“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Jumat, 18 Maret 2022

Fikih Muyassar: Bagaimanakah Seharusnya Muadzin itu?

Bab Kedua: Adzan dan Iqomah.
Pembahasan ketiga: Sifat sifat yang dianjurkan bagi muadzin.
1). Hendaklah muadzin seorang yang adil (sholih) dan amanah; sebab dia adalah orang yang dipercaya dalam masalah waktu sholat dan puasa sehingga dikhawatirkan dia menipu manusia dengan adzannya jika tidak memiliki sifat ini.
2). Hendaklah dia seorang yang baligh dan berakal; dan sah juga adzan anak kecil dan mumayyiz.
3. Hendaklah dia memahami waktu -waktu sholat agar bisa menelitinya sehingga dia mengumandangkan adzan di awal waktu. Jika dia bukanlah orang yang paham (waktu-waktu sholat) bisa jadi dia salah keliru keliru. 
4). Hendaklah dia orang yang suaranya nyaring¹ agar bisa didengar manusia.
5). Hendaklah ia suci dari hadats kecil maupun besar.
6). Hendaklah dia mengumandangkan adzan sambil berdiri menghadap kiblat.
7). Hendaklah dia memasukkan kedua jari telunjuknya ke kedua telinganya dan hendaklah dia memalingkan wajahnya ke kanan tatkala melantunkan "hayya alas sholah" dan memalingkan ke kiri tatkala mengucapkan "hayya alal falaah".
8). Hendaklah dia perlahan lahan - tidak tergesa gesa- ketika adzan dan cepat-cepat ketika iqamah.

Bersambung in syaa Alloh...

📚 Diterjemahkan dari Kitab Al-Fiqih Al-Muyassar fi Dhouil Kitabi was Sunnah hal 46.

Note:
1. Suaranya keras 

Selasa, 15 Maret 2022

Pembatal-pembatal Puasa

 Seri Fikih Ringkas: Bab Puasa

Pembatal-pembatal Puasa

    yaitu segala sesuatu yang merusak dan membatalkan puasa orang yang berpuasa. Seorang yang berpuasa menjadi batal puasanya karena melakukan salah satu dari hal-hal berikut ini:

PERTAMA: Makan atau minum dengan sengaja; berdasarkan firman Alloh -ta’ala-:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam” (QS Al Baqarah: 187)

    Ayat ini menjelaskan tentang tidak diperbolehkannya bagi orang yang berpuasa makan dan minum setelah terbitnya fajar sampai malam -terbenamnya matahari-. Ada pun orang yang makan dan minum karena lupa maka puasanya tetap sah dan wajib baginya untuk berhenti ketika ingat atau diingatkan kalau dirinya berpuasa, berdasarkan sabda Rasululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam:

من نسي وهو صائم فأكل أو شرب، فليتمَّ صومه، فإنما أطعمه الله وسقاه

“Barang siapa yang lupa sedangkan dia sedang berpuasa lalu makan dan minum maka hendakla dia menyempurnakan puasanya karena sesungguhnya Allohlah yang telah memberinya makan dan minum” ¹

    Dan puasa bisa batal dengan obat yang diteteskan ke hidung dan dengan segala sesuatu yang bisa sampai ke perut meskipun tidak lewat mulut yang sama dengan hukum makan dan minum seperti suntik/infus yang mengandung zat-zat makanan.

    KEDUA: Jima’. Puasa bisa batal dengan jima’. Barang siapa yang berjima’ ketika puasa maka batal puasanya. Wajib baginya bertaubat, beristighfar dan mengqadha’ (mengganti) hari yang dia jima’ padanya. Dan selain qadha dia juga wajib membayar kafarah yaitu membebaskan seorang budak. Jika dia tidak mampu maka dia puasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka dia memberi makan 60 orang miskin berdasarkan hadits Abu Hurairah -radhiyallohu ‘anhu- dia berkata:

بينما نحن جلوس عند النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذ جاءه رجل فقال: يا رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، هلكت، فقال: (مالك؟)، قال: وقعت على امرأتي وأنا صائم، فقال رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (هل تجد رقبة تعتقها؟)، قال: لا. قال: (هل تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين؟)، قال: لا، قال: (هل تجد إطعام ستين مسكيناً؟)، قال: لا، قال: فمكث النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فبينما نحن على ذلك أُتي النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِعَرَق فيه تمر -والعَرَقُ المكتل- قال: (أين السائل؟)، فقال: أنا، قال: (خذ هذا فتصدق به)، فقال الرجل: أعلى أفقر مني يا رسول الله؟ فوالله ما بين لابَتَيْها -يريد الحرَّتين- أهل بيت أفقر من أهل بيتي، فضحك النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حتى بدت أنيابه، ثم قال: (أطعمه أهلك)

“Tatkala kami duduk-duduk bersama Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- tiba-tiba seorang laki-laki datang kepada beliau lalu berkata: ‘Wahai Rasululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- celaka saya!’ Beliau bertanya: ‘Kenapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Aku jima’ dengan istriku sedangkan aku puasa’. Beliau berkata: ‘Apakah engkau punya budak untuk dibebaskan?’ Dia menjawab: ‘Tidak’. Beliau bertanya: ‘Apakah engkau mampu puasa dua bulan berturut-turut?’ Dia menjawab: ‘Tidak’. Beliau bertanya lagi: ‘Apakah engkau memiliki makanan untuk enam puluh orang miskin?’ Dia menjawab: ‘Tidak’. Maka beliau -shollallohu ‘alaihi wa sallam- terdiam. Ketika kami dalam keadaan demikian, Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dibawakan keranjang yang di dalamnya ada kurmanya. Beliau bertanya: ‘Di mana orang yang bertanya tadi?’ Dia menjawab: ‘Saya’. Beliau bersabda: ‘Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya’. Laki-laki itu berkata: ‘(Untuk bersedekah kepada orang) yang lebih fakir dari pada saya wahai Rasululloh? Demi Alloh, tidaklah ada di antara Labataihaa -maksudnya wilayah di antara dua harrah- ada keluarga yang lebih miskin dari keluargaku’. Maka Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- tertawa sampai terlihat gigi taringnya kemudian bersabda: ‘Beri makan keluargamu'” ²

    Termasuk dalam arti jima’ adalah mengeluarkan mani secara sengaja. Apabila seorang yang puasa keluar mani dengan sengaja dengan berciuman, atau bersentuhan, atau onani, atau pun selainnya maka menjadi batal puasanya sebab hal itu termasuk syahwat yang membatalkan puasa. Wajib baginya qadha’ (mengganti) tanpa membayar kafarah sebab kafarah hanyalah diperuntukkan jima’ ( hubungan badan) saja berdasarkan nash-nash yang mengkhususkannya.

