“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Senin, 23 Maret 2020

Ilmu Alloh Meliputi Segala Sesuatu (Penjelasan QS At-Tholaq 12)

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 200-202

AYAT YANG KE-EMPAT:
FirmanNya:

لِتَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا

"agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu".(QS Ath-Tholaq: 12)

* Lafadz لِتَعْلَمُوٓا۟ "agar kamu mengetahui". Lam-anya lam ta'lil karena Alloh berfirman:
ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَـٰوَ‌ٰتٍۢ وَمِنَ ٱلْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ ٱلْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu".(QS At-Thalaq: 12)
Sesungguhnya Alloh telah menciptakan langit-langit yang tujuh ini dan bumi yang tujuh ini dan menjelaskan kepada kita akan hal itu agar kita mengetahui:"bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu".

Al-Qudrah (kuasa) adalah sifat yang memungkinkan pelaku suatu perbuatan tanpa kelemahan sehingga Dia adalah Maha Berkuasa atas segala sesuau. Mampu mengadakan yang tidak ada dan mentiadakan yang ada. Langit-langit dan bumi awalnya tidak ada lalu Alloh -azza wa jalla- menciptakannya dan mengadakannya dengan susunan yang sempurna ini.

FirmanNya:
وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا
"dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu".(QS Ath-Tholaq: 12)
Segala sesuatu yang kecil maupun yang besar, yang terkait dengan perbuatanNya maupun perbuatan hambaNya, yang telah lampau, yang akan datang ataupun yang sedang terjadi. Semua itu -sungguh ilmu Alloh subhanahu wa ta'ala telah meliputinya.

Alloh -azza wa jalla- menyebutkan ilmu dan qudrah setelah penciptaan sebab penciptaan tidaklah akan sempurna kecuali dengan ilmu dan qudrah. Dan penciptaan menunjukkan kepada ilmu dan qudrah termasuk pada dalalah talazum (penunjukkan atas konskwensi). Dan telah berlalu penjelasannya bahwa nama menunjukkan akan sifat-sifat terbagi atas tiga macam.

Peringatan:
Disebutkan dalam tafsir Al-Jalalain -semoga Alloh mengampuni kita dan beliau- di akhir surat Al-Maidah disebutkan: "Akal mengecualikan Dzat-Nya; Dia tidak berkuasa atas Dzat-Nya".

Kita akan menyanggah ucapan ini dari dua sisi:
PERTAMA: Bahwasannya tidak ada ketetapan bagi akal terhadap perkara yang terkait dengan Dzat Alloh dan sifat-sifatNya bahkan tidak ada ketetapan akal pada seluruh permasalahan ghaib. Tugas akal hanya pasrah secara sempurna. Dan agar kita ketahui bahwa apa yang disebutkan Aloh dari perkara-perkara ini bukanlah yang tidak masuk akal. Karenanya dikatakan: sesungguhnya nash-nash itu tidaklah datang dengan perkara yang tidak masuk akal namun datang dengan hal yang logis yakni dengan sesuatu yang bisa dijangkau akal; sebab akal mendengar apa yang tidak dapat dijangkaunya dan tidak tergambar padanya.

KEDUA: perkataannya: "Dia tidak berkuasa atas Dzat-Nya" ini adalah kesalahan besar. Bagaimana Dia tidak berkuasa atas Dzat-Nya sedangkan Dia berkuasa atas selainnya. Ucapannya ini melazimkan bahwa Dia tidak mampu untuk beristiwa', tidak mampu berbicara, tidak mampu turun ke langit dunia, tidak mampu berbuat demikian dan demikian selamanya. Ini pemikiran yang berbahaya sekali.

Namun jika ada yang berkata: mungkin maksudnya: "Akal mengecualikan Dzat-Nya; Dia tidak berkuasa atas Dzat-Nya" yakni Dia tidak mampu menjadikan kekurangan pada diriNya.
Kita katakan: Sesungguhnya tafsiran ini tidaklah masuk pada keumuman (perkataan tersebut) sehingga butuh pada pengecualian dan pengkhususan karena kemampuan hanyalah terkait segala sesuatu yang mungkin, sebab sesuatu yang tidak mungkin bukanlah sesuatu (yang teranggap), tidak di luar dan tidak pula di dalam pikiran. Qudrah (kemampuan) tidaklah terkait dengan sesuatu yang mustahil berbeda dengan ilmu.

Maka selayaknya bagi setiap insan untuk beradab terhadap permasalahan terkait Rububiyah karena permasalahan ini adalah permasalahan yang agung. Dan wajib bagi seseorang terhadap permasalahan semacam ini untuk berserah diri dan menerimanya.
Dengan demikian kita memutlakkan apa yang Alloh mutlakkan dan kita katakan: Sesungguhnya Alloh maha berkuasa atas segala sesuatu tanpa terkecuali.

Dalam ayat ini terdapat sifat-sifat Alloh -ta'ala-: penetapan keumuman ilmu Alloh dengan bentuk perincian dan penetapan keumuman qudrah (kekuasaan/kemampuan) Alloh -ta'ala-.

