“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Senin, 16 Desember 2019

Pertanyaan 6 dan 7: Tanda Kecintaan Hamba Kepada Rabb-Nya -azza wa jalla-


[Tanda Kecintaan Hamba Kepada Rabb-Nya -azza wa jalla-]
Pertanyaan:
Apakah tanda kecintaan hamba kepada Rabb-nya 'azza wa jalla?

Jawab:
Tandanya adalah ia mencintai apa yang dicintai Alloh -ta'ala- dan membenci apa yang dibenci Alloh, mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, memcintai para waliNya dan memusuhi para musuhNya. Oleh karenanya ikatan iman yang paling kuat adalah cinta dan benci karena Alloh.

[Dengan Apa Hamba Mengetahui Perkara yang Dicintai dan Diridhoi Alloh]

Pertanyaan:
Dengan apa seorang hamba mengetahui perkara yang dicintai dan diridhoi Alloh?

Jawab:
Mereka mengetahuinya dengan diutusnya para rasul oleh Alloh -ta'ala- dan dengan diturunkannya kitab-kitab. Mereka memerintahkan pada perkara yag dicintai oleh Alloh dan diridhoiNya, serta melarang dari terhadap perkara yang dibenciNya dan tidak disukaiNya. Dengan hal itu menjadi tegak hujah yang pasti atas mereka serta hikmah yang jelas.
Alloh -ta'ala- berfirman:
رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ
"(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu". (QS An-Nisa: 165)

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ [٣:٣١]
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS Ali Imron: 31)
***

[علامة محبة العبد ربه عز وجل]
س: ما علامة محبة العبد ربه عز وجل؟
جـ: علامة ذلك، أن يحب ما يحبه الله تعالى ويبغض ما يسخطه، فيمتثل أوامره ويجتنب مناهيه، ويوالي أولياءه ويعادي أعداءه، ولذا كان أوثق عرى الإيمان الحب في الله والبغض فيه.

[بماذا عرف العباد ما يحبه الله ويرضاه]
س: بماذا عرف العباد ما يحبه الله ويرضاه؟
جـ: عرفوه بإرسال الله تعالى الرسل وإنزاله الكتب، آمرا بما يحبه الله ويرضاه، ناهيا عما يكرهه ويأباه، وبذلك قامت عليهم حجته الدامغة، وظهرت حكمته البالغة، قال الله تعالى: {رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ} [النساء: ١٦٥] وقال تعالى: {قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [آل عمران: ٣١] .

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Pertanyaan 4 dan 5: Definisi Ibadah dan Amalan yang Terhitung Sebagai Ibadah

[Pengertian Ibadah]
Pertanyaan:
Apakah definisi Ibadah?

Jawab:
Ibadah yaitu istilah yang mencakup setiap perkara yang dicintai Alloh dan diridhoiNya, baik perkataan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin serta bersih dari perkara yang membatalkannya dan yang bertentangan dengannya.

***
[Kapan Amalan Menjadi Ibadah]
Pertanyaan:
Kapan suatu amalan menjadi ibadah?

Jawaban:
Jika telah disempurnakan padanya dua hal; yaitu sempurnanya kecintaan dan sempurnanya perendahan diri. Alloh ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
"Dan orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Alloh" (QS Al-Baqarah: 165)
إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ
"Sungguh, orang-orang yang karena takut (adzab) Tuhannya, mereka sangat berhati-hati" (QS Al-Mukminun: 57)

Alloh -ta'ala- telah mengumpulkan keduanya pada firmanNya:
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami". (QS Al-Anbiya': 90)
***
[تعريف العبادة]
س: ما هي العبادة؟
جـ: العبادة هي اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الظاهرة والباطنة والبراءة مما ينافي ذلك ويضاده.

[متى يكون العمل عبادة]
س: متى يكون العمل عبادة؟
جـ: إذا أكمل فيه شيئان وهما كمال الحب مع كمال الذل، قال تعالى: {وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ} [البقرة: ١٦٥] وقال تعالى: {إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ} [المؤمنون: ٥٧] وقد جمع الله تعالى بين ذلك في قوله: {إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ} [الأنبياء: ٩٠] .

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Pertanyaan 3: Apakah Makna Al-Abdu(Hamba)?

Pertanyaan: Apakah makna 'abdu (hamba)?

Jawab: Al-'Abdu (hamba) jika yang dimaksudkan adalah Al-Mu'abbad yakni yang direndahkan dan ditundukkan. Maka dengan makna ini mencakup seluruh makhluk di alam semesta baik di ketinggian atau di bawah dari yang berakal maupun tidak berakal, yang basah maupun yang kering, yang bergerak maupun yang diam, yang nampak maupun yang tersembunyi, yang mukmin maupun yang kafir yang shalih maupun yang fajir, dan yang selainnya. Semuanya adalah menjadi makhluk bagi Alloh -azza wa jalla-, dan menjadi hamba bagiNya. Dijalankan dan ditundukkan dengan pengaturanNya. Dan masing-masing memiliki karakteristik tersendiri dan batas yang akan berakhir kepada-Nya. Masing-masing berjalan untuk waktu yang telah ditentukan yang tidak akan melebihinya meski sebesar dzarroh.
ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
"Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui"(QS Al-An'am: 96)
dan pengaturan dari Yang Maha Adil lagi maha Bijaksana.

Jika yang dimaksudkan dengan abdun (hamba) adalah Al-Aabid (hamba) yang mencintai dan yang merendahkan diri (kepada Alloh -pent) maka hal itu khusus bagi orang-orang Mukmin yang mereka adalah para hambaNya yang dimuliakan dan para waliNya yang bertaqwa yang tiada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka bersedih.

معنى العبد]
س: ما معنى العبد؟
جـ: العبد إن أريد به المعبد أي المذلل المسخر، فهو بهذا المعنى شامل لجميع المخلوقات من العوالم العلوية والسفلية: من عاقل وغيره، ورطب ويابس، ومتحرك وساكن، وظاهر وكامن، ومؤمن وكافر، وبر وفاجر، وغير ذلك. الكل مخلوق لله عز وجل، مربوب له، مسخر بتسخيره، مدبر بتدبيره، ولكل منها رسم يقف عليه، وحد ينتهي إليه، كل يجري لأجل مسمى لا يتجاوزه مثقال ذرة {ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ} [الأنعام: ٩٦]
وتدبير العدل الحكيم. وإن أريد به العابد المحب المتذلل خص ذلك بالمؤمنين الذي هم عباده المكرمون وأولياؤه المتقون الذين لا خوف عليهم ولا هم يحزنون.

مصدر:
200 سؤال والجواب في العقيدة الإسلاميّة
للشيخ العلامة حافظ بن أحمد الحكمي -رحمه الله-

Minggu, 15 Desember 2019

Kandungan Ayat Kursyi Dalam Permasalahan Asma' wa Shifat (bag 5)

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 173 - 175

Dan (ayat ini) mengandung 26 dari shifat-shifat Alloh. Di antara 5 shifat terkandung dalam 5 nama tadi.
KEENAM: KeesaanNya dalam Uluhiyah.
KETUJUH: Peniadaan mengantuk dan tidur dari diriNya karena kesempurnaan Hayyah dan Qoyyumiyah (kemandirian & mengurusi seluruh makhlukNya).
KEDELAPAN: Keumuman kekuasaannya; berdasarkan firmanNya:
لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ
"Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi"
KESEMBILAN: Pengesaan Alloh -azza wa jalla- dalam kepemilikan. Kita menyimpulkannya dari didaahulukannya khobar.
KESEPULUH: kuat dan sempurnanya otoritasNya; berdasarkan firmanNya:
مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
"Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya?"
KESEBELAS: penetapan al-'indiyyah, dan ini menunjukkan bahwa Alloh tidak berada di setiap tempat. Ini bantahan terhadap Hululiyyah.
KEDUABELAS: penetapan adanya izin dari Alloh berdasarkan firmanNya: إِلَّا بِإِذْنِهِ (kecuali dengan izinNya).
KETIGABELAS: keumuman ilmu Alloh -ta'ala- berdasarkan firmanNya:
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ
"Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka"
KEEMPATBELAS DAN KELIMABELAS: Bahwa Alloh -subhanahu wa ta'ala- tidak lupa apa yang telah terjadi; berdasarkan firmanNya: وَمَا خَلْفَهُمْ (apa yang ada dibelakang mereka) dan mengetahui apa yang akan terjadi berdasarkan firmanNya: مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ (apa yang ada di depan mereka).
KEENAMBELAS: sempurnanya keagungan Alloh; oleh karenanya makhluk tidak mampu untuk mencapainya.
KETUJUHBELAS: Penetapan kehendak Alloh, berdasarkaa firmanNya  إِلَّا بِمَا شَاءَ (kecuali dengan apa yang Dia kehendaki).
KEDELAPANBELAS: penetapan kursi, yaitu tempat kedua kaki.
KESEMBILAN BELAS, DUAPULUH DAN DUA PULUH SATU: penetapan keagungan, kekuatan dan kekuasaanNya; berdasarkan firmanNya:  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ "Kursi Allah meliputi langit dan bumi"; sebab besarnya makhluk menunjukkan kebesaran penciptannya.
KEDUAPULUHDUA, DUA PULUH TIGA DAN DUA PULUH EMPAT: sempurnanya ilmuNya, rahmatNya dan penjagaanNya; berdasarkan firmanNya:  ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا "Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya".

KEDUAPULUHLIMA: penetapan ketinggian Alloh berdasarkan firmanNya:  وَهُوَ الْعَلِيُّ (dan Alloh adalah Maha Tinggi).
Dan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah bahwa Alloh -subhanahu wa ta'ala- tinggi dengan Dzat-Nya. Dan ketinggian Alloh ini adalah termasuk sifat Dzatiyh yang azali dan abadi.

Dan dua kelompok telah menyelisihi Ahlus Sunnah dalam masalah tersebut: Satu kelompok yang mengatakan: Sesungguhnya Alloh berada di setiap tempat dengan Dzat-Nya! Dan kelompok yang lain mengatakan: sesungguhnya Alloh tidak di atas alam, tidak di bawahnya, tidak pula di dalam alam, tidak di kanan, tidak di kiri, tidak terpisah dari alam dan tidak bersatu dengan alam!

Mereka yang mengatakan bahwa Alloh ada di setiap tempat berdalil dengan firman Alloh -ta'ala-:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ

"Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada". (QS Al-Mujadilah: 7)
dan berdalil pula dengan firman Alloh -ta'ala-:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
"Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan". (QS Al-Hadid: 4)
Berdasarkan ini; maka Alloh tidaklah tinggi dengan Dzat-Nya tetapi tinggi menurut mereka adalah ketinggian sifat.

Adapun mereka yang mengatakan: Sesungguhnya Alloh tidaklah disifati dengan arah. Mereka berkata: Sebab jika kita mensifatinya dengan hal itu tentulah Alloh itu jism (badan); dan jism itu penyerupaan dan ini berkonsekwensi tamtsil (menyerupakan Alloh dengan makhluk). Karena hal ini maka kami mengingkari bahwa Dia ada di arah mana saja.
Namun kita membantah kedua golongan ini dari dua sisi:
Sisi Pertama: Salahnya pendalilan mereka.
Sisi Kedua: Penetapan kebalikan dari perkataan ereka dengan dalil-dalil yang qath'i.

(I) PERTAMA: Kita katakan kepada orang yang menganggap bahwa Alloh dengan dzatNya ada di setiap tempat: klaim kamu ini klaim yang batil. Terbantahkan oleh dalil naqli dan aqli (akal):

Adapun dalil naqli: Sesungguhnya Alloh -ta'ala- menetapkan untuk diriNya bahwa diriNya AL-'Aliy (Yang Maha Tinggi). Dan ayat yang engkau jadikan dalil itu tidaklah menunjukkan akan klaimmu (Alloh ada di mana-mana) sebab ma'iyyah (kebersamaan) tidak mengharuskan hulul (manunggal) dalam setiap tempat. Tidakkah engkau mendengar perkataan orang Arob: Rembulan bersama kita, sedangkan tempatnya ada di langit? Dan seseorang berkata: Istriku bersamaku; padahal dia di timur dan istrinya di barat? Dan seorang komandan berkata kepaada pasukannya: Berangkatlah kalian ke medan perang dan aku bersama kalian; padahal dia berada di ruang kendali dan pasukannya ada di medan perang. Tidaklah ma'iyah (kebersamaan) itu berkonsekwensi yang menemani dan ditemani ada di stu tempat selamanya. Ma'iyyah terbatasi maknanya tergantung pada penyandarannya. Maka terkadang kita katakan: Susu ini padanya ada air. Ini adalah ma'iyyah (kebersamaan) yang mengharuskan percampuran. Dan seseorang berkata: Hartaku ada padaku; padahal hartanya ada di rumah tidak dibawanya. Dan ia berkata ketika membawa hartanya: hartaku ada padaku; dan hartanya dia bawa. Maka ini adalah satu kata namun berragam maknanya tergantung penyandarannya. Berdasarkan hal ini kita katakan: Kebersamaan Alloh -azza wa jalla- dengan makhluknya sesuai dengan kemulianNya (Alloh subhanahu wa ta'ala) sebagaimana dengan kseluruhan sifat-sifatNya. Maka ini adalah kebersamaan yang sempurna dan hakiki namun Dia ada di langit.

Adapun dalil aqli akan bathilnya perkataan mereka; maka kita katakan: ketika aku berkata: Sesungguhnya Alloh bersamamu di setiap tempat. Maka ini mengandung konsekwensi yang bathil. Konsekwensinya adalah:

Pertama: Bisa jadi berbilang atau terbagi-bagi. Ini adalah konsekwensi yang batil tanpa diragukan lagi. Dan bathilnya konsekwensi (pemikiran mereka) menunjukkan akan bathilnya pemikiran mereka.

Kedua: kita katakan: tatkala aku katakan: Sesungguhnya Alloh bersamamu di berbagai tempat. Maka ini berkonsekwensi bertambah dengan bertambahnya manusia dan berkurang dengan berkurangnya manusia.

Ketiga: Pemikiran ini berkonsekwensi tidak adanya pensucian Alloh dari tempat-tempat yang kotor. Tatkala aku katakan: Sesungguhnya Alloh bersamamu ketika engkau ada di kakus. Maka ini adalah sebesar-besar celaan kepada Alloh -'azza wa jalla-.

(II) KEDUA; kita katakan kepada mereka:
Pertama: Sesungguhnya peniadaanmu terhadap arah (bagi Alloh) berkonsekwensi peniadaan terhadap Alloh -azza wa jalla-; sebab tidaklah kita mengetahui sesuatu yang tidak ada di atas alam dan tidak pula dibawahnya, tidak dikiri dan tidak dikanan, tidak bersatu dan tidak berpisah; kecuali sesuatu itu memang tidak ada. Oleh karenanya berkata sebagian ulama: "Jika dikatakan kepada kita: Sifatkanlah Alloh dengan ketiadaan! Maka kita tidak mendapati pensifatan yang lebih tepat untuk peniadaan kecuali dengan sifat seperti ini".
Kedua: Perkataanmu: "Penetapan arah (untuk Alloh) berkonsekwensi tajsiim (anggapan Alloh punya jisim/wujud jasmani)!". Kami akan mengajakmu diskusi tentang kata jisim:
Apakah jisim ini yang karenanya engkau hindarkan manusia dari menetapkan sifat-sifat Alloh?! Apakah maksud kalian jisim itu adalah sesuatu yang tersusun dari bagian-bagian yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya; yang tidak mungkin tegak kecuali dengan bergabungnya bagian-bagian ini?! Jika maksudmu ini maka kami pun tidak meyakininya. Dan kami katakan: Sesungguhnya Alloh tidak memiliki jisim dengan makna ini. Dan barang siapa berkata: Sesungguhnya penetapan ketinggianNya berkonsekwensi adanya jisim ini maka perkataannya hanyalah klaim semata. Cukuplah kita katakan:
Ini tidaklah bisa diterima!! Namun jika yang kalian maksudkan dengan jisim adalah Dzat yang berdiri sendiri yang menyandang sifat yang sesuai, maka kami menetapkannya. Dan kita katakan: Sesungguhnya Alloh -ta'ala- memiliki Dzat; dan Dia berdiri sendiri (mandiri) yang memiliki sifat kesempurnaan; dan ini yang diketahui oleh seluruh manusia.

Dengan demikian menjadi jelaslah batilnya perkataan mereka yang meyakini bahwa Alloh dengan Dzat-Nya ada di setiap tempat. Atau (mengatakan) bahwa Alloh -ta'ala- tidaklah ada di atas alam tidak pula di bawahnya, tidak bergabung dan tidak pula terpisah. Namun kita katakan bahwa Dia -azza wa jalla- bersemayam di atas Arsy-Nya.

Adapun dalil-dalil tentang ketinggian (Alloh -ta'ala-)yang telah membantah perkataan kedua golongan dan yang telah menguatkan pendapat Ahlus Sunnah wal Jama'ah maka banyak sekali dalilnya tidaklah terhitung jumlahnya. Adapun klasifikasinya ada lima yaitu: Al-Qur'an, As-Sunnah, Ijma', Akal dan Fithrah.

Adapun dari Al-Qur'an; maka beracam-macam dalil tentang ketinggian Alloh di antaranya tentang penjelasan tentang al-'Uluww (ketnggian Alloh) dan Al-Fauqiyyah (Alloh ada di atas), naiknya sesuatu kepadaNya dan turunnya sesuatu dariNya dan yang serupa dengan itu.

Adapun dari As-Sunnah maka beragam penunjukannya; dan telah bersesuaian As-Sunnah dengan 3 macamnya (Qoliyah, Fi'liyah dan Taqririyah -pent) akan ketinggian Alloh dengan DzatNya. Telah shahih ketinggian Alloh dengan Dzat-Nya dalam As-Sunnah dari perkataan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- perbuatannya dan ketetapannya.

Adapun dari Ijma'; maka kaum muslimin telah ijma' (sepakat) sebelum kemunculan kelompok-kelompok bid'ah ini bahwa Alloh -ta'ala- bersemayam di atas 'Arasy-Nya di atas para makhlukNya. Telah berkata syaikhul Islam: Tidaklah ada dalam firman Alloh dan tidak pula sabda rasul-Nya dan tidak pula ucapan shahabat dan tidak pula yang mengikuti mereka dengan baik yang menunjukkan -tidaklah secara nash dan tidak pula secara dzahir- bahwa Alloh ta'ala tidaklah di atas Arsy dan tidak di langit. Bahkan seluruh perkataan mereka bersepakat bahwa Alloh berada di atas segala sesuatu. -selesai-

Adapun dari Akal; maka kia katakan: Semua tahu bahwa al-Uluww (ketinggian) adalah sifat yang sempurna. Jika ini adalah sifat kesempurnaan maka wajib untuk ditetapkan bagi Alloh; karena sesungguhnya Alloh tersifati dengan sifat-sifat yang sempurna. Oleh karenanya kita katakan: Adalah bisa jadi Alloh ada di atas, atau di bawah atau sejajar. Adapun di bawah dan sejajar ditiadakan (dari sifat Aloh -pent) sebab di bawah naqish (kurang sempurna) dari segi makna. Sedangkan sejajar adalah naqish karena sama dengan makhluk dan menyerupainya (tamtsil); maka tidaklah tersisa kecuali sifat Uluw (ketinggian). Dan ini adalah bentuk lain dari dalil akal.

Adapun dari Fithrah; maka kita katakan: Tidaklah ada seorag hamba yang berkata: Ya Robb! kecuali didapati dalam hatinya secara naluri mengarah ke atas.

Maka bersesuaianlah lima dalil ini.
Adapun ketinggian sifat-sifat Alloh; maka ini adalah ijma' bagi setiap orang yang beragama atau yang mengaku dirinya muslim.

KEDUAPULUH ENAM: Penetapan Al-Adzomah (keagungan) untuk Alloh 'azza wa jalla- berdasarkan firmanNya: الْعَظِيمُ.
#######


Kandungan Ayat Kursyi Dalam Permasalahan Asma' wa Shifat (bag 4)

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 169 - 170

*Dan firmanNya: وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ "dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya." Dhomir pada kata يُحِيطُونَ  kembalinya kepada makhluk yang ditunjukkan oleh firmanNya:
لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
"Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi".
Yakni tiada seorang makhluk pun di langit dan di bumi yang mengetauhui sesuatu pun dari ilmu Alloh kecuali dengan apa yang Dia kehendaki.

FirmanNya: مِّنْ عِلْمِهِ "dari ilmuNya". Bisa jadi maksudnya ilmu tentang dzatNya dan shifat-shifatNya. Yakni bahwasannya kita tidak mengetahui sesuatu pun tentang Alloh, dzatNya dan shifat-shifatNya kecuali dengan apa yang Dia kehendaki dan yang Dia ajarkan kepada kita. Dan bisa jadi pula bahwa maksud ilmu di sini bermakna maklum (yang diketahui). Yakni mereka (para makhluk) tidak mampu menjangkau sesuatu pun dari pengetahuanNya; yaitu dari apa yang Dia ketahui kecuali dengan apa yang Dia kehendaki. Kedua makna ini benar. Dan kita katakan: Makna yang kedua lebih umum; karena apa yang diketahuinya masuk di dalamnya ilmuNya tentang dzatNya dan sifat-sifatNya dan yang selainnya.

FirmanNya:  إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ(melainkan apa yang dikehendaki-Nya); yakni kecuali yang Dia kehendaki dalam perkara yang Dia ajarkan kepada mereka.
Dan Alloh -ta'ala- telah mengajarkan kepada kita segala sesuatu yang banyak tentang asma-asmaNya dan sifat-sifatNya dan juga mengenai hukum-hukum kauniyah dan hukum-hukum syar'iyyah. Namun yang banyak ini (yang telah dijelaskan oleh Alloh ini -pent) dibandingkan dengan apa yang diketahuiNya adalah sedikit, sebagaimana firman Alloh -ta'ala-:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS Al-Isra': 85)
FirmanNya:
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ
"Kursi Allah meliputi langit dan bumi".
Maksudnya mencakupi; yakni bahwa kursiNya melingkupi langit-langit dan bumi, dan lebih besar darinya sebab jika tidaklah lebih besar tidaklah bisa melingkupinya.
Dan Kursi; Ibnu Abbas -radhiyallohu 'anhuma- berkata: yaitu tempat kedua Kaki Alloh -azza wa jalla-1), dan bukanlah maksudnya 'Arsy. Namun 'Arsy lebih besar dari pada kursi. Dan telah datang dari nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
أن السماوات والسبع والأرضين السبع بالنسبة للكرسي كحلقة ألقيت في فلاة من الأرض، وأن فضل العرش على الكرسي كفضل الفلاة على هذه الحلقة
"Sesungguhnya langit yang tujuh dan bumi yang tujuh dibandingkan dengan kursi Alloh seperti gelang yang engkau lemparkan ke tengah padang pasir. Dan sesungguhnya besarnya Arsy dibandingkan dengan besarnya kursi seperti besarnya padang pasir dengan gelang tersebut"2)

Ini menunjukkan akan besarnya makhluk-makhluk ini. Dan besarnya makhluk menunjukkan akan agungnya penciptanya.

Firman Alloh -ta'ala-:  وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَ "Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya". Yakni: tidak memberatkan dan tidak menyusahkanNya dalam memelihara langit dan bumi.
Ini adalah sifat manfiyah (yang ditiadakan). Ada pun sifat Subutiyah yang ditunjukkan oleh penafiian ini adalah kesempurnaan qudrohNya (kemampuanNya), ilmuNya, kekuatanNya dan rahmatNya.

FirmanNya: وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ "dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar". Lafadz الْعَلِيُّ dngan wazan fa'iil dan ini adalah sifat musyabahah; sebab ketinggian Alloh -azza wajalla- senantiasa ada pada DzatNya. Perbedaan antara sifat musyabahah dan isim fail yaitu bahwa isim fail adalah kejadian yang tiba-tiba yang memungkinkan untuk lenyap, sedangkan sifat musyabahah senantiasa dan terus menerus tersifati dengannya.
Ketinggian Alloh ada dua: Ketinggian dzatNya dan ketinggian sifatNya.
Ada pun ketinggian dzatNya maknanya bahwa Dia berada di atas segala sesuatu dengan DzatNya dan tidak ada sesuatu pun di atasNya dan tidak ada sesuatu pun yang sejajar denganNya.
Adapun ketinggian shifat-shifatNya maka sebagaimana yang Alloh firmankan:
وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ ۚ
"dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi;
yakni bahwa sifat-sifatNya seluruhnya adalah tinggi tidak ada padanya kekurangan dari sisi mana pun.

Adapun الْعَظِيمُ maka ini juga shifat musyabahah dan maknanya adalah 'yang memiliki keagungan' yaitu kekuatan dan kesombongan dan yang serupa dengan makna-makna itu yang dipahami dari penunjukkan (makna) kata ini.
Ayat ini mengandung nama Alloh yang lima yaitu: Alloh, Al-Hayyu, Al-Qoyyum, Al-'Aliyyu dan Al-Adzim.

Note:
1).(Diriwayatkan Abdulloh bin Imam Ahmad dalam Kitab As-Sunnah no. 586; Ibnu Abi Syaibah dalam Al'Arsy no. 61; Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid no. 248; Al-Hakim dalam Mustadrak (2/282) dan dia berkata sesuai dengan syarat Asy-Syaikhain namun keduanya tidak mengeluarkannya; Ad-Daruquthny dalam as-Shifat no. 36 dari Ibnu Abbas secara marfu'; dan dikuatkan oleh Al-Haitsami dalam Majmu' Az-Zawaid (2/323) oleh Ath-Thabroni dan dia berkata: perawinya perawi shahih; dan Al-Albani berkata dalam Mukhtashor Al-Uluw no. 45: Sanadnya shahih dan para perawinya tsiqah).
2). (HR Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Arsy no 58 dan Al-Baihaqy dalam Asma' wa Shifat 862 dari Abu Dzar -radhiyallohu 'anhu dan dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shohihah no 109; dan dia berkata: Tidak shahih hadits yang marfu' dari nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- tentang sifat Arsy kcuali hadits ini)

Kandungan Ayat Kursyi Dalam Permasalahan Asma' wa Shifat (bag 3)

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 169 - 170

* FirmanNya:  مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ (Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya?). Lafadz مَن ذَا adalah isim istifham (kata tanya). Atau kita katakan: مَن  isim istifham dan ذَا mulghah (diabaikan). Dan tidak benar dikatakan bahwa ذَا adalah isim maushul pada susunan seperti ini; sebab makna kalimat menjadi مَن الَّذِي الَّذِي (siapakah yang yang). Ini tidaklah benar.
Dan firmanNya مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ (Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah). Syafaat secara bahasa adalah enjadikan yang ganjil menjadi genap. Alloh ta'ala berfirman: والشفع والوتر (yang genap dan yang ganjil). (QS Al-Fajri:3). Sedangkan secara istilah yaitu wasilah kepada orang lain dalam memperoleh manfaat ataupun menolak mudharat; misal: Syafaat Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- kepada penduduk padang mahsyar agar Alloh memutuskan perkara mereka: ini adalah syafaat untuk menolak mudharat. Sedangkan syafaat beliau kepada penduduk surga agar Alloh memasukkannya ke surga adalah (syafaat) untuk mendapatkan manfaat.

Dan firmanNya: عِندَهُ"di sisiNya" maksudnya adalah di sisi Alloh.

Lafadz إِلَّا بِإِذْنِهِ (kecuali dengan izinNya); yakni izinNya untuk dia. Dan ini memberi makna akan adanya syafaat; namun dengan syarat dia diberi izin. Sisi pendalilannya seandainya tidak ada syafaat maka istisna (pengecualian) pada firmanNya "kecuali dengan izinNya" maka sia-sia tidak ada faidahnya.

Alloh menyebutkan setelah firmanNya: لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ "BagiNya apa-apa yang ada di langit..." memberikan dalil bahwa kekuasaan ini adalah khusus bagi Alloh -azza wa jalla-; bahwa Dialah pemilik kekuasaan yang sempurna; artinya tidak ada seorang pun yang mampu mengatur dan tidak pula memberikan syafaat yang baik kecuali dengan izinNya. Ini adalah dari kesempurnaan Rububiyah dan kekuaaanNya -azza wa jalla-.

Kalimat ini juga memberikan dalil bahwa Alloh memiliki idzn (izin); dan izin secara bahasa adalah i'lam (pemberitahuan). Alloh -ta'ala- berfirman:
وَأَذَانٌ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
"Dan (inilah) suatu permakluman(pemberitahuan) daripada Allah dan Rasul-Nya" (QS At-Taubah: 3)
yakni pemberitahuan dari Alloh dan rasulNya.
Maka makna بِإِذْنِهِ"dengan izinNya" (pada ayat kursi di atas -pent)yaitu pemberitahuan dariNya bahwa Dia ridha dengan hal tersebut.
Di sana ada syarat lain bagi syafaat, di antaranya: yaitu bahwa Alloh ridho kepada orang yang memberi syafaat dan yang diberi syafaat. Alloh -ta'ala- berfirman:
وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ
"dan mereka tiada memberi syafa'at melainkan kepada orang yang diridhai Allah" (QS Al-Anbiya': 28)
Dan firmanNya:
يَوْمَئِذٍ لَّا تَنفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا
"Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya". (Thaha: 109)

Dan di sana ada suatu ayat yang tiga syarat tersebut:
وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِن بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَن يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ [٥٣:٢٦]
"Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa'at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya)".(QS An-Najm: 26)
yakni Alloh ridho kepada pemberi syafaat dan yang diberi syafaat; sebab dibuangnya ma'mul (obyek) menunjukkan pada keumuman.
Apabila ada yang berkata: Apa manfaat dari syafaat jika Alloh -ta'ala- telah mengetahui bahwa orang yang akan diberi syafaat akan selamat?
Jawabnya: Sesungguhnya Alloh -subhanahu wa ta'ala- memberi izin dengan syafaat bagi orang yang diberi syafaat sebagai pemuliaan dan mendapatkan maqam mahmud (kedudukan yang terpuji).

* FirmanNya:
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ
"Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka".
Al-Ilmu (ilmu) yaitu pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana kenyataannya dengan pengetahuan yang pasti. Dan Alloh 'azza wa jalla "mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka" yaitu masa depan "dan apa-apa yang dibelakang mereka" yaitu yang telah terjadi. Dan kata ما dengan bentuk umum mencakup semua yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, dan mencakup pula perbuatanNya dan perbuatan-perbuatan hamba.

Kandungan Ayat Kursyi Dalam Permasalahan Asma' wa Shifat (bag 2)

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 167 - 169

* FirmanNya:
لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ
"tidak ditimpa kantuk dan tidak tidur"
As-Sinnah maksudnya adalah An-Nuas (ngantuk); yakni permulaan tidur. Dan tidak dikatakan: La yanam (tidak tidur); sebab tidur itu dengan ikhtiyar sedangkan ditimpa (kantuk) adalah dengan paksaan.
Tidur adalah sifat naqis (kekuranga bukan sempurna -pent). nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
إن الله ﻻ ينام وﻻ ينبغي له أن ينام
"Sesungguhnya Alloh tidaklah tidur dan tidak layak bagiNya untuk tidur" (HR Muslim 179 dari hadits Abu Musa Al-'Asyari).

Sifat ini termasuk sifat yang ternafikkan (ditiadakan). Dan telah berlalu penjelasannya bahwa sifat yang ternafikkan mestilah mengandung sifat yang ditetapkan, yaitu kesempurnaan sifat kebalikannya. Dan sifat kesempurnaan dalam firmannya:
لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ
"tidak ditimpa kantuk dan tidak tidur"
yaitu kesempurnaan Al-Hayat (hidup) dan Al-Qayyumiyah (kemandirian dan kepengurusan terhadap makhlukNya -pent). Dengan kesempurnaan hidupNya Dia tidak membutuhkan tidur; dan dari kesempurnaan QoyyumiyahNya dia tidak tidur; sebab tidur hanyalah dibutuhkan oleh makhluk hidup sebagai (bentuk) kekurangannya. Sebab makhluk membutuhkan tidur untuk istirahat dari kelelahan sebelumnya dan mengembalikan kekuatan untuk beraktivitas selanjutnya. Tatkala penduduk surga sempurna hidupnya maka mereka tidak tidur sebagaimana disebutkan dalam atsar-atsar yang shahih.
Namun senadainya ada yang berkata: Tidur itu bagi manusa adalah sempurna, oleh karenanya jika manusia tidak tidur dianggap sakit.

Maka kita katakan: Seperti makan bagi manusia adalah sempurna, seandainya tidak makan makan dianggap sakit. Namun ini adalah kesempurnaan di satu sisi dan kekurangan di sisi lain. Sempurna sebagai pertanda bagi sehatnya badan dan kebugarannya namun bentuk kelemahannya karena badan membutuhkannya. Dan ini pada hakekatnya adalah bentuk kekurangan.

Dengan demikian tidaklah setiap kesempurnaan yang relatif pada makhluk adalah kesempurnaan juga bagi A-Kholiq. Sebagaimana juga tidaklah kesempurnaan bagi Al-Kholiq adalah kesempurnaan juga bagi makhluk. Makan, minum, dan tidur adalah kesempurnaan bagi makhuk namun sifat naqis bagi Al-Kholik. Oleh karenanya Alloh -ta'ala- berfirman tentang diriNya:
وَهُوَ يُطْعِمُ وَلَا يُطْعَمُ ۗ
"Dan Dia memberi makan dan tidak diberi makan"(QS Al-An'am: 14)

FirmanNya:
لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
"Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.".
Lafadz لَّهُ adalah khobar muqoddam (khabar yang didahulukan). Dan مَا adalah mubtada' yang diakhirkan. Maka pada kalimat ini ada pembatasan, formatnya adalah dengan mendahulukan bagian kalimat yang harusnya diakhirkan yaitu khobar. Huruf lam pada  لَّهُ adalah menunjukkan kepemilikan yang sempurna tanpa ada lawanNya. Dan مَا فِي السَّمَاوَاتِ "Apa-apa yang ada di langit". Yaitu para malaikat, jin dan lain sebaginya dari hal-hal yang kita tidak tahu. وَمَا فِي الْأَرْضِ "Dan apa-apa yang ada di bumi"; berupa makhluk-makhluk seluruhnya, di antaranya hewan-hewan dan yang bukan hewan.
* FirmanNya السَّمَاوَاتِ (langit-langit) memberikan informasi bahwa langit itu berbilang; dan memang demikian adanya. Dan Al-Qur'an telah menginformasikan bahwa langit itu ada tujuh:
قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
Katakanlah: "Siapakah Pemilik langit yang tujuh dan Pemilik 'Arsy yang besar?" (QS Al-Mukminun: 86)
Dan bumi-bumi diisyaratkan Al-Qur'an bahwa jumlahnya tujuh tanpa penjelasan; dan dijelaskan oleh As-Sunnah. Alloh ta'ala berfirman;

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan bumi dengan semisalnya".(QS Ath-Tholaq: 12)
Semisalnya dalam jumlah dan bukan dalam sifat. Dan dalam hadits Nabi -'alaihisholatu wa salam-:
من اقتطع شبرا من الارض ظلما طوقه الله به يوم القيامة من سبع أرضين
"Barang siapa merampas sejengkal tanah secara dzalim niscaya Aloh akan mengalungkannya pada hari kiamat dengan tujuh lapis bumi". (HR Bukhari 2452 dan Muslim 1610 dari Sa'id bin Zaid -radhiyallohu 'anhu).

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)