    Ada pun apabila seorang yang berpuasa tertidur lalu mimpi basah atau mengeluarkan mani tanpa syahwat seperti orang yang sakit maka tidak batal puasanya sebab dia tidak ada kesengajaan dalam hal ini.

KETIGA: Muntah dengan sengaja, yaitu keluarnya sesuatu dari perut berupa makanan atau minuman melalui mulut dengan sengaja. Namun apabila tidak bisa menahan muntah dan keluar dari mulut tanpa kesengajaan maka tidak mempengaruhi puasanya berdasarkan sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam:

من ذَرَعَهُ القيء فليس عليه قضاء، ومن استقاء عمداً فليقض

“Barang siapa yang muntah (tanpa sengaja) maka tidak perlu qadha’, dan barang siapa yang muntah dengan sengaja maka hendaknya ia qadha'”³

    KEEMPAT: Bekam (hijamah). Yaitu mengeluarkan darah dari kulit bukan dari urat. Maka ketika seorang yang berpuasa berbekam maka menjadi rusak puasanya berdasarkan sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-:

أفطر الحاجم والمحجوم

“Tukang bekam dan yang dibekam puasanya batal”⁴

    Demikian pula tukang bekam menjadi rusak (batal) puasanya kecuali jika ia melakukan bekam dengan peralatan yang terpisah dan tidak perlu menghisap darahnya maka yang demikian itu -Allohu a’lam- tidak batal puasanya.

    Dan yang semisal dengan bekam adalah mengeluarkan darah dengan fashdu(melukai pembulu darah) dengan tujuan donor.

    Ada pun keluarnya darah karena luka, cabut gigi ataupun mimisan maka tidak mengapa karena bukan bekam dan tidak semakna dengan bekam.

    KELIMA: Keluarnya darah haid dan nifas, sehingga ketika seorang wanita mendapati haid atau nifas maka batal puasanya dan wajib qadha baginya berdasarkan sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- tentang wanita:

أليس إذا حاضت لم تصلِّ، ولم تصم

“Bukankah ketika wanita haid tidak sholat dan tidak puasa?”⁵

    KEENAM: Niat membatalkannya. Maka barang siapa yang berniat membatalkan puasa sebelum waktu buka puasa sedangkan dia berpuasa maka menjadi batal puasanya meskipun tidak makan sesuatu yang membatalkan sebab niat adalah satu dari dua rukun puasa. Apabila dia membatalkannya dengan tujuan berbuka dengan kesengajaan maka menjadi batal puasanya.

    KETUJUH: Murtad, sebab murtad membatalkan ibadah berdasarkan firman Alloh -ta’ala- :

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

“Seandainya engkau berbuat syirik sungguh menjadi batalah amalanmu” (QS Az-Zumar: 65).


📚 Diterjemahkan dari Kitab Al-Fiqih Al-Muyassar fi Dhouil Kitabi was Sunnah hal 157-158.


Note:

1). HR Bukhari 1933, Muslim 1155, dari hadits Abu Hturairah -radhiyallohu ‘anhu-.

2). HR Bukhari 1936 dan Muslim 1111.

3). HR Abu Dawud no 2367, Ibnu Khuzaimah no 1983, sanadnya dishahihkan Syaikh Al Albany(ta’liq Ali bin Khuzaimah 3/236)

4). HR Bukhari no 1936 dan Muslim no 1111.

5). HR Bukhari no 304.


🌐 Telegram : http://t.me/patimengaji

📱 Instagram : http://Instagram.com/patimengaji

💻 Facebook : facebook.com/patimengajiofficial


المسألة الثانية: مفطرات الصائم:

وهي الأشياء التي تفسد على الصائم صومه وتفطره. ويفطر الصائم بفعل أحد الأمور التالية:

الأول: الأكل أو الشرب عمداً؛ لقولى تعالى: (وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ) [البقرة: ١٨٧].

فقد بينت الآية أنه لا يباح للصائم الأكل والشرب بعد طلوع الفجر حتى الليل -غروب الشمس-. أما من أكل أو شرب ناسياً فصيامه صحيح، ويجب

عليه الإمساك إذا تذكَّر، أو ذكر أنه صائم؛ لقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (من نسي وهو صائم فأكل أو شرب، فليتمَّ صومه، فإنما أطعمه الله وسقاه) (١).

ويفسد الصوم بالسَّعُوط (٢)، وبكل ما يصل إلى الجوف، ولو من غير الفم مما هو في حكم الأكل والشرب كالإبر المغذية.

الثاني: الجماع، يبطل الصيام بالجماع، فمَنْ جامع وهو صائم بطل صيامه، وعليه التوبة والاستغفار، وقضاء اليوم الذي جامع فيه، وعليه مع القضاء كفارة، وهي عتق رقبة، فإن لم يجد صام شهرين متتابعين، فإن لم يستطع أطعم ستين مسكيناً، لحديث أبي هريرة – رضي الله عنه – قال: بينما نحن جلوس عند النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذ جاءه رجل فقال: يا رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، هلكت، فقال: (مالك؟)، قال: وقعت على امرأتي وأنا صائم، فقال رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (هل تجد رقبة تعتقها؟)، قال: لا. قال: (هل تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين؟)، قال: لا، قال: (هل تجد إطعام ستين مسكيناً؟)، قال: لا، قال: فمكث النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فبينما نحن على ذلك أُتي النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِعَرَق فيه تمر -والعَرَقُ المكتل- قال: (أين السائل؟)، فقال: أنا، قال: (خذ هذا فتصدق به)، فقال الرجل: أعلى أفقر مني يا رسول الله؟ فوالله ما بين لابَتَيْها -يريد الحرَّتين- أهل بيت أفقر من أهل بيتي، فضحك النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حتى بدت أنيابه، ثم قال: (أطعمه أهلك) (٣).

