“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Berpegang kepada Sunnah

Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan".

Amalan tergantung Niatnya

Hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Islam Akan Kembali Asing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال َ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ قال : بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيباً فَطُوبىَ لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing” (HR Muslim)

Amalan Bid'ah Tertolak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Islam Dibangun di Atas 5 Perkara

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Agama Adalah Nasehat

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. (HR Bukhari dan Muslim)

Minggu, 06 November 2022

Syarah Ushul Tsalatsah: Beramal dan Berdakwah


Syarah Ushul Tsalaatsah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh hal 6-7.

Perkataan Penulis rahimahulloh: 
Kedua: mengamalkannya.
Ketiga: mendakwahkannya.
==================

Penjelasan:
Perkataan penulis "mengamalkannya", yaitu mengamalkan konsekuensi dari makrifah (mengenal) tiga hal di atas ini dengan beriman kepada Allah, merealisasikan ketaatan kepadaNya, melaksanakan perintahNya, dan menjauhi larangan-larangannya; baik ibadah khashah (khusus, manfaatnya hanya untuk pelakunya) maupun ibadah muta'adiyah (ibadah yang manfaatnya juga untuk orang lain). Ibadah khashah misalnya salat, puasa, dan haji. Ibadah muta'adiyah misalnya Amar ma'ruf nahi munkar, jihad, dan yang semisal itu. Amal pada hakekatnya adalah buah ilmu. Orang yang beramal tanpa ilmu, dia serupa dengan Nasrani. Sedangkan orang yang berilmu namun tidak beramal maka dia mirip dengan Yahudi.

Ucapan penulis rahimahulloh: "mendakwahkannya", yaitu mendakwahkan syariat Allah ta'ala yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melalui tiga atau empat tahapan sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firmanNya:

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ 
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmahdan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik." (QS An-Nahl: 125)

Dan yang keempat firmanNya:
۞وَلَا تُجَٰدِلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ إِلَّا بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ إِلَّا ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنۡهُمۡۖ 

"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka" (QS Al-Ankabut: 46)

Dakwah ini haruslah berdasarkan ilmu akan syariat Allah agar dakwahnya tegak di atas ilmu dan bashirah (hujah yang jelas). Allah berfirman:
 قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

Katakanlah (wahai Rasulullah), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.”(QS Yusuf: 108)

Bashirah akan terwujud dalam dakwah jika seorang da'i memahami hukum syar'i, metode dakwah, dan kondisi obyek dakwah. Lingkup dakwah sangatlah luas diantaranya dakwah dengan pidato dan memberikan ceramah, dengan makalah, halaqah ilmu,  menulis dan menyebarkan agama melalui karya tulis. Di antaranya juga dakwah pada kalangan tertentu, misalnya ketika seseorang berada di suatu majelis dakwah. Ini adalah lingkup-lingkup dakwah. Namun hendaknya dakwah tersebut tidak membosankan dan memberatkan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara seorang dai memaparkan pembahasan-pembahasan ilmiah di hadapan para jamaah kemudian memulai diskusi. Sebagaimana diketahui bahwa diskusi dan tanya jawab memiliki peran besar dalam memahami dan memahamkan apa yang diturunkan Allah kepada rasulnya. Terkadang cara seperti ini lebih efektif daripada dalam bentuk khutbah dan ceramah sebagaimana yang diketahui. 
Dakwah adalah tugas para rasul Alaihis shalatu  Wassalam dan jalannya orang orang yang mengikuti mereka dengan baik. Tatkala seseorang telah mengenal Dzat yang di ibadahnya, nabinya, dan agamanya, serta mengetahui bahwa Allah lah yang telah memberinya taufik kepada hal tersebut maka hendaknya dia berupaya menyelamatkan saudara-saudaranya dengan mendakwahinya dan memberi kebaikan kepada mereka. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepada Ani bin Abi Thalib radhiyallahu anhu:
اﻧﻔﺬ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻠﻚ ﺣﺘﻰ ﺗﻨﺰﻝ ﺑﺴﺎﺣﺘﻬﻢ ﺛﻢ اﺩﻋﻬﻢ ﺇﻟﻰ اﻹﺳﻼﻡ، ﻭﺃﺧﺒﺮﻫﻢ ﺑﻤﺎ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻣﻦ ﺣﻖ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻴﻪ، ﻓﻮاﻟﻠﻪ ﻷﻥ ﻳﻬﺪﻱ اﻟﻠﻪ ﺑﻚ ﺭﺟﻼً ﻭاﺣﺪاً ﺧﻴﺮٌ ﻟﻚ ﻣﻦ ﺣُﻤْﺮ اﻟﻨَّﻌﻢ
"Bergeraklah engkau dengan tenang hingga sampai di wilayah mereka. Kemudian serulah mereka untuk memeluk Islam dan sampaikan hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, seandainya Allah memberi Hidayah kepada seorang saja melalui dirimu itu lebih baik dari pada unta merah" (HR Bukhari 4210 dan Muslim 2406) 
Hadits ini disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim. 
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam riwayat Muslim:
من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجور من تبعهم شيئا، و من دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا
"Orang yang mengajak kepada petunjuk, dia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan orang yang mengajak kepada kesesatan maka dia mendapat dosa seperti dosa orang orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun" (HR muslim 2674) 
Dalam riwayat Muslim lainnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
من دل على خير فله مثل أجر فاعله
"Orang yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia mendapat pahala seperti orang yang mengamalkannya" (HR muslim 1893).