Faidah Maslakiyah dari keimanan kepada ilmu dan qudrah yaitu kuatnya rasa muraqabah kepada Alloh (merasa di awasi Alloh) dan takut kepadaNya.

Ilmu Alloh Meliputi Segala Sesuatu (Penjelasan QS Fathir Ayat 11)

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 199-200

Ayat yang ketiga:
وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِۦ ۚ
" Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya" (QS Fathir: 11)


* Maa (مَا) adalah maa nafiyah (peniadaan).
* lafadz  أُنثَىٰ adalah fa'il dari تَحْمِلُ namun mu'rob dengan dhommah muqoddaroh di akhirnya. Tidak dinampakkan karena "isytighal mahal" dengan harakat huruf jarr tambahan.
Di sini ada permasalahan: Bagaimana engkau katakan tambahan padahal di Al-Qur'an tidak ada tambahan?
Jawabnya: Bahwasannya ini adalah tambahan dari sisi i'rab ada pun dari sisi makna maka ini berfaidah dan tiada didapati dalam Al-Qur'an suatu tambahan yang tidak berfaidah. Oleh karenanya kita katakan: Ini adalah tambahan. Tambahan dengan artian tidak bertentangan dengan i'rab apabila dihilangkan. Tambahan dari segi makna yang ditambahkan padanya.
*FirmanNya: مِنْ أُنثَىٰ kata untsa (wanita) ini mencakup jenis manusia maupun hewan-hewan lainnya. Hewan yang mengandung jelas ia masuk dalam ayat ini; seperti sapi, onta, kambing dan yang serupa dengan itu. Dan termasuk pula di dalamnya yang mengandung telur seperti burung-burung; sebab telur dikandung dalam perut burung.

* FirmanNya:  وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِۦ ۚ "dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya" permulaan hamil dengan pengetahuan Alloh dan dipenghujungnya dan keluarnya janin dengan pengetahuan Alloh -azza wa jalla- juga.

Ilmu Alloh Meliputi Segala Sesuatu (Penjelasan QS Al-An'am Ayat 59)

Diterjemahkan dari kitab Syarah Aqidah Al-Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahulloh-; hal 193-199

Kemudian Alloh -azza wa jalla- memberikan perincian lain pada ayat yang lain. Alloh -ta'ala- berfirman:
Ayat Ke-Dua:

عِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍۢ فِى ظُلُمَـٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍۢ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَـٰبٍۢ مُّبِينٍۢ [٦:٥٩]

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"(QS Al-An'am: 59)

*Makna عِندَهُۥ (disisiNya) yakni di sisi Alloh, sebagai khobar yang didahulukan. Sedangkan مَفَاتِحُ (kunci-kunci) sebagai mubtada' yang diakhirkan.
Susunan ini memberikan faidah pembatasan dan pengkhususan. Kunci-kunci yang ghaib hanya di sisi Alloh dan tidak di sisi selainNya. Pembatasan ini dikuatkan dengan firmanNya:  لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ (tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri). Dalam kalimat ini ada pembatasan bahwa ilmu tentang perkara ghaib ini hanya di sisi Alloh dengan dua metode:
Pertama: dengan metode mendahulukan dan mengakhirkan.
Kedua: dengan metode peniadaan dan penetapan.

* Kata مَفَاتِحُ dikatakan sebagai jama' dari مفتح dengan mengkasrahkan mim dan memfathahkan ta': miftaah. Atau jama' dari miftaah namun dihilangkan huruf ya' dan ini jarang ditemui. Dan kita mendefinisikan bahwa miftah (kunci) adalah yang dengannya pintu dibuka. Dan ada yang berpendapat: jama' dari maftih; dengan memfathahkan mim dan mengkasrahkan ta' yang artinya perbendaharaan (tempat penyimpanan -pent). Sehingga مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ maknanya adalah perbendaharaanNya. Dan ada yang berpendapat pula bahwa  مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ adalah mabadi' (permulaan) sebab pembuka segala sesuatu adalah di awalnya. Sehingga dengan demikian  مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ maksudnya adalah permulaan yang ghaib sebab hal-hal yang disebutkan ini adalah permulaan terhadap apa yang ada setelahnya.

* Kata ٱلْغَيْبِ masdarnya ghaaba - yaghiibu - ghaiban. Dan maksud ghaib adalah adalah sesuatu yang tidak nampak. Dan ghaib ini perkara yang relatif. Akan tetapi keghaiban yang mutlak ilmunya khusus hanya pada Alloh.

Al-mafaatih ini; sama saja kita katakan bermakna permulaan, atau perbendaharaan atau kunci-kunci maka tidak ada yang mengetaahuinya kecuali Alloh -azza wa jalla-. Tidaklah diketahui oleh seorang malaikat pun, dan tidak pula seorang rasul bahkan utusan yang paling mulia dari kalangan malaikat  -yakni Jibril- bertanya kepada utusan yang paling mulia dari kalangan manusia yaitu -Muhammad shollallohu 'alaihi wa sallam-. Dia bertanya: "Kabarkan kepadaku tentang datangnya hari kiamat". Beliau menjawab:"Yang ditanya tentang hal itu tidaklah lebih mengetahui dari pada yang bertanya". Maksudnya: Sebagaimana engkau tidak mengetahui ilmunya maka aku juga tidak mengetahui ilmunya. Barang siapa yang mengklaim mengetahui datangnya hari kiamat maka dia adalah seorang pendusta dan kafir. Orang yang membenarkannya maka dia juga kafir sebab dia mendustakan Al-Qur'an.

Dan kunci-kunci ini telah dijelaskan oleh manusia yang paling berilmu terhadap firman Alloh yakni Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- tatkala membacakan:
إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۭ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًۭا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍۢ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ
"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".(QS Luqman: 34)

ada lima hal:

PERTAMA: ILMU TENTANG HARI KIAMAT. Ilmu tentang hari kiamat adalah awal pembuka untuk kehidupan akhirat. Dan dinamakan hari kiamat dengan ini (As-Saa'ah) adalah karena hari itu adalah hari yang sangat dahsyat yang ditakut-takuti seluruh manusia dengannya. Dan disebut Al-Haaqqah dan Al-Waqiah. Dan hari kiamat yang mengetahui hanya Alloh. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan terjadinya kecuali Alloh -azza wa jalla-.

KEDUA: TURUNNYA HUJAN. Berdasarkan firmanNya:  وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ (dan Dialah yang menurunkan hujan). ٱلْغَيْثَ adalah masdar. Maknanya adalah hilangnya kekerasan, maksudnya di sini adalah hujan, sebab dengan hujan hilang kekeringan dan kegersangan. Jika Dialah yang menurunkan hujan maka Dia juga yang mengetahui kapan turunnya.
Turunnya hujan merupakan pembuka bagi kehidupan bumi dengan tetumbuhan. Dengan hidupnya tetumbuhan menjadi kebaikan bagi ladang penggembalaan dan seluruh yang terkait dengan kebaikan hamba-hambaNya.
Di sini ada point penting: Alloh berfirman وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ "Dia yang menurunkan Al-Ghaits (hujan yang lebat)". Dan Alloh tidak mengatakan: Dia yang menurunkan hujan. Sebab hujan terkadang turun namun tidak menumbuhkan tanam-tanaman, dan tidak pula deras, tidak pula bumi hidup dengannya. Oleh karenanya telah ada pada shahih Muslim:

ليست السَنَةُ أﻻ طُمْطَروا ، إنما السنة أن تُمْطَرُوا وﻻ تنبت الأرض شيئا
"Bukanlah paceklik itu tidak turun hujan pada kalian, namun paceklik itu hujan turun pada kalian namun tidak menumbuhkan apa-apa"(HR Muslim 2904).
As-Sannah: maknanya al-qahthu (paceklik).

KETIKA: ILMU TENTANG APA YANG ADA DALAM KANDUNGAN. Berdasarkan firmanNya:
 وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ
"dan Dia mengetahui apa yang ada dalam rahim"
yakni rahim perempuan. Alloh -azza wa jalla- mengetahui apa yang ada di dalam kandungan wanita; yakni apa yang ada di dalam perut para ibu dari kalangan manusia maupun selainnya. Keterkaitannya dengan ilmu ini umum terhadap segala sesuatu. Tidak ada yang mengetahui apa yang ada di dalam kandungan kecuali Dia -azza wa jalla- yang telah menciptakannya.

Jika engkau katakan: dikatakan sekarang ini: mereka (para ahli) menjadi tahu jenis kelamin laki-laki atau perempuan dalam rahim. Apakah ini benar?

Kita katakan: "Ini adalah perkara yang benar adanya dan tidak mungkin diingkari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui kecuali setelah terbentuk janin dan kelihatan jenis kelamin laki-laki atau perempuannya. Janin ini ada kondisi-kondisi lain yang mereka tidak mengetahuinya. Mereka tidak mengetahui kapan lahirnya. Mereka tidak mengetahui apabila dia lahir sampai kapan dia akan hidup. Mereka tidak mengetahui nantinya dia bahagia atau celakanya. Mereka juga tidak mengetahui nantinya dia kaya atau miskin dan selainnya yang merupakan perkara-perkara yang tidak diketahui.

Dengan demikian, kebanyakan perkara-perkara yang terkait dengan janin tidak diketahui manusia. Maka benarlah keumuman firmanNya : وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ "dan Dia mengetahui apa yang ada dalam rahim".

KEEMPAT: PENGETAHUAN TENTANG HARI ESOK. Yakni, hari setelah hari ini. Berdasarkan firmanNya:
 وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۭ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًۭا
"Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok".
Dan ini adalah pembuka bagi hal yang dikerjakan pada waktu yang akan datang. Jika manusia tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh dirinya maka ketidaktahuannya dengan apa yang akan dilakukan selainnya lebih tidak tahu lagi.

Namun jika ada yang berkata: saya mengetahui yang akan terjadi esok, saya akan pergi ke tempat Fulan, atau membaca atau mengunjungi kerabatku.
Kita katakan: terkadang seseorang memastikan bahwa dia akan mengerjakannya namun ada penghalang yang merintangi antara dia dan rencananya.

KELIMA: PENGETAHUAN TENTANG TEMPAT MATINYA. Hal ini berdasarkan firman Alloh -ta'ala-:
وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍۢ تَمُوتُ ۚ
"Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati"
Tiada seorang pun yang mengetahui apakah dia mati di negerinya atau di negeri lain. Di negeri Islam ataukah di negeri yang penduduknya kafir. Dan dia juga tidak mengetahui apakah dia nantinya mati di daratan atau di lautan atau di angkasa. Ini adalah hal yang kita saksikan.

Dan seseorang tidak mengetahui jam berapa dia mati. Apabila dia tidak mungkin mengetahui di mana dia akan mati meski terkadang dia menentukan tempat (dia ingin meninggal. Demikian pula dia tidak mengetahui kapan dan jam berapa dia mati.

Ini adalah lima perkara yang merupakan pembuka bagi hal yang ghaib yang tiada yang mengetahuinya kecuali Alloh. Dan disebut dengan kunci-kunci keghaiban. Sebab, pengetahuan tentang apa yang ada di dalam rahim adalah pembuka bagi kehidupan dunia.
FirmanNya: وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۭ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًۭا "Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok" adalah pembuka bagi amalan yang akan dilakukan pada hari besok.  وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍۢ تَمُوتُ "Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati" adalah pembuka bagi kehidupan akhirat sebab jika manusia telah mati maka dia masuk alam akhirat. Telah berlalu penjelasan tentang pengetahuan tentang hari kiamat dan penurunan hujan. Menjadi jelas bahwa kunci-kunci ini semua adalah permulaan bagi perkara yang akan datang berikutnya.  إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".

* Kemudian Alloh -azza wa jalla- berfirman:
 وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ
"dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan" (QS Al-An'am: 59)
Ini umum. Siapakah yang mampu menghitung berbagai jenis (makhluk) yang ada di daratan? Berapa banyak dunia binatang, hasyarat (sejenis serangga dan semisalnya -pent), gunung-gunung, pepohonan, dan sungai-sungai; hal-hal yang tidaklah diketahui kecuali Alloh -azza wa jalla-. Demikian pula lautan yang di dalamnya terdapat kondisi alam yang tidaklah diketahui kecuali penciptaNya -azza wa jalla. Mereka (para ahli) mengatakan bahwa jenis kehidupann lautan tiga kali lipat dari pada daratan; sebab lautan lebih luas dari pada daratan.

* FirmanNya:
 وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا
"dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)"(QS Al-An'am: 59)
Ini perincian. Maka daun mana saja yang jatuh; yang ada di pohon manapun baik yang kecil maupun yang besar; yang dekat maupun yang jauh maka Alloh -ta'ala- mengetahuinya. Berdasarkan hal ini terdapat 'maa nafiyah' dan 'min zaidah' sehingga menjadi lafadz yang umum. Dan daun yang diciptakan maka Dia lebih mengetahuinya; sebab (Alloh) Yang Mengetahui apa yang jatuh maka Dia juga mengetahui apa yang diciptakanNya.
Lihatlah kepada luasnya ilmu Alloh -ta'ala-; segala sesuatu yang terjadi maka Dia mengetahuinya sampai perkara yang belum terjadi dan akan terjadi Dia mengetahuinya.
Alloh berfirman:
وَلَا حَبَّةٍۢ فِى ظُلُمَـٰتِ ٱلْأَرْضِ
"dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi" (QS Al-An'am: 59).
Biji kecil yang tidak diketahui ujungnya di kegelapan bumi Alloh -azza wa jalla- mengetahuinya.

* Kata ظُلُمَـٰتِ "kegelapan" adalah jama' dari dzulmah. Kita anggaplah ada sebuah biji kecil yang tenggelam di dasar samudera pada malam yang gelap dan hujan lebat. Maka kegelapannya: Pertama: lumpur samudera; Kedua: air samudera; Ketiga: hujan; Keempat: mendung; Kelima: malam. Ini adalah lima kegelapan di kegelapan bumi. Meski demikian biji ini diketahui dan dilihat oleh Alloh -azza wa jalla-.

* Lafadz وَلَا رَطْبٍۢ وَلَا يَابِسٍ "dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering" maka ini umum. Segala sesuatu mungkin dia basah dan mungkin dia kering.

* Lafadz إِلَّا فِى كِتَـٰبٍۢ مُّبِينٍۢ "melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"(QS Al-An'am: 59. Kitab bermakna maktub. Mubin yakni yang menampakkan dan jelas; sebab ابان bisa dipakai untuk mutaaddi (membutuhkan objek) dan lazim (tanpa membutuhkan objek). Dikatakan: 'abanal fajr' (fajar telah nampak) maksudnya fajar telah kelihatan.
Dan dikatakan 'abanal haqq' maksudnya menampakkannya (kebenaran). Maksud kitab di sini adalah lauh mahfudz.
Segala sesuatu ini diketahui oleh Alloh -subhanahu wa ta'ala- dan telah tertulis di sisiNya di lauh Mahfudz. Sebab tatkala Alloh menciptakan qalam (pena); maka Alloh memerintahkan kepadanya: Tulislah! Qalam bertanya: Apa yang harus aku tulis? Alloh berfirman: Tulislah segala sesuatu yang ada sampai hari kiamat. (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Hakim dan dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shohihah).
Maka Qalam menuliskannya dalam sekejab segala sesuatu yang terjadi sampai hari kiamat. Kemudian Alloh -subhanahu wa ta'ala- menjadikan kitab-kitab di tangan para malaikat. Malaikat menuliskan apa yang diperbuat manusia sebab yang ada di lauh mahfudz telah tertulis di dalamnya apa yang diinginkan manusia untuk mengerjakannya. Sedangkan yang ditulis para Malaikat adalah yang manusia akan diberi balasan atasnya. Oleh karenanya Alloh -ta'ala- berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ ٱلْمُجَـٰهِدِينَ مِنكُمْ وَٱلصَّـٰبِرِينَ
"Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu" (QS Muhammad: 31)
Adapun pengetahuannya bahwa hambaNya si Fulan akan bersabar atau tidak bersabar maka ini sudah tertulis sebelumnya namun tidaklah berkonsekwensi pahala maupun hukuman.

Kamis, 19 Maret 2020

Tuhfah: Apakah Penyihir Kafir?

Berkata penulis -hafidzahulloh-:
هل الساحر كافر؟
"Apakah penyihir itu kafir?"

Penjelasan:
Sihir secara bahasa maknanya sesuatu yang sebabnya nampak samar dan tersembunyi. Di antaranya waktu sahur sebab dia di akhir malam dan tersembunyi.
Sedangkan secara istilah yaitu buhul(ikatan), mantra dan jimat yang dijadikan penyihir sebagai perantara untuk meminta bantuan setan untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya berupa pengaruh pada badan orang yang disihir, atau kecenderungannya atau hayalannya.

Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:
Alloh -ta'ala- berfirman:
وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kafir tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia yaitu Harut dan Marut. Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir.” Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan, dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh, mereka sudah tahu, barangsiapa membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu". (QS Al-Baqarah: 102)

Penulis berkata:
Aku katakan: dari ayat yang mulia ini, di antaranya firmanNya:
وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ
"Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir.”
Menjadi sangat jelas bahwasannya tidak mungkin mempelajari ilmu sihir kecuali dia telah kafir. Maka telah kafir dengan mempelajarinya. Berdasarkan ayat yang mulia ini maka penyihir adalah kafir. Kita memohon perlindungan kepada Alloh dari kekafiran, penyimpangan dan dari amalan-amalan penduduk neraka.

Penjelasan:
Dan yang memperkuat pendapat penulis adalah firman Alloh -ta'ala-:

وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ

"Dan sungguh, mereka sudah tahu, barangsiapa membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat". (QS Al Baqarah: 102)
Yakni: bagian dan perolehan (di akhirat). Maka keimanan terlepas darinya dengan sebab sihir yang dia bawa. Dan firman Alloh -ta'ala-:

ۖ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

"Dan tidak akan menang pesihir itu, dari mana pun ia datang.” (QS Thaha: 69)
Dan telah shahih dalam kitab Shahihain dari Abu Hurairah secara marfu: "Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan... diantaranya: Syirik kepada Alloh dan sihir..."
Dan berdasarkan hal ini maka yang benar bahwa penyihir disuruh bertaubat, jika dia mau bertobat maka itu yang dikehendaki jika tidak maka dibunuh sebagai orang kafir. Dan telah datang hadits dalam shahih Bukhari dari Bajalah bin Ubaid ia berkata:
كتب عمر: أن اقتلوا كل ساحر و ساحرة. قال: فقتلنا ثلاث سواحر
"Umar telah menulis: Bunuhlah semua penyihir laki-laki dan perempuan". Ia berkata: Maka kami membunuh tiga penyihir".
Riwayat ini shahih.
Dan telah shahih dari Hafshah pula bahwa dia memerintahkan membunuh budak perempuan yang telah menyihirnya. Dan hal ini juga yelah shahih dari Jundub. Dan dalil yang menunjukkan bahwa ia harus dibunuh adalah keumuman firman Alloh -ta'ala-:
إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ

"Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di bumi hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya" (QS Al Maidah: 33)

Bagaimana Menangkal Sihir?
Menangkal sihir ada tiga cara dan amalan ini disebut nusyrah (jampi-jampi):
Pertama: ditangkal dengan sihir yang serupa, maka ini haram.
Kedua: menangkal sihir dengan bacaan Al-Qur'an, dzikir-dzikir, ruqyah yang disyariatkan terhadap orang yang disihir maka ini boleh. Rasululloh -shallallohu 'alaihi wa sallam- bersabda sebagaimana yang terdapat pada hadits Muslim dari hadits Auf bin Malik:
من استطاع أن ينغع أخاه فليفعل
"Barang siapa mampu memberikan manfaat kepada saudaranya hendaklah dia lakukan".

KETIGA: Dengan pengobatan Arabi dan yang diketahui manfaatnya melalui penelitian, dan yang tidak menyelisihi syariat seperti yang dilakukan penyihir atau dukun atau hal-hal yang menyelisihi syariat lainnya. Dan kami telah memberikan penjelasan rinci masalah ini di syarah kami pada kitab tauhid, silahkan dilihat.

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulohu ta'ala- hal 107 - 110.


Rabu, 11 Maret 2020

Bolehkah Makmum Bershalawat Saat Khotib Khutbah Jum'at?

Al-Imam Al-Muhaddits Syaikh Al-Albany -rahimahulloh- ditanya:

Penanya: Apakah boleh mengamini do'a ketika ketika khotib sedang berkhutbah?

Syaikh: Ini tidak diperbolehkan.

Penanya: Na'am. Dan sholawat kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam?

Syaikh: Tidak boleh. Tidak boleh baca sholawat, tidak boleh bicara, dan tidak boleh baca sholawat kepada Nabi. Berdasarkan sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
إذا قلت لصاحبك يوم الجمعة والإمام يخطب أنصت فقد لغوت
"Apabila engkau berkata kepada temanmu pada hari jumat ketika khotib sedang berkhutbah: "diamlah" maka engkau telah sia-sia (dengan sholat Jumatmu)".

Penanya: Apakah ternasuk juga do'a?Syaikh: Semuanya...Al-Imam Al-Albany -rahimahulloh-.

Sumber: Al-Huda wan Nur (262).

Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi'i -rahimahulloh-
Penanya:Apakah boleh bagi orang yang menghadiri Jum'atan bersholawat kepada Nabi?

Jawab:
Ini adalah masalah yang menjadi ikhtilaf di kalangan ulama mutaqadimun.

Di antara mereka berpendapat bolehnya berdasarkan hadits: "Bakhil adalah orang yang aku disebutkan di sisinya namun tidak bersholawat kepadaku". Dan hadits:"Celakalah seseorang yang aku disebutkan di sisinya namun tidak bersholawat kepadaku".

Dan diantara mereka ada yang berpendapat tidak bolehnya hal tersebut berdasarkan hadits: Barang siapa berbicara saat imam berkhotbah maka tidak ada sholat jum'at baginya.
Dan pendapat terakhir ini yang benar -in sya Alloh-.
Oleh karenanya tidak boleh berbicara sesuatu pun, hendaklah mendengarkan dan diam.
Penanya: Apakah bersholawat secara sirr dalam hatinya kepada Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam?
Syaikh: Yang utama adalah mendengarkan khotbah dan diam.

Sumber: Kitab Rihlatul Akhirah: 153.

سئل الامام المحدث الشيخ الالباني رحمه الله 

السائل : هل يجوز التأمين عند الدعاء والخطيب يخطب؟

الشيخ : هذا لا يجوز .

السائل : نعم...
والصلاة على النبي - صلى الله عليه وسلم - .
الشيخ : لا يجوز لا صلاة ولا كلام ولا صلاة على الرسول

لقول النبي صلى الله عليه وسلم":
( إذا قلت لصاحبك يوم الجمعة والإمام يخطب أنصت فقد لغوت ) .
السائل : ويدخل فيها الدعاء؟
الشيخ : كل شيء .

[الامام الالباني رحمه الله]
المصــدر : الهدى والنور (262)]

الشيخ مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله
- هل يجوز لمن حضر الجمعة ان يصلي على النبي ؟

- الجواب المسألة اختلف فيها العلماء المتقدمون
فمنهم من قال : يجوز لحديث : البخيل من ذُكرت عنده فلم يصلِّ علي ولحديث : رغم أنف امرئٍ ذُكِرت عنده فلم يصلِّ علي

ومنهم من لا يجيز ذلك لحديث : " من تكلم والإمام يخطب فلا جمعة له " .
والراي الأخير هو الصحيح إن شاء الله

لذا فإنه لا يجوز أن يتكلم بشئ فيسمع وينصت

السائل : وهل يصلي في نفسه سراً على النبي - صلى الله عليه وعلى آله وسلم -
الشيخ : الأولى أن يستمع للخطبة وينصت .

【كتاب : ( الرحلة الأخيرة صـ 153】
ــــــ ✵✵ ــــــ ✵✵ــــــ

 أُنشرُوهَا فَنشّرُ العِلمِ مِنْ أَعْظَمِ القُرُبَات

Jumat, 06 Maret 2020

Tuhfah: Ahli Nujum adalah Tukang Sihir

Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:

هل المنجم ساحر؟
"Apakah ahli nujum itu penyihir?"

Penulis berkata:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ، اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ»

"Dari Abdulloh bin Abbas -radhiyallohu 'anhuma- berkata: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Barangsiapa mempelajari suatu ilmu dari perbintangan maka dia telah mempelajari satu cabang dari ilmu sihir. Bertambah sesuai yang dipelajarinya" (dikeluarkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad dengan sanad shahih).

Penulis berkata: Aku katakan: dari hadits ini menjadi jelas bagimu bahwa setiap ahli nujum adalah penyihir. Dan tatkala seseorang bertambah dalam ilmu nujumnya maka bertambah pula sihirnya. Kita berlindung kepada Alloh dari ahli nujum penyihir.

Penjelasan:
Ahli Nujum adalah orang yang mengklaim mengetahui perkara ghaib dengan perantara bintang-bintang. Dia meramalkan kejadian-kejadian di bumi dengan pergerakannya. Perbuatan ini adalah syirik besar sebab dengannya mengantarkan pada pengakuan mengetahui ilmu ghaib padahal Alloh ta'ala berfirman:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

"Katakanlah (Muhammad), “Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.”(QS An-Naml: 65)

Perkataan Rasululloh -shollohu alaihi wa sallam: "barang siapa mempelajari ilmu nujum", yakni belajar  ilmu ilmu tentang perbintangan (astrologi) yang mengantarkannya  mengklaim mengetahui perkara ghaib. Dan tidak termasuk dalam bahasan ilmu perbintangan ini yang dipelajari untuk mengetahui musim tahunan atau mengetahui arah empat mata angin.

Perkataan Rasululloh -shollohu alaihi wa sallam: "dia telah mempelajari satu cabang dari ilmu sihir" yakni belajar bagian dari ilmu tersebut. As-Syu'bah (cabang) maknanya adalah bagian. Alloh -ta'ala- berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal". (QS Al-Hujurat: 13)

Perkataan beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam-: "Bertambah sesuai yang dipelajarinya" yakni ketika bertambah dalam mempelajari bagian dari astrologi maka bertambahlah sihirnya dan diambilkan dari hadits -sebagaimana yang disebutkan penulis-: Sesungguhnya ahli nujum itu adalah penyihir.

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulohu ta'ala- hal 106-107.

Senin, 02 Maret 2020

Tuhfah: Haramnya bersumpah Dengan Selain Alloh

Penulis -hafidzahulloh- berkata:
تحريم الحلف بغير الله
"Haramnya bersumpah dengan selain Alloh".

Penjelasan:
Sumpah dengan menyebut selain Alloh terkadang bisa menjadi syirik besar dan terkadang syirik kecil tergantung bagaimana yang ada di dalam hati yang bersumpah. Terkadang orang yang bersumpah dia mengagungkan sesutu selain Alloh sebagaimana dia mengagungkan Alloh atau lebih lagi. Ini adalah syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dan terkadang tidak ada pengagungan hanya sekedar ucapan lisan seperti bersumpah dengan amanah, persaudaraan, roti, garam dan sebagainya.
Al-halaf yaitu mengikat sumpah untuk menguatkan sesuatu.

Penulis -hafidzahulloh- berkata:
Dari Ibnu Umar -radhiyallohu 'anhuma- bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- mendapati Umar sedangkan dia sedang berjalan dalam rombongan bersumpah dengan bapaknya. Maka Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- menyeru mereka:
ألا إن الله عزّ و جلّ ينهاكم أن تحلفوا بآبائكم، فمن كان حالفا فليحلف بالله أو ليصمت
"Ketahuilah, sesungguhnya Alloh -azza wa jalla- melarang kalian bersumpah dengan menyebut bapak-bapak kalian. Barang siapa bersumpah hendaklah bersumpah dengan menyebut nama Alloh atau diam" (HR Bukhari dan Muslim). 
Dan dari Ibnu Umar juga berkata: Rasululloh -shollallohu alaihi wa sallam bersabda:
فمن كان حالفا فلا يخلف إلا بالله
"Barangsiapa bersumpah, maka janganlah ia bersumpah kecuali dengan ( nama) Alloh" (HR Muslim).

Dan dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- berkata: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
من حلف منكم فقال في حلفه: باللات والعزى فليقل: لا اله الا الله. ومن قال لصاحبه: تعال أقامرك فليتصدق بشيء
"Barangsiapa di antara kalian bersumpah lalu berkata dalam sumpahnya: demi Latta dan Uzza hendaklah ia berkata Lailaha illalloh. Dan barang siapa berkata kepada kawannya: kemarilah, aku berjudi denganmu. Hendaknya dia mensedekahkan sesuatu" (HR Bukhari dan Muslim)

Penjelasan:
Diambil pelajaran dari hadits pertama dan kedua yaitu haramnya bersumpah kepada selain Alloh sebab hal tersebut mengandung pengagungan kepada objek yang dijadikan sumpah. Padahal keagungan seluruhnya milik Alloh. Di sini Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- tidak mensyaratkan kafarah sumpahnya hanya saja mewajibkan taubat darinya. Dalam hadits ini, bahwasannya orang yang bersumpah dengan selain Alloh karena kebodohan maka dia diberi udzur karena kebodohannya.
Seandainya ada yang berkata: Sesungguhnya Alloh berfirman dalam kitabNya dengan matahari, bulan, bintang, masa dan yang selainnya. Kenapa kita tidak diperbolehkan melakukannya?

Jawab: Sesungguhnya Alloh berhak bersumpah dengan apa pun dari makhluk-makhluknya ada pun manusia maka dilarang melakukannya dan dierintahkan bersumpah hanya dengan nama Alloh. Barang siapa terjatuh pada sumpah kepada selain Alloh maka dia telah terjatuh pada keharoman. Sebagian ulama seperti Syaikh Al-Albany dan selainnya menghasankan hadits:
من حلف بغير الله فقد أشرك
"Barang siapa bersumpah dengan selain Alloh maka dia telah berbuat syirik"
Adapun Syaikh Muqbil dan selainnya melemahkannya.

Adapun hadits ketiga, di dalamnya ada penjelasan bahwa Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- memberikan bimbingan kepada orang yang tergelincir lisannya sehingga dia bersumpah dengan selain Alloh untuk mengucapkan: لا اله الا الله "Lailaha illalloh". Hikmahnya adalah -Allohu a'lam- bahwa orang yang bersumpah dengan selain menyebut nama Alloh dia telah memalingkan peribadahannya kepada selain Alloh sehingga wajib baginya untuk memperbaikinya dengan ucapan Lailaha illalloh  yakni tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Alloh.

Dan sabda beliau:
ومن قال لصاحبه: تعال أقامرك فليتصدق بشيء
"Dan barang siapa berkata kepada kawannya: kemarilah, aku berjudi denganmu. Hendaknya dia mensedekahkan sesuatu". 

Lafadz syai' (sesuatu) bentuk nakiroh pada kontek penetapan (maksudnya) hendaklah dia bersedekah dengan sesuatu yang mudah baginya.

Penulis -hafidzahulloh- berkata:
Dari Buraidah -radhiyallohu 'anhu- berkata: Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
من حلف بالأمانة فليس منا
"Barang siapa yang bersumpah dengan amanah bukanlah termasuk golongan kami" dikeluarkan oleh Abu Dawud dengan sanad shahih.

Penjelasan:
Ucapan beliau : "bukan termasuk golongan kami", yakni tidak berada di atas jalan kami dan petunjuk kami. Hal ini menunjukkan bahwa bersumpah kepada selain Alloh termasuk dosa besar. Dan bersumpah dengan amanah jika diawali dengan huruf sumpah semisal mengatakan: bil amanah atau wal amanah (maknanya demi amanah) ini adalah sumpah yang jelas dengan selain Alloh. Dan barang siapa yang berkata di tengah pembicaraannya misalnya: amanah bahwasannya demikian dan demikian dari harta; maka yang demikian ini dikembalikan kepada niatnya. Jika niatnya bersumpah maka dia terjatuh pada larangan namun jika tidak diniatkan sumpah dan diniatkan sekedar menguatkan sesuatu maka yang utama ditinggalkan sebagai tindakan preventif. Umumnya orang awam khususnya para pedagang memaksudkannya sebagai sumpah meskipun dia tidak menyertakan huruf qasam (sumpah). Dan telah shahih riwayat dari Shahihain dari hadits Umar secara marfu':
إنما الأعمال بالنيات و إنما لكل امرىء ما نوى
"Amal-amal itu hanyalah tergantung pada niat-niatnya, dan bahwa setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya" (HR Bukari dan Muslim)

Berkata penulis di akhir hadits Buraidah:
Aku katakan: dan dari dalil-dalil Nabi yang shahih ini menjadi jelaslah haramnya bersumpah dengan selain Alloh, seperti dengan amanah, makanan, garam, kedudukan, bapak dan kakek, ka'bah, nabi, persaudaraan, shodaqah dan persahabatan , kemuliaan prajurit, perceraian dan yang semisalnya selain dari Alloh. Dan bahwa bersumpah tidaklah boleh kecuali dengan Alloh saja yang tiada sekutu bagiNya.

Penjelasan:
Aku katakan: termasuk perkara yang patut diperhatikan agar seseorang tidak membiasakan lisannya membiasakan sumpah dengan nama Alloh dalam perkara besar dan kecil sebab Alloh ta'ala berfirman:

(وَلَا تَجْعَلُوا اللَّهَ عُرْضَةً لِأَيْمَانِكُمْ

"Dan janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu..."(QS Al-Baqarah: 224)

Sebab orang yang terbiasa bersumpah terkadang tidak peduli sehingga bersumpah dengan kedustaan karena terbiasa lisannya melakukan hal itu. Dan keselamatan itu tiada bandingannya. Di antara perkara yang kami peringatkan kepada saudara-saudara kami para pedagang secara khusus dan manusia secara umum adalah hadits dalam Shahihain dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu- bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
الحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ، مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ
"Sumpah bisa melariskan dagangan namun menghilangkan barakah".

Hendaklah orang yang bersumpah dengan nama Alloh dia benar (dengan sumpahnya) sebagaimana yang diriwayatkan dari An-Nasa'i dari Ibnu Umar -radhiyallohu 'anhu- secara marfu':
مَنْ حَلَفَ بِاللَّهِ فَلْيَصْدُقْ، وَمَنْ حُلِفَ لَهُبِاللَّهِ فَلْيَرْضَ، وَمَنْ لَمْ يَرْضَ بِاللَّهِ، فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ في شيء
"Barang siapa bersumpah dengan nama Alloh hendaklah ia berkata benar. Barang siapa yang diberikan sumpah kepadanya dengan nama Alloh hendaklah ia ridha. Barang siapa yang tidak ridha dengan Alloh maka Alloh tidak ridha kepadanya sedikit pun".

Kecuali jika yang bersumpah terkenal dengan kedustaan maka tidak diterima sumpahnya namun hendaklah ridha dengan hukum Alloh.

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulohu ta'ala- hal 101-106.

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)