وفي معنى الجماع: إنزال المني اختيارا؛ فإذا أنزل الصائم مختاراً بتقبيل، أو لمس، أو استمناء، أو غير ذلك فسد صومه؛ لأن ذلك من الشهوة التي تناقض الصوم، وعليه القضاء دون الكفارة؛ لأن الكفارة لا تلزم إلا بالجماع فقط، لورود النص خاصاً به.

أما إذا نام الصائم فاحتلم، أو أنزل من غير شهوة كمن به مرض، فلا يبطل صيامه؛ لأنه لا اختيار له في ذلك.

الثالث: التقيؤ عمداً، وهو إخراج ما في المعدة من طعام أو شراب عن طريق الفم عمداً، أما إذا غلبه القيء وخرج منه بغير اختياره، فلا يؤثر في صيامه؛ لقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (من ذَرَعَهُ (١) القيء فليس عليه قضاء، ومن استقاء عمداً فليقض) (٢).


الرابع: الحجامة، وهي إخراج الدم من الجلد دون العروق، فمتى احتجم الصائم فقد أفسد صومه؛ لقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (أفطر الحاجم والمحجوم) (٣)، وكذا يفسد صوم الحاجم أيضاً، إلا إذا حجمه بآلات منفصلة، ولم يحتج إلى مص الدم، فإنه -والله أعلم- لا يفطر.


وفي معنى الحجامة: إخراج الدم بالفَصْد (٤)، وإخراجه من أجل التبرع به.

أما خروج الدم بالجرح، أو قلع الضرس، أو الرعاف فلا يضر؛ لأنه ليس بحجامة، ولا في معناها.

الخامس: خروج دم الحيض والنفاس، فمتى رأت المرأة دم الحيض أو النفاس أفطرت، ووجب عليها القضاء؛ لقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – في المرأة: (أليس إذا حاضت لم تصلِّ، ولم تصم) (٥).

السادس: نية الفطر، فمن نوى الفطر قبل وقت الإفطار وهو صائم، بطل صومه، وإن لم يتناول مفطراً، فإن النية أحد ركني الصيام، فإذا نقضها قاصداً الفطر، ومتعمداً له، انتقض صيامه.

السابع: الرِّدة، لمنافاتها للعبادة، ولقوله تعالى: (لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ) [الزمر: ٦٥].


(١) رواه البخاري برقم (١٩٣٣)، ومسلم برقم (١١٥٥) من حديث أبي هريرة – رضي الله عنه -.

(٢) وهو دواء يُصَبُّ في الأنف.

(٣) رواه البخاري برقم (١٩٣٦)، ومسلم برقم (١١١١).

(١) أي: سبقه وغلبه في الخروج.

(٢) رواه أبو داود برقم (٢٣٨٠)، والترمذي برقم (٧٢٠)، وابن ماجه برقم (١٦٧٦)، وصححه الألباني (صحيح ابن ماجه برقم ١٣٦٨).

(٣) رواه أبو داود برقم (٢٣٦٧)، وابن خزيمة برقم (١٩٨٣)، وصحح الألباني إسناده (التعليق على ابن خزيمة ٣/ ٢٣٦).

(٤) الفصد: شق العِرْق.

(٥) رواه البخاري برقم (٣٠٤).

Sebab-sebab yang membolehkan tidak berpuasa di bulan Ramadhan.

 Seri Fikih Ringkas: Bab Puasa

Sebab-sebab yang membolehkan tidak berpuasa di bulan Ramadhan.

Diperbolehkan tidak puasa di bulan Ramadhan karena alasan-alasan sebagai berikut:

    PERTAMA: Sakit dan usia lanjut. Diperbolehkan bagi orang yang sakit yang masih diharapkan kesembuhannya untuk tidak berpuasa. Apabila telah sembuh maka wajib baginya mengganti hari-hari yang dia tidak berpuasa, berdasarkan firman Alloh -ta’ala-:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain.” (QS Al Baqarah: 184)

    Dan firman Alloh -ta’ala-:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS Al Baqarah: 185)

    Sakit yang diperbolehkan tidak berpuasa adalah sakit yang memperparah si sakit karena puasanya. Adapun orang sakit yang tidak bisa diharap kesembuhannya, atau orang tidak mampu mengerjakan puasa secara terus menerus seperti orang yang sudah tua maka dia tidak berpuasa dan tidak wajib qadha’ (mengganti puasa) hanya saja wajib membayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin setiap harinya, sebab Alloh -azza wa jalla- menjadikan pemberian makan sebanding dengan puasa tatkala Alloh memberikan pilihan antara keduanya di awal-awal diwajibkan puasa, sehingga (fidyah) ditetapkan sebagai pengganti ketika ada udzur.

    Imam Bukhari -rahimahulloh- berkata: “Adapun orang tua yang tidak mampu berpuasa, maka sesungguhnya Anas memberi makan seorang miskin setiap harinya (sesuai hari yang beliau tidak berpuasa padanya -pent) ketika beliau tua. Hal itu berlangsung satu atau dua tahun”.

    Ibnu Abbas -radhiyallohu ‘anhuma- berkata tentang laki-laki dan wanita yang sudah renta yang tidak mampu berpuasa:

فليطعما مكان كل يوم مسكيناً

“Hendaklah keduanya mengganti memberi makan setiap hari (yang ditinggalkannya) seorang miskin”¹

    Orang yang tidak mampu berpuasa dengan kelemahan yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, baik karena sakit atau pun renta, maka dia memberi makan setiap harinya seorang miskin dengan takaran setengah sho’ gandum, kurma, beras, atau pun semacamnya berupa makanan pokok suatu negeri. Ukuran satu sha’ sekitar dua seperempat kilogram (2,25 kg). Sehingga ia memberi makan setiap harinya sekitar satu kilogram dan seratus dua puluh lima gram (1125 gram). Demikian ini jika orang yang sakit puasa maka sah puasanya dan mencukupinya.