 📚📚📚📒📚📚📚

Senin, 31 Oktober 2022

FATHUL MAJID 185-186: BERDO'ALAH HANYA KEPADA ALLAH


Penulis -rahimahullah- berkata:
Firman Allah ta'ala:
أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُكُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ
"Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?" (QS An Naml: 62)

PENJELASAN:
Allah ta'ala menjelaskan bahwa orang-orang musyrik dari kalangan Arab maupun selainnya mengetahui bahwa tidak ada yang bisa mengabulkan doa orang yang sedang dalam kesulitan dan menghilangkan kesusahan kecuali hanya Allah saja. Allah Subhanahu wa taala menyebutkan hal ini untuk membantah mereka karena menjadikan penolong selainNya. Oleh karenanya Allah berfirman: "Apakah di samping Allah ada tuhan yang lain?" Yaitu yang mampu melakukan hal itu.

Oleh karena tuhan-tuhan mereka tidak mampu mengabulkan doa  ketika mereka dalam kondisi terdesak maka tidak layak menjadikannya sebagai sekutu bagi Allah yang mampu mengabulkan doa orang orang yang mengalami kesulitan ketika berdoa kepadanya dan menghilangkan kesusahan. Ini penafsiran ayat yang paling shahih sebagaimana ayat-ayat sebelumnya:

أَمَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَنۢبَتۡنَا بِهِۦ حَدَآئِقَ ذَاتَ بَهۡجَةٖ مَّا كَانَ لَكُمۡ أَن تُنۢبِتُواْ شَجَرَهَآۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡمٞ يَعۡدِلُونَ # أَمَّن جَعَلَ ٱلۡأَرۡضَ قَرَارٗا وَجَعَلَ خِلَٰلَهَآ أَنۡهَٰرٗا وَجَعَلَ لَهَا رَوَٰسِيَ وَجَعَلَ بَيۡنَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ حَاجِزًاۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ

Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untukmu, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah? Kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya. Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). Bukankah Dia (Allah) yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut?Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS An Naml: 60-61)

Dan ayat setelahnya hingga firmanNya:
أَمَّن يَهۡدِيكُمۡ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ وَمَن يُرۡسِلُ ٱلرِّيَٰحَ بُشۡرَۢا بَيۡنَ يَدَيۡ رَحۡمَتِهِۦٓۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ تَعَٰلَى ٱللَّهُ عَمَّا يُشۡرِكُونَ # أَمَّن يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَمَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ قُلۡ هَاتُواْ بُرۡهَٰنَكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ


Bukankah Dia (Allah) yang memberi petunjuk kepada kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Mahatinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan. Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan (makhluk) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (lagi) dan yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Katakanlah, “Kemukakanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang yang benar.” (QS An Naml: 63-64)

Renungkanlah ayat-ayat ini sehingga jelas bagimu bahwa Allah ta'ala membantah orang-orang musyrik dengan sesuatu yang mereka akui terhadap apa yang mereka ingkari yaitu beribadah hanya kepada Allah saja. Sebagaimana dalam surat Al Fatihah:
إِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُ
"Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan" (Al Fatihah: 5)

Abu Ja'far bin Jarir berkata:  
"FirmanNya:
أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجۡعَلُكُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ

"Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat". (QS An Naml: 62)

Allah ta'ala mengatakan: "Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang kalian jadikan sekutu bagi Allah, ataukah Allah yang mampu mengabulkan doa orang yang sedang dalam kesulitan ketika dia berdoa kepadaNya dan mampu menghilangkan kesusahan yang datang?
FirmanNya:
وَيَجۡعَلُكُمۡ خُلَفَآءَ ٱلۡأَرۡضِۗ
"menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi"
Yaitu menjadikan para penerus di muka bumi setelah orang-orang di antara kalian meninggal. Mereka hidup menggantikannya.

FirmanNya:
أَءِلَٰهٞ مَّعَ ٱللَّهِۚ
"Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?" Yaitu apakah ada tuhan-tuhan lain yang mampu melakukan demikian untuk kalian dan memberikan nikmat-nikmat yang demikian ini pada kalian?

FirmanNya:
قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ
"Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat" yaitu kalian ingatnya cuma sedikit terhadap keagungan dan pertolonganNya. Kalian mengingat dan mengambil ibrah terhadap hujah-hujah Allah cuma sedikit saja. Oleh karenanya kalian mensekutukan Allah dengan selainNya dalam peribadahan.

Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahulloh 
Terbitan Muassasah Zaad Hal 185 - 186.   

Rabu, 26 Oktober 2022

Syarah Ushul Tsalatsah: Mengenal Allah, NabiNya dan Agama Islam

Syarah Ushul Tsalaatsah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh hal 4-5.

Pertama: Ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal NabiNya dan mengenal Islam beserta dalil dalilnya.

Penjelasan:
Perkataan penulis "Ma'rifatullah (mengenal Allah)" yaitu mengenal Allah azza wa jalla dengan hati. Ma'rifah yang berkonsekwensi menerima syariatNya, tunduk dan patuh kepadaNya, berhukum dengan syariat yang dibawa oleh RasulNya -Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam- . Seorang hamba mengenal TuhanNya dengan merenungkan ayat-ayat syar'iyyah yang terdapat dalam kitab Allah azza wa jalla dan Sunnah rasulNya -shallallahu'alaihi wasallam- . Dan juga dengan memperhatikan ayat-ayat kauniyah yaitu makhluk-makhlukaNya. Tatkala seseorang mengamati ayat-ayat ini maka bertambahlah pengetahuannya dalam mengenal pencipta dan sesembahanNya. Allah -azza wa jalla- berfirman:
وَفِی ٱلۡأَرۡضِ ءَایَـٰتࣱ لِّلۡمُوقِنِینَ  وَفِیۤ أَنفُسِكُمۡۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ
"Dan di bumi terdapat tanda-tanda bagi orang yang meyakini. Dan juga dalam dirimu. Apakah kalian tidak melihatnya" (QS Adz Dzariyat: 20-21)

Perkataan penulis: "Ma'rifatu Nabiyyihi (mengenal NabiNya), yaitu mengenal utusanNya, Muhammad shalallahu alaihi wa sallam.  Ma'rifah yang berkonsekwensi menerima petunjuk dan agama yang benar yang beliau bawa, membenarkan segala sesuatu yang beliau kabarkan, mentaati perintahnya, menjauhi larangannya, berhukum dengan syariatnya dan ridha dengan ketetapannya.  Allah ta'ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا یُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ یُحَكِّمُوكَ فِیمَا شَجَرَ بَیۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا یَجِدُوا۟ فِیۤ أَنفُسِهِمۡ حَرَجࣰا مِّمَّا قَضَیۡتَ وَیُسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمࣰا

"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya". (QS An Nisa: 65)

إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ إِذَا دُعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِیَحۡكُمَ بَیۡنَهُمۡ أَن یَقُولُوا۟ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

"Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka,mereka berkata, "Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung" (QS An Nur: 51)

فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا

"Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`ān) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya". (QS An-Nisa': 59)

Allah berfirman,
 فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang keluar (secara) sembunyi-sembunyi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih". (QS An-Nur: 63)

Imam Ahmad rahimahulloh berkata:  "Tahukah kamu apa fitnahnya? Fitnahnya ada kesyirikan. Bisa jadi tatkala dia menolak sebagian ucapan beliau  berakibat ada penyimpangan dalam hatinya sehingga dia binasa"

Perkataan penulis:
"Mengenal agama Islam"
Islam dengan makna umum yaitu beribadah kepada Allah dengan syariatNya sejak Dia mengutus para Rasul hingga hari kiamat sebagaimana yang Allah 'azza wa jalla sebutkan dalam banyak ayat yang menunjukkan bahwa syariat terdahulu semuanya adalah Islam. Allah ta'ala  berfirman tentang Ibrahim:
رَبَّنَا وَٱجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَيۡنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةٗ مُّسۡلِمَةٗ لَّكَ 

"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu"(QS Al-Baqarah:128)

Ada pun Islam bermakna khusus sejak diutusnya Nabi shollallohu alaihi wa sallam hanya dikhususkan dengan syariat yang beliau bawa. Sebab syariat yang dibawa Nabi shollallohu alaihi wa sallam menggantikan seluruh syariat terdahulu.  
Sehingga orang yang mengikuti beliau adalah muslim dan yang menyelisihi beliau bukan muslim.  Pengikut para rasul adalah kaum muslim di zamannya. Oleh karenanya Yahudi adalah muslim pada zaman Musa Shallallahu Alaihi Wasallam. Nasrani adalah muslim pada masa Isa Shallallahu Alaihi Wasallam. Adapun semenjak diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mereka  mengingkari beliau sehingga bukan muslim. Agama Islam ini adalah agama yang diterima Allah dan bermanfaat bagi penganutnya. Allah berfirman:

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ 

"Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam". (QS Ali 'Imran: 19)
FirmanNya: 
وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

"Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi". (QS Ali Imron: 85)

Islam di sini adalah Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Agama inilah yang Allah anugerahkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan umatnya. Allah ta'ala:
 ٱلۡیَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِینَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَیۡكُمۡ نِعۡمَتِی وَرَضِیتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِینࣰاۚ 
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu" (QS Al Maidah: 3)

Ucapan penulis:
"Dengan dalil-dalilnya"
Lafadz الأدلة bentuk jamak dari دليل  
yaitu yang memberi petunjuk kepada yang dibutuhkan. Dalil-dalil untuk mengetahui hal tersebut di atas adalah dalil syam'iyah dan akal. Adapun dalil Syamsiah yaitu yang ditetapkan dengan wahyu yaitu Alquran dan as-sunnah. Dalil akal yaitu yang ditetapkan melalui penelitian dan pengamatan. Allah Azza wa Jalla banyak menyinggung hal ini dalam kitabnya di banyak ayat. Allah berfirman (misalnya): "Di antara tanda-tanda kekuasaanNya demikian dan demikian". Demikian pula banyak dalil akal yang menunjukkan kepada Allah ta'ala. 

Adapun mengenal Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam melalui dalil sam'iyyah misalnya dalam firman Allah ta'ala:
مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ 

"Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia..." (QS Al-Fath: 29)

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ 

"Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul,sebelumnya telah berlalu beberapa rasul". (QS Ali 'Imran: 144)

Adapun dalil akal dengan mengamati dan memperhatikan tanda-tanda yang demikian jelas yang beliau bawa yang paling Agung adalah kitab Allah Azza wa Jalla Alquran yang berisikan berita-berita yang benar lagi bermanfaat dan hukum-hukum yang mengandung kemaslahatan dan keadilan. Demikian pula hal-hal luar biasa yang terjadi melalui beliau dan berita-berita gaib yang beliau sampaikan yang tidak mungkin diketahui kalau bukan lewat wahyu yang hal itu telah terbukti menjadi nyata.

Syarah Ushul Tsalatsah: Macam macam Pengetahuan


Syarah Ushul Tsalaatsah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh hal 4.

Perkataan penulis:
اعلم - رحمك الله - يجب علينا تعلم أربع مسائل
"Ketahuilah - semoga Allah merahmatimu - , wajib bagi kita untuk mempelajari empat hal".

Penjelasan perkataan penulis. 
(اعلم)
"Ketahuilah".
Ilmu yaitu pengetahuan tentang sesuatu sesuai dengan kenyataannya yang pasti. 
Pengetahuan tentang sesuatu ini ada enam tingkatan: 
Pertama: Ilmu, yaitu pengetahuan tentang sesuatu sesuai dengan kenyataannya yang pasti. 
Kedua: Al Jahlul Basit, yaitu sama sekali tidak mengetahui. 
Ketiga: Al Jahlul Murakkab, yaitu pengetahuan tentang sesuatu yang berbeda dengan kenyataan.
Keempat: Al Wahmu, yaitu pengetahuan tentang sesuatu yang berlawanan dengan yang rajih (yang diunggulkan).
Kelima: Asy Syakk, yaitu pengetahuan tentang sesuatu dengan kemungkinan sama antara yang rajih dan marjuh. 
Keenam: Adz Dzaan,  yaitu pengetahuan tentang sesuatu yang berlawanan dengan yang marjuh.

Ilmu ada dua macam: Dhoruri (tanpa perlu pembuktian) dan Nadzori (dengan pembuktian).
Dharuri yaitu pengetahuan tentang sesuatu secara pasti tanpa perlu penelitian dan pembuktian. Misalnya pengetahuan bahwa api itu panas.
Kedua Nadzari yaitu ilmu yang butuh penelitian dan pembuktian. Contohnya, ilmu tentang wajibnya niat ketika wudhu.

Perkataan penulis:
رحمك الله
Semoga Allah mencurahkan rahmatNya kepadamu sehingga engkau memperoleh apa yang kau inginkan dan selamat dari perkara yang membahayakanmu. Sehingga maknanya, semoga Allah mengampuni dosa dosamu yang telah lalu dan menolongmu serta menjagamu  dari perbuatan dosa di masa yang akan datang.
Ini makna Rahmat jika bersendirian namun jika disandingkan dengan maghfirah (ampunan) maka maghfirah adalah ampunan terhadap dosa-dosa yang telah lalu dan rahmat adalah bimbingan kepada kebaikan dan selamat dari perbuatan dosa di masa yang akan datang. Doa penulis ini -semoga Allah ta'ala merahmatinya- menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya kepada pembaca serta mengharapkan kebaikan untuknya.

Ucapan beliau "Empat permasalahan".
Ini adalah permasalahan yang disebutkan penulis  -rahimahullah- yang mencakup urusan agama secara keseluruhan yang layak mendapat perhatian karena besar manfaatnya.

Syarah Ushul Tsalatsah: Penjelasan Basmalah

Syarah Ushul Tsalaatsah Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh hal 3.
بِسْم الله الرحمن الرحيم
Penjelasan:
Penulis -rahimahullah- memulai kitabnya dengan basmallah untuk meneladani Al Qur'an yang diawali dengan basmallah dan mengamalkan hadits:

كلُّ أمر ذي بال لا يبدا فيه بسم الله فهو أبتر

"Setiap urusan yang memiliki kepentingan yang tidak diawali dengan 'bismillah' (menyebut nama Allah) maka urusan itu terputus"1

Dan juga meneladani Rasulullah shalallahu alahi wa sallam yang memulai tulisan-tulisannya dengan basmallah. 
Jar dan Majrur terkait dengan fi'il(kata kerja) yang ditiadakan dan  diakhirkan yang sesuai dengan keadaan. Perkiraannya adalah بسم الله أكتب أو أصنف "Dengan menyebut nama Allah aku menulis atau menyusun tulisan".
Kami menafsirkannya dengan fi'il (kata kerja) karena asal dari amalan adalah perbuatan. 

Kami menafsirkannya dengan fi'il yang diakhirkan karena adanya dua faidah:
Pertama: Mengharapkan keberkahan memulai dengan nama Allah -subhanahu wa ta'ala-.
Kedua: Sebagai pembatasan karena mendahulukan susunan kalimat yang semestinya diakhirkan memberi makna pembatasan.

Kami menafsirkannya dengan 'kata yang sesuai' karena lebih bisa menjelaskan maksud.  Seandainya kita katakan ketika hendak membaca kitab: "Dengan nama Allah kami  memulai" maka tidak diketahui apa yang kita mulai. Akan tetapi "Dengan menyebut nama Allah aku membaca" maka akan lebih jelas maksudnya apa yang akan dimulai.

Allah (الله) nama Maha Pencipta yang Maha Besar dan Maha Luhur. Ini adalah nama yang diikuti oleh seluruh nama sampai pun dalam firman Allah ta'ala:
كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ لِتُخۡرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ۝ ٱللَّهِ ٱلَّذِي لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ وَوَيۡلٞ لِّلۡكَٰفِرِينَ مِنۡ عَذَابٖ شَدِيدٍ۝ 

"Ini adalah kitab yang kami turunkan kepadamu agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dengan izin Tuhannya kepada jalan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Allah yang memiliki segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dan celakalah orang orang kafir karena adzab yang keras". (QS Ibrahim: 1-2) 

Kami tidak katakan bahwa lafadz Al Jalalah 'Allah' adalah sifat. Namun kita katakan lafadz ini adalah 'athaf Bayan (penggabungan untuk menjelaskan) agar lafadz jalalah ini tidak menjadi tabi' sebagaimana Tabi' dalam na'at ma'ut (sifat dan yang disifati).

Ar Rahman termasuk nama yang dikhususkan untuk Allah Azza wa Jalla saja tidak boleh diberikan kepada selain Allah. Ar Rahman artinya yang memiliki kasih sayang yang luas.

Ar Rahim adalah nama untuk Allah Azza wa Jalla dan juga untuk selainNya. Artinya, Allah lah yang memiliki kasih sayang yang terus-menerus. Ar Rahman artinya yang memiliki kasih sayang yang luas. Ar-Rahim yang memiliki kasih sayang terus-menerus. Jika keduanya digabungkan, Ar Rahim adalah yang memiliki sifat kasih sayang kepada siapapun di antara para hamba yang dikehendakiNya.

يُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ وَيَرۡحَمُ مَن يَشَآءُۖ وَإِلَيۡهِ تُقۡلَبُونَ

"Dia (Allah) mengazab siapa pun yang dikehendakiNya dan memberi rahmat kepada siapa pun yang dikehendakiNya. Dan hanya kepadaNya kalian dikembalikan" (QS Al Ankabut: 21)

Note:
1. As Suyuthi membawakannya dalam Al Jamius Shaghir 6284, dikuatkan oleh Abdul Qaadir Ar Rahawi dalam Al Arba'in dan didha'ifkan Al Alamah Al Albany dalam Dabiful Jami' 4217.

Selasa, 18 Oktober 2022

Fikih Muyassar : Pembahasan Keempat: Rukun-rukun Sholat

Pembahasan Keempat: Rukun-rukun Sholat

Rukun adalah sesuatu yang membentuk ibadah dan ibadah tidaklah sah kecuali dengannya. Bedanya dengan syarat-syarat ibadah adalah: syarat mendahului ibadah dan senantiasa mengikutinya. Adapun rukun adalah pembentuk ibadah itu sendiri berupa ucapan dan perbuatan. 
Sholat memiliki 14 rukun. Tidak bisa gugur karena sengaja, lupa atau pun ketidaktahuan. Penjelasannya sebagai sebagai berikut:
1. Berdiri tegak; pada sholat fardhu bagi orang yang mampu. Berdasarkan firman Allah ta'ala : 
ﻭَﻗُﻮﻣُﻮا ﻟِﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻧِﺘِﻴﻦَ
"Dan laksanakanlah sholat untuk Allah dengan khusyu" (QS Al Baqarah: 238)

Berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam kepada Imran bin Hushain:
ﺻَﻞ ﻗﺎﺋﻤﺎً، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﺗﺴﺘﻄﻊ ﻓﻘﺎﻋﺪاً، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﺗﺴﺘﻄﻊ ﻓﻌﻠﻰ ﺟﻨﺐ
"Sholatlah dengan berdiri. Jika engkau tidak mampu maka dengan duduk. Jika tidak mampu maka dengan berbaring"1
Jika seseorang tidak mampu berdiri di sholat fardhu karena ada udzur seperti karena sakit, takut dan semisalnya maka dia dimaafkan karenanya. Dan Dia sholat sesuai keadaannya dengan duduk atau pun berbaring.
Adapun sholat nafilah (sunnah) maka mengerjakan dengan berdiri hