائشة رضي الله عنها. قال الألباني في «الإرواء» (٦/ ٦٢): «وهذا إسنادٌ صحيحٌ على شرط الشيخين».

(٤) أخرجه البيهقي في «الاعتقاد» (٣١٤)، وأبو نعيم في «دلائل النبوَّة» (٢/ ٥٧٩)، واللالكائي في «شرح أصول الاعتقاد» (٩/ ١٢٨)، عن ابن عمر رضي الله عنهما، وحسَّنه ابن حجر في «الإصابة» (٢/ ٣)، والألباني في «السلسلة الصحيحة» (٣/ ١٠١).

(٥) للاطِّلاع على مجموعةٍ من وقائع كرامات الأولياء يراجع الجزء التاسع (٩) المتعلِّق ﺑ «كرامات أولياء الله» من كتاب «شرح اعتقاد أهل السنَّة و الجماعة» لأبي القاسم اللالكائي رحمه الله.

(٦) انظر: «شرح العقيدة الطحاوية» لابن أبي العزِّ (٥٥٨-٥٦٤).

Tafsir Ali Imron Ayat 185: Setiap Jiwa Akan Merasakan Kematian

Alloh ta'ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya". (QS Ali Imron: 185)

Penulis tafsir Al Muyassar mengatakan:
Setiap jiwa pastilah akan merasakan kematian. Dengan ini seluruh makhluk akan kembali kepada Robb-Nya untuk Alloh perhitungkan (amalan) mereka. Dan pada hari kiamat sajalah disempurnakan balasan pahala atas amal-amal kalian dengan sempurna tanpa dikurangi. Maka barang siapa dimuliakan Rabb-nya dan diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke surga maka sungguh ia telah mendapatkan sebaik-baik yang dicari. Dan kehidupan dunia hanyalah kenikmatan yang akan sirna maka janganlah tertipu dengannya.

Syaikh Nashir As-Sa'dy -rahimahulloh- mengatakan dalam kitab tafsirnya:

Dalam ayat yang mulia ini terdapat kezuhudan terhadap dunia yang fana dan tidak kekal. Dan dunia adalah kesenangan yang menipu. Memfitnah dengan perhiasannya, menipu dengan tipudayanya, dan mengelabui dengan keindahannya. Kemudian dia pergi berpindah. Dan berpindah dari dunia kepada negeri abadi yang seluruh jiwa akan dibalas sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan di dunia ini, balasan baik maupun buruk. Maka فمن زحزح "barang siapa yang dijauhkan" yakni dikeluarkan  عن النار وأدخل الجنة فقد فاز  "dari neraka dan dimasukkan ke surga maka sungguh, dia memperoleh kemenangan". Yakni dia telah mendapatkan kemenangan yang besar terhindar dari siksa yang pedih dan masuk ke surga yamg penuh kenikmatan yang di dalamnya terdapat sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia.

Pemahaman dari ayat ini, bahwa barang siapa yang tidak dijauhkan dari neraka dan tidak dimasukkan ke surga maka dia tidak memperoleh kemenangan, justru dia sengsara dengan kesengsaraan yang abadi dan disiksa dengan siksaan yang tiada putus. Dan di dalam ayat ini juga terdapat isyarat yang lembut akan kenikmatan barzakh dan siksaannya. Dan bahwasannya mereka yang beramal akan diberi balasan di barzakh dengan sebagian balasan terhadap apa yang mereka kerjakan dan diperlihatkan untuk mereka contoh dari apa yang mereka amalkan. Ini dipahami dari firmanNya:
وإنما توفون أجوركم يوم القيامة
"Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu"
Yakni balasan amal yang sempurna hanya pada hari kiamat, adapun selain itu adalah di barzakh, bahkan kadang sebelum itu di dunia sebagaimana firman Alloh -ta'ala-:
ولنذيقنهم من العذاب الأدنى دون العذاب الأكبر
"Dan pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat)" (QS Sajdah: 21)

Maraji:
(Arabic Muyassar Tafseer)
كل نفس لا بدَّ أن تذوق الموت، وبهذا يرجع جميع الخلق إلى ربهم ليحاسبهم. وإنما تُوفَّون أجوركم على أعمالكم وافية غير منقوصة يوم القيامة، فمن أكرمه ربه ونجَّاه من النار وأدخله الجنة فقد نال غاية ما يطلب. وما الحياة الدنيا إلا متعة زائلة، فلا تغترُّوا بها.

Tafseer As-Sa'dy:
هذه الآية الكريمة فيها التزهيد في الدنيا بفنائها وعدم بقائها، وأنها متاع الغرور، تفتن بزخرفها، وتخدع بغرورها، وتغر بمحاسنها، ثم هي منتقلة، ومنتقل عنها إلى دار القرار، التي توفى فيها النفوس ما عملت في هذه الدار، من خير وشر.
﴿فمن زحزح﴾ أي: أخرج، ﴿عن النار وأدخل الجنة فقد فاز﴾ أي: حصل له الفوز العظيم من العذاب الأليم، والوصول إلى جنات النعيم، التي فيها ما لا عين رأت، ولا أذن سمعت، ولا خطر على قلب بشر. ومفهوم الآية، أن من لم يزحزح عن النار ويدخل الجنة، فإنه لم يفز، بل قد شقي الشقاء الأبدي، وابتلي بالعذاب السرمدي. وفي هذه الآية إشارة لطيفة إلى نعيم البرزخ وعذابه، وأن العاملين يجزون فيه بعض الجزاء مما عملوه، ويقدم لهم أنموذج مما أسلفوه، يفهم هذا من قوله: ﴿وإنما توفون أجوركم يوم القيامة﴾ أي: توفية الأعمال التامة، إنما يكون يوم القيامة، وأما ما دون ذلك فيكون في البرزخ، بل قد يكون قبل ذلك في الدنيا كقوله تعالى: ﴿ولنذيقنهم من العذاب الأدنى دون العذاب الأكبر﴾

Kamis, 28 November 2019

Tuhfah: Pembagian Mahabbah (Kecintaan) Ada Empat

Pertama: Mahabbah Ibadah; yaitu cinta kepada Alloh dan mencintai segala yang dicintai Alloh. Alloh -ta'ala- berfirman:
ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ
"Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah". (QS Al-Baqarah: 165)

Penjelasan:
Mahabbah (kecintaan) adalah ibadah hati. Macam mahabbah jenis ini jika dipalingkan kepada selain Alloh adalah syirik. Mahabbah yang merupakan ibadah adalah untuk Alloh dan karena Alloh. Mahabbah yang karena Alloh diantaranya yang ditujukan kepada manusia, waktu maupun tempat. Misalnya kepada orang-orang sholih, kecintaan kepada bulan Ramadhan, dan kecintaan kepada rumah-rumah Alloh. Asal dari seluruh amalan mahabbah - bahwa manusia tidaklah mencintai kecuali untuk sesuatu yang ingin didapatkannya atau sesuatu yang memotivasinya. Dan tidaklah dicintai karena dzatnya kecuali Alloh sebagaimana yang ditegaskan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Oleh karenanya orang yang merealisasikan kecintaan kepada Alloh dan mecintai hal yang dicintai Alloh serta membenci apa yang tidak diridhoi Alloh maka sungguh dia akan mendapatkan manisnya iman dalam hatinya sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dalam As-Shahihain dari Anas secara marfu':

 ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَبِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
"Tiga hal yang jika ada pada diri seseorang maka dia akan merasakan manisnya iman: Seseorang yang menjadikan Alloh dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. Seseorang mencintai orang lain karena Alloh. Dan seseorang yang membenci kembali kepada kekufuran setelah Alloh menyelamatkannya darinya sebagaimana dia tidak suks untuk dilemparkan ke neraka" (HR Bukhari & Muslim).

Tidaklah bersatu kecintaan kepada Alloh dan kecintaan kepada perkara yang dimurkai Alloh dalam hati seorang mukmin yang memiliki keimanan yang sempurna. Adapun keimanan yang kurang sempurna terkadang terkumpul padanya kecintaan kepada sebagian maksiat, sebagaimana yang diriwayatkan dalam shahih Bukhari bahwa ada seorang laki-laki yang dihadirkan ke hadapan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dalam masalah minum khomer. Sebagian shahabat berkata: Semoga Alloh melaknatnya. Betapa seringnya dia dibawa kepada beliau. Maka Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
لا تلعنوه، فإنه يحب الله ورسوله
"Janganlah kalian melaknatnya karena sesungguhnya dia mencintai Alloh dan rasulloh".

Berkata penulis -hafidzahulloh-:
Kedua: Mahabbah Syirkiyah (Kecintaan yang membawa kesyirikan) yaitu cinta kepada selain Alloh seperti cinta kepada Alloh atau lebih sangat lagi. Alloh ta'ala berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ
"Dan di antara manusia ada orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah" (QS Al-Baqarah: 165)

Penjelasan:
Kecintaan ini meniadakan pokok keimanan. Kecintaan kepada selain Alloh mencakup manusia dan berhala dan selainnya yang dijadikan tandingan selain Alloh.
Dan firman Alloh dalam ayat: وَمِنَ النَّاس (Dan di antara manusia ) huruf من di sini untuk tab'idh (menunjukkan sebagian) yakni sebagian manusia.

Dan firman Alloh:
مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ
"orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah".
Alloh menjelaskan bahwa bentuk tandingan yang mereka jadikan dari selain Alloh adalah kecintaan mereka kepada tandingan-tandingan tersebut. Tandingan-tandingan tersebut terkadang dari manusia atau berhala atau selainnya.

FirmanNya: يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّه "mereka cintainya seperti mencintai Allah" Ibnul Qayyim berkata dalam Madarijus Salikin, ini ada dua penafsiran:
Pertama: Mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut sebagaimana orang-orang mukmin mencintai Rabbnya.
Kedua: mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut sebagaimana mereka mencintai Alloh.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menguatkan pendapat kedua, dan inilah yang benar -in sya Alloh. Sisi yang menjadikan kecintaan ini sebagai syirik adalah bahwa pelakunya memalingkan peribadahan kepada selain Alloh, dan karena taqarrub kepada tandingan-tandingan ini berakibat kepada (melakukan)sebagian amalan yang di antaranya adalah kesyirikan. Dan cukuplah dikatakan mahabbah ini sebgai kesyirikan karena ini adalah ibadah yang ditujukan kepada selain Alloh.

Berkata penulis:
Ketiga: Mahabbabah Maksiat (cinta maksiat); yaitu seperti mencintai keharaman, bid'ah, pelaku kemaksiatan dan pengikut hawa nafsu dan selainnya dari kecintaan yang menyelisihi syariat.

Penjelasan:
Dipersyaratkan 'mahabbah maksiat' adalah tidak menyamai kecintaannya  kepada Alloh atau melebihi, sebab yang demikian itu syirik. Kecintaan kepada maksiat menghilangkan kesempurnaan tauhid dan iman. Bahayanya menimpa pelakunya di dunia dan di akhirat. Dan seseorang bersama yang dicintainya, sebagaimana yang telah datang dari Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- dalam As-Shahihain.

Berkata penulis -hafidzahulloh-:
Keempat: Mahabbah Tabi'iyyah (kecintaan karena tabiat) seperti kecintaan kepada anak-anak, keluarga, dirinya dan lain sebagainya dari yang dicintai. Namun haruslah sewajarnya.
Jika seseorang disibukan dari menjalankan ketaatan kepada Alloh lalu dia meninggalkan sebagian kewajibannya maka ini adalah mahabbah maksiat. Apabila berlebih-lebihan (kecintaan tersebut) pada hidupnya dan hatinya, dan dia mencintainya seperti dia mencintai Alloh atau lebih dari itu maka ini adalah mahabbah yang syirik.

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulohu ta'ala- hal 84-88.

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)