    KEDUA: Safar. Orang yang safar diperbolehkan tidak berpuasa di Ramadhan dan wajib mengqadha’ berdasarkan firman Alloh -ta’ala-:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain.” (QS Al Baqarah: 184)

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS Al Baqarah: 185)

    Dan berdasarkan sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- kepada orang yang bertanya kepada beliau tentang puasa ketika safar:

إن شئت فصم، وان شئت فأفطر

“Jika menghendaki engkau boleh berpuasa, dan jika engkau menghendaki juga boleh tidak berpuasa”²

    Beliau pernah pergi ke Mekah dalam keadaan berpuasa Ramadhan. Ketika sampai di Al Kadiid maka beliau berbuka dan orang-orang ikut berbuka.³

    Diperbolehkan berbuka (tidak berpuasa) dalam perjalanan panjang yang diperbolehkan untuk mengqashar shalat padanya⁴ yaitu sekitar 48 mil yakni sekitar 80 km.

    Safar yang diperbolehkan untuk berbuka adalah safar yang mubah. Jika safar untuk maksiat atau safar dengan maksud rekayasa agar bisa berbuka maka tidak boleh berbuka dengan safar seperti ini.

    Jika musafir berpuasa maka sah puasanya dan telah mencukupinya berdasarkan hadits Anas -radhiyallohu ‘anhu- :

كنا نسافر مع النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فلم يعب الصائم على المفطر، ولا المفطر على الصائم

“Kami pernah bersafar bersama Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- maka orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka, dan orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa”⁶

    Akan tetapi dengan syarat tidak memberatkan dirinya ketika puasa saat safar. Jika memberatkan dirinya atau membahayakan dirinya maka berbuka baginya lebih utama sebagai bentuk pengambilan rukhsah (keringanan) sebab Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seseorang yang berpuasa dalam perjalanan yang dipayungi karena kondisi yang sangat panas dan orang-orang berkerumun di sekelilingnya. Maka Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ليس من البرِّ الصيام في السفر

“Bukanlah termasuk kebaikan puasa saat safar”.⁶

    KETIGA: Haidh dan Nifas. Wanita yang mengalami haid dan nifas maka wajib berbuka di bulan Ramadhan. Diharamkan baginya berpuasa. Seandainya dia berpuasa maka puasanya tidak sah berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudriy -radhiyallohu ‘anhu- bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

أليس إذا حاضت لم تصلِّ ولم تصم؟ فذلك من نقصان دينها

“Bukankah ketika wanita mengalami haid dia tidak sholat dan puasa? Maka demikianlah kurangnya agamanya”⁷

    Dan wajib qadha’ atasnya berdasarkan perkataan Aisyah -radhiyallohu ‘anha-:

كان يصيبنا ذلك، فنؤمر بقضاء الصوم، ولا نؤمر بقضاء الصلاة

“Kami mengalami hal itu, maka kami diperintahkan mengqadha’ puasa namun tidak diperintahkan mengqadha’ sholat”⁸

    KEEMPAT: Hamil dan Menyusui. Apabila seorang wanita hamil atau menyusui dan mengkhawatirkan kondisinya dan anaknya dengan sebab puasanya maka boleh baginya berbuka berdasarkan riwayat yang disampaikan Anas -radhiyallohu ‘anhu- ia berkata: Rasululloh -shollallohu alaihi wa sallam- bersabda:

إن الله وضع عن المسافر شطر الصلاة والصوم، وعن الحبلى والمرضع الصوم

“Sesungguhnya Alloh menggugurkan kewajiban separoh sholat dan puasa bagi musafir, dan menggugurkan kewajiban puasa dari wanita yang hamil dan menyusui”⁹

    Wanita hamil dan menyusui mengqadha’ sebanyak hari-hari yang ia tidak berpuasa padanya. Demikian itu jika ia khawatir akan keselamatan dirinya. Jika wanita yang hamil khawatir akan janinnya atau wanita yang menyusui khawatir akan bayi susuannya maka dia qadha’ dan memberi makan setiap harinya seorang miskin, berdasarkan perkataan Ibnu Abbas -radhiyallohu ‘anhuma-:

والمرضع والحبلى إذا خافتا على أولادهما أفطرتا، وأطعمتا

“Wanita yang menyusui dan yang hamil apabila khawatir keselamatan bayinya maka dia berbuka dan memberi makan (fidyah)”¹⁰

    Kesimpulannya bahwa sebab-sebab yang memperbolehkan berbuka ada empat yaitu: safar, sakit, haidh dan nifas, khawatir bahaya (jika puasa -pent) seperti wanita hamil dan menyusui.

    Bersambung in sya Alloh…


📚 Diterjemahkan dari Kitab Al-Fiqih Al-Muyassar fi Dhouil Kitabi was Sunnah hal 153.


Note:

1). Shahih Bukhari no 4505 dalam Kitab Puasa.

2). Shahih Bukhari no 1943.

3). HR Al Bukhari 1944

4). Silahkan lihat Al Mughni 3/34.

5). HR Bukhari 1947.

6). HR Bukhari 1046

7). HR Bukhari 304.

8). HR Muslim 335.

9). HR At Tirmidzi no 715 dan dia menghasankannya, An Nasa’i 2/105, Ibnu Majah no 1667 dan dihasankan Al Albany dalam shahih Sunan An Nasai 2145.

10). Diriwayatkan Abu Dawud no 2317,2318 dan dishahihkan Syaikh Al Albany dalam Al Irwa’ 4/18,25. Dan diriwayatkan semisal itu dari Ibnu Umar juga.


🌐 Telegram : http://t.me/patimengaji

📱 Instagram : http://Instagram.com/patimengaji

💻 Facebook : facebook.com/patimengajiofficial


المسألة الأولى: الأعذار المبيحة للفطر في رمضان:

يباح الفطر في رمضان لأحد الأعذار التالية:

الأول: المرض والكبر، فيجوز للمريض الذي يُرجى برؤه الفطرُ، فإذا برئ وجب عليه قضاء الأيام التي أفطرها؛ لقوله تعالى: (أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ) [البقرة: ١٨٤]، وقوله تعالى: (فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ) [البقرة: ١٨٥].

والمرض الذي يرخص معه في الفطر هو المرض الذي يشق على المريض الصيام بسببه.

أما المريض الذي لا يرجى برؤه، أو العاجز عن الصيام عجزاً مستمراً كالكبير: فإنه يفطر، ولا يجب عليه القضاء، وإنما تلزمه فدية، بأن يطعم عن كل يوم مسكيناً؛ لأن الله -عز وجل- جعل الإطعام معادلاً للصيام حين كان التخيير بينهما في أول ما فرض الصيام، فتعيَّن أن يكون بدلاً عنه عند العذر.

يقول الإمام البخاري -رحمه الله-: “وأما الشيخ الكبير إذا لم يطق الصيام، فقد أطعم أنس بعدما كبر عاماً أو عامين عن كل يوم مسكيناً. وقال ابن عباس رضي الله عنهما في الشيخ الكبير والمرأة الكبيرة، لا يستطيعان أن يصوما: فليطعما مكان كل يوم مسكيناً”. (١)

فيطعم العاجز عن الصيام عجزاً لا يرجى زواله، بمرض كان أو كبر، عن كل

يوم مسكيناً نصف صاع من بر، أو تمر، أو أرز، أو نحوها من قوت البلد، ومقدار

الصاع كيلوان وربع تقريباً (٢.٢٥) فيكون الإطعام عن كل يوم: كيلو جرام ومائة وخمسة وعشرين جراماً (١١٢٥ جرام) تقريباً.

هذا وإن صام المريض صح صيامه وأجزأه.

الثاني: السفر؛ فيباح للمسافر الفطر في رمضان، ويجب عليه القضاء؛ لقوله تعالى: (فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ) [البقرة: ١٨٤]. وقوله تعالى: (فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ) [البقرة: ١٨٥].

ولقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لمن سأله عن الصيام في السفر: (إن شئت فصم، وان شئت فأفطر) (٢). وخرج إلى مكة صائماً في رمضان، فلما بلغ الكَدِيد أفطر، فأفطر الناس (٣).

ويباح الفطر في السفر الطويل الذي يباح فيه قصر الصلاة (٤)، وهو ما يقدر بثمانية وأربعين ميلاً، أي: حوالي ثمانين كيلو متراً.

والسفر المبيح للفطر في رمضان هو السفر المباح، فإن كان سفر معصية أو سفراً يُراد به التحايل على الفطر، لم يبح له الفطر بهذا السفر.

وإن صام المسافر صَحَّ صومه وأجزأه، لحديث أنس – رضي الله عنه -: (كنا نسافر مع النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فلم يعب الصائم على المفطر، ولا المفطر على الصائم) (٥). ولكن بشرط ألا يشق عليه الصوم في السفر، فإن شقَّ عليه، أو أضَرَّ به، فالفطر في حقه أفضل؛ أخذاً بالرخصة؛ لأن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رأى في السفر رجلاً صائماً قد ظُلِّلَ عليه من شدة الحر، وتجمع الناس حوله، فقال – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (ليس من البرِّ الصيام في السفر) (٦).

الثالث: الحيض والنفاس، فالمرأة التي أتاها الحيض أو النفاس تفطر في رمضان وجوباً، ويحرم عليها الصوم، ولو صامت لم يصح منها؛ لحديث أبي سعيد الخدري – رضي الله عنه – أن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قال: (أليس إذا حاضت لم تصلِّ ولم تصم؟ فذلك من نقصان دينها) (٧).

ويجب عليهما القضاء؛ لقول عائشة رضي الله عنها: كان يصيبنا ذلك، فنؤمر بقضاء الصوم، ولا نؤمر بقضاء الصلاة. (٨)

الرابع: الحمل والرضاع؛ فالمرأة إذا كانت حاملاً أو مرضعاً، وخافت على نفسها أو ولدها بسبب الصوم جاز لها الفطر، لما رواه أنس – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (إن الله وضع عن المسافر شطر الصلاة والصوم، وعن الحبلى والمرضع الصوم) (٩)، وتقضي الحامل والمرضع مكان الأيام التي أفطرتاها، وذلك إن خافتا على نفسيهما، فإن خافت الحامل مع ذلك على جنينها، أو المرضع على رضيعها؛ أطعمت مع القضاء عن كل يوم مسكيناً؛ لقول ابن عباس رضي الله عنهما: (والمرضع والحبلى إذا خافتا على أولادهما أفطرتا، وأطعمتا) (١٠).

فتلخَّص من ذلك أن الأسباب المبيحة للفطر أربعة: السفر، والمرض، والحيض والنفاس، والخوف من الهلاك، كما في الحامل والمرضع.


(١) صحيح البخاري برقم (٤٥٠٥)، كتاب الصيام.


(٢) صحيح البخاري برقم (١٩٤٣).

(٣) أخرجه البخاري برقم (١٩٤٤).

(٤) انظر: المغني (٣/ ٣٤).

(٥) أخرجه البخاري برقم (١٩٤٧).

(٦) رواه البخاري برقم (١٩٤٦).


(٧) رواه البخاري برقم (٣٠٤).

(٨) رواه مسلم برقم (٣٣٥).

(٩) رواه الترمذي برقم (٧١٥) وحسنه، والنسائي (٢/ ١٠٣)، وابن ماجه برقم (١٦٦٧)، وحسَّنه الألباني (صحيح سنن النسائي برقم ٢١٤٥).

(١٠) أخرجه أبو داود برقم (٢٣١٧، ٢٣١٨) وصححه الألباني في الإرواء (٤/ ٢٥.١٨) وروي مثله عن ابن عمر أيضاً.

Waktu berniat puasa dan hukumnya

Seri Fikih Ringkas
KITAB PUASA

Waktu berniat puasa dan hukumnya
    Bagi orang yang berpuasa wajib untuk berniat untuk puasa. Niat adalah salah satu rukun puasa sebagaimana telah lalu penjelasannya berdasarkan sabda Rasululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-:

إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى

“Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya dan setiap orang hanyalah mendapatkan apa yang dia niatkan”.

    Dan ia meniatkan puasa pada malam hari untuk puasa yang wajib; seperti puasa Ramadhan, puasa kaffarah, puasa qadha’ dan puasa nadzar, meskipun hanya satu menit sebelum terbit fajar, berdasarkan sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-:

من لم يبيت الصيام قبل الفجر فلا صيام له

“Barang siapa yang tidak meniatkan puasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya”¹
    Barang siapa yang berniat puasa di siang hari dalam keadaan dia belum makan sesuatu pun maka tidak sah kecuali puasa sunnah. Maka boleh berniat pada siang hari (untuk puasa sunnah) apabila dia belum menyantap sesuatu pun baik makanan atau pun minuman, berdasarkan hadits Aisyah -radhiyallohu ‘anha- ia berkata:

دخل عليَّ النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ذات يوم فقال: (هل عندكم من شيء؟) فقلنا: لا، قال: (فإني إذنْ صائم)

“Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- masuk menemuiku pada suatu hari lalu berkata: ‘Apakah engkau memiliki sesuatu makanan?’. Maka kami berkata: ‘Tidak’. Beliau berkata: ‘Kalau begitu aku berpuasa’ ².
    Adapun puasa wajib maka tidaklah sah dengan berniat di siang hari dan haruslah dengan niat di malam hari.
    Dan cukup dengan sekali niat pada awal Ramadhan untuk sebulan penuh dan disunnahkan memperbarui niat setiap hari.

    Bersambung in sya Alloh…

📚 Diterjemahkan dari Kitab Al-Fiqih Al-Muyassar fi Dhouil Kitabi was Sunnah hal 153.

Note:
1. HR At-Tirmidzi 733, An-Nasa’i 4/196, Ibnu Majah 1700, dan lafadz ini milik An Nasa’i. Dishahihkan syaikh Al-Albany (Shahih At-Tirmidzi no 583).
2. Dikeluarkan Muslim no 1153 – 170.

🌐 Telegram : http://t.me/patimengaji
📱 Instagram : http://Instagram.com/patimengaji
💻 Facebook : facebook.com/patimengajiofficial

المسألة السابعة: وقت النية في الصوم وحكمها:
يجب على الصائم أن ينوي الصيام، وهي ركن من أركانه كما مضى؛ لقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى). وينويها من الليل في الصيام الواجب؛ كصوم رمضان والكفارة والقضاء والنذر، ولو قبل الفجر بدقيقة واحدة؛ لقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (من لم يبيت الصيام قبل الفجر فلا صيام له) (٣).
فمن نوى صوماً في النهار، ولم يطعم شيئاً، لم يجزئه إلا في صيام التطوع، فيجوز بنية من النهار، إذا لم يطعم شيئاً من أكل أو شرب؛ لحديث عائشة رضي الله عنها قالت: دخل عليَّ النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ذات يوم فقال: (هل عندكم من شيء؟) فقلنا: لا، قال: (فإني إذنْ صائم) (٤). أما صيام الواجب فلا ينعقد بنية من النهار، ولابد فيه من نية الليل.
وتكفي نية واحدة في بداية رمضان لجميع الشهر، ويُستحب تجديدها في كل يوم.

(٣) أخرجه الترمذي برقم (٧٣٣)، والنسائي (٤/ ١٩٦)، وابن ماجه برقم (١٧٠٠)، واللفظ للنسائي، وصححه الألباني (صحيح الترمذي رقم ٥٨٣).
(٤) أخرجه مسلم برقم (١١٥٤) – ١٧٠

Penetapan Mulai dan Berakhirnya Bulan Ramadhan

Seri Fikih Ringkas
KITAB PUASA
Penetapan Mulai dan Berakhirnya Bulan Ramadhan

    Penetapan masuknya bulan Ramadhan dengan melihat hilal(bulan sabit), baik oleh dirinya sendiri, atau persaksian orang lain yang melihatnya atau dengan adanya berita tentangnya.

    Jika ada seorang muslim yang adil yang bersaksi melihat hilal maka dengan persaksiannya ini telah tetap masuknya bulan Ramadhan, berdasarkan firman Alloh ta’ala:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barang siapa di antara kalian berada di bulan itu maka hendaklah dia berpuasa” (QS Al Baqarah: 185)

    Dan berdasarkan sabda Rasululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-:

إذا رأيتموه فصوموا

“Apabila kalian melihatnya maka berpuasalah” (HR Bukhari 1900 dan Muslim 1080-8)
    Dan berdasarkan hadits Ibnu Umar -radhiyallohu ‘anhuma- :

أخبرت النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – برؤية رمضان فصامه، وأمر الناس بصيامه

“Aku khabarkan kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- tentang (kami) melihat (hilal) Ramadhan maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa” (HR Abu Dawud 2342 dan Hakim dalam Mustadraknya 1/423 dan dia menshahihkannya)

    Jika hilal tidak terlihat, atau tidak ada seorang muslim yang adil yang melihatnya maka wajib menetapkan hitungan bulan Sya’ban 30 hari. Dan tidaklah ditetapkan masuknya bulan Ramadhan selain dari dua metode ini -yaitu melihat hilal atau menyempurnakan hitungan Sya’ban 30 hari- berdasarkan sabda Rasululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-:

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته، فإن غُبِّي (١) عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين(٢)

“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya. Jika (hilal) terhalang¹ bagi kalian (untuk bisa melihatnya) maka sempurnakanlah hitungan Sya’ban menjadi 30” (HR Bukhari 1909 dan Muslim 1081)

    Dan penetapan berakhirnya Ramadhan dengan terlihatnya hilal bulan Syawal dengan persaksian dua orang muslim yang adil. Jika tidak ada persaksian dua orang muslim yang adil tentang melihat hilal, maka wajib menyempurnakan hitungan Ramadhan menjadi 30 hari.

    Bersambung in sya Alloh…

📚 Diterjemahkan dari Kitab Al-Fiqih Al-Muyassar fi Dhouil Kitabi was Sunnah hal 152-153.

Note:
1. Sebagian riwayat غُمِّي dan sebagiam lagi غُمَّ yang artinya tertutup, tersamarkan dan tidak kelihatan.

🌐 Telegram : http://t.me/patimengaji
📱 Instagram : http://Instagram.com/patimengaji
💻 Facebook : facebook.com/patimengajiofficial
المسألة السادسة: ثبوت دخول شهر رمضان وانقضائه:
يثبت دخول شهر رمضان برؤية الهلال، بنفسه أو بشهادة غيره على رؤيته، أو إخباره بذلك؛ فإذا شهد مسلم عدل برؤية هلال رمضان ثبت بهذه الشهادة دخول شهر رمضان؛ لقوله تعالى: (فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ) [البقرة: ١٨٥]، ولقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (إذا رأيتموه فصوموا) (٣)، ولحديث ابن عمر رضي الله عنهما: (أخبرت النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – برؤية رمضان فصامه، وأمر الناس بصيامه). (٤)
فإن لم يرَ الهلال، أو لم يشهد مسلم عدل برؤيته، وجب إكمال عدة شعبان ثلاثين يوماً. ولا يثبت دخول الشهر بغير هذين الأمرين -رؤية الهلال، أو إتمامشعبان ثلاثين يوما- لقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته، فإن غُبِّي (١) عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين) (٢).
ويثبت انقضاء رمضان برؤية هلال شهر شوال بشهادة مسلمين عدلين، فإن لم يشهد مسلمان عدلان برؤية الهلال، وجب إكمال عدة رمضان ثلاثين يوماً.

(٤) رواه أبو داود برقم (٢٣٤٢)، والحاكم في المستدرك (١/ ٤٢٣) وصححه.
(١) وفي بعض الروايات: (غُمِّي) وبعضها (غُمَّ) والمعنى: غطي وخفي ولم يظهر.
(٢) رواه البخاري برقم (١٩٠٩)، ومسلم برقم (١٠٨١)

Syarat-syarat wajib puasa Ramadhan.

Seri Fikih Ringkas
KITAB PUASA

Syarat-syarat wajib puasa Ramadhan.
Puasa Ramadhan wajib atas orang yang terpenuhi syarat-syarat berikut:

  1. Islam. Puasa tidak wajib dan tidak sah dikerjakan oleh orang kafir sebab puasa adalah ibadah dan ibadah tidaklah sah dikerjakan oleh orang kafir. Jika dia masuk Islam tidak wajib mengganti puasa yang telah ia tinggalkan (ketika dalam kekafiran -pent).

  1. Baligh. Puasa tidak diwajibkan atas orang yang belum sampai usia taklif berdasarkan sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-:
    رفع القلم عن ثلاثة
    “Pena diangkat dari tiga orang”
    beliau menyebutkan di antaranya anak kecil sampai dia mimpi basah. Akan tetapi puasa tetap sah dilakukan oleh anak yang belum baligh jika anak tersebut sudah mumayiz. Dan selayaknya bagi wali yang mengurusinya memerintahkannya berpuasa untuk membiasakannya.

  2. Berakal. Puasa tidak wajib bagi orang gila dan tidak waras berdasarkan sabda Rasululloh -shollallohi ‘alaihi wa sallam-:

    رفع القلم عن ثلاثة
    “Pena di angkat dari tiga orang”
    di antaranya beliau menyebutkan orang gila sampai di sadar.

  3. Sehat. Maka orang yang sakit yang tidak mampu berpuasa tidaklah wajib atasnya (berpuasa). Namun jika ia puasa maka sah puasanya berdasarkan firman Alloh -ta’ala-:

    وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
    “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”.(QS Al Baqarah: 185)  Jika telah sembuh sakitnya maka wajib baginya mengganti sejumlah hari yang dia tinggalkan

  4. Bermukim sehingga tidak wajib puasa bagi orang yang bepergian. Berdasarkan firman Alloh -ta’ala-:
    وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
    “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”. (QS Al Baqarah: 185) .Jika musafir (orang yang bepergian) berpuasa maka sah puasanya dan wajib baginya mengganti puasa sesuai jumlah hari yang dia tinggalkan ketika safar.
  5. Suci dari haid dan nifas. Orang yang haid dan nifas tidak wajib puasa baginya bahkan diharamkan atas keduanya, berdasarkan sabda Nabi -shollallahu alaihi wa sallam:
    أليس إذا حاضت لم تصلِّ، ولم تصم؟، فذلك من نقصان دينها
    “Bukankah apabila wanita haidh dia tidak sholat dan tidak puasa? Maka demikian itu termasuk kurangnya agamanya” (HR Bukhari no 304)
    dan wajib qadha’ (menggantinya) berdasarkan perkataan Aisyah -radhiyallohu ‘anha-
    كان يصيبنا ذلك، فنؤمر بقضاء الصوم، ولا نؤمر بقضاء الصلاة
    “Kami pernah mengalami hal itu, maka kami diperintahkan mengqadha’ puasa dan tidak diperintah mengqadha’ sholat” (HR Bukhari no 335)

Bersambung in sya Alloh…

📚 Diterjemahkan dari Kitab Al-Fiqih Al-Muyassar fi Dhouil Kitabi was Sunnah hal 151-152.

🌐 Telegram : http://t.me/patimengaji
📱 Instagram : http://Instagram.com/patimengaji
💻 Facebook : facebook.com/patimengajiofficial

المسألة الخامسة: شروط وجوب صيام رمضان:
يجب صيام رمضان على من توافرت فيه الشروط التالية:
١ – الإسلام: فلا يجب، ولا يصح الصيام من الكافر؛ لأن الصيام عبادة، والعبادة لا تصح من الكافر، فإذا أسلم لا يلزم بقضاء ما فاته.
٢ – البلوغ: فلا يجب الصيام على من لم يبلغ حد التكليف؛ لقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (رفع القلم عن ثلاثة) (٣) فذكر منهم الصبي حتى يحتلم، ولكنه يصح الصيام من غير البالغ لو صام، إذا كان مميزاً، وينبغي لولي أمره أن يأمره بالصيام؛ ليعتاده ويألفه.
٣ – العقل: فلا يجب الصيام على المجنون والمعتوه؛ لقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (رفع القلم عن ثلاثة) فذكر منهم المجنون حتى يفيق.
٤ – الصحة: فمن كان مريضاً لا يطيق الصيام لم يجب عليه، وإن صام صح صيامه؛ لقوله تعالى: (وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ) [البقرة: ١٨٥]. فإن زال المرض وجب عليه قضاء ما أفطره من أيام.
٥ – الإقامة: فلا يجب الصوم على المسافر؛ لقوله تعالى: (وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ) الآية؛ فلو صام المسافر صَحَّ صيامه، ويجب عليه قضاء ما أفطره في السفر.
٦ – الخلو من الحيض والنفاس: فالحائض والنفساء لا يجب عليهما الصيام، بل يحرم عليهما؛ لقوله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: (أليس إذا حاضت لم تصلِّ، ولم تصم؟، فذلك من نقصان دينها) (١). ويجب القضاء عليهما؛ لقول عائشة رضي الله عنها: (كان يصيبنا ذلك، فنؤمر بقضاء الصوم، ولا نؤمر بقضاء الصلاة). (٢)

(٣) رواه أحمد (٦/ ١٠٠)، وأبو داود (٤/ ٥٥٨)، وصححه الألباني (الإرواء برقم ٢٩٧).
(١) رواه البخاري برقم (٣٠٤).
(٢) رواه مسلم برقم (٣٣٥).

Minggu, 13 Maret 2022

Puasa terbagi atas dua macam: Puasa wajib dan tathowu’ (sunnah).

Seri Fikih Ringkas
KITAB PUASA

Pembagian Puasa
Puasa terbagi atas dua macam: Puasa wajib dan tathowu’ (sunnah). Dan puasa wajib terbagi tiga: (1) Puasa Ramadhan, (2) Puasa Kafarat, dan (3) Puasa Nadzar.
Di sini yang akan kita bahas adalah puasa Ramadhan dan puasa tathowu’.

Keutamaan puasa bulan Ramadhan dan hikmah disyariatkannya.

  1. Keutamaannya: dari Abu Hurairah -radhiyallohu ‘anhu- dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- beliau bersabda:
    من قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه، ومن صام رمضان إيماناً واحتساباً غُفر له ما تقدم من ذنبه
    “Barang siapa yang sholat pada malam lailatul qadar dengan keimanan dan mengharap pahala maka diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”¹
    Dan dari beliau -radhiyallohu ‘anhu- :
    أن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قال: (الصلوات الخمس، والجمعة إلى الجمعة، ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن إذا اجتنبت الكبائر
    “Bahwasannya Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: ‘Sholat yang lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at berikutnya, dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, adalah penghapus dosa-dosa selama dijauhi dosa-dosa besar”²

Ini adalah sebagian riwayat tentang keutamaan puasa bulan Ramadhan. Dan keutamaan-keutamaannya sangat banyak.

  1. Hikmah disyariatkannya puasa Ramadhan.
    Alloh -subhanahu wa ta’ala- mensyariatkan puasa Ramadhan dengan hikmah dan manfaat yang banyak, di antaranya:

  2. Pensucian dan pembersihan jiwa dari tabiat-tabiat jelek dan akhlak-akhlak yang buruk sebab puasa menyempitkan aliran setan dalam tubuh manusia.

  3. Dalam ibadah puasa terdapat sikap zuhud terhadap dunia dan kesenangannya serta motivasi terhadap akhirat dan kenikmatannya.
  4. Puasa menumbuhkan empati terhadap kaum miskin dan merasakan kesulitan-kesulitan mereka, sebab orang yang berpuasa merasakan tidak enaknya lapar dan haus.
    Dan hikmah-hikmah lain yang jelas dan manfaat yang banyak.

Bersambung in sya Alloh…

📚 Diterjemahkan dari Kitab Al-Fiqih Al-Muyassar fi Dhouil Kitabi was Sunnah hal 149.

Footnote:
1. Diriwayatkan Bukhari no 1901 dan Muslim no 760
2. Diriwayatkan Muslim no 233.

🌐 Telegram : http://t.me/patimengaji
📱 Instagram : http://Instagram.com/patimengaji
💻 Facebook : facebook.com/patimengajiofficial

المسألة الثالثة: أقسام الصيام:
الصيام قسمان: واجب، وتطوع؛ والواجب ينقسم إلى ثلاثة أقسام:
١ – صوم رمضان.
٢ – صوم الكفارات.
٣ – صوم النذر.
والكلام هنا ينحصر في صوم رمضان، وفي صوم التطوع، أما بقية الأقسام فتأتي في مواضعها، إن شاء الله تعالى.
المسألة الرابعة: فضل صيام شهر رمضان، والحكمة من مشروعية صومه:
١ – فضله: عن أبي هريرة – رضي الله عنه – عن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قال: (من قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه، ومن صام رمضان إيماناً واحتساباً غُفر له ما تقدم من ذنبه) (١).
وعنه – رضي الله عنه – أن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قال: (الصلوات الخمس، والجمعة إلى الجمعة، ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن إذا اجتنبت الكبائر) (٢).
هذا بعض ما ورد في فضل صيام شهر رمضان، وفضائله كثيرة.
٢ – الحكمة من مشروعية صومه: شرع الله سبحانه الصوم لحكم عديدة وفوائد كثيرة، فمن ذلك:
١ – تزكية النفس، وتطهيرها، وتنقيتها من الأخلاط الرديئة والأخلاق الرذيلة؛ لأن الصوم يضيق مجاري الشيطان في بدن الإنسان.
٢ – في الصوم تزهيد في الدنيا وشهواتها، وترغيب في الآخرة ونعيمها.
٣ – الصوم يبعث على العطف على المساكين، والشعور بآلامهم؛ لأن الصائم يذوق ألم الجوع والعطش.
إلى غير ذلك من الحكم البليغة، والفوائد العديدة.

(١) رواه البخاري برقم (١٩٠١)، ومسلم برقم (٧٦٠).
(٢) رواه مسلم برقم (٢٣٣).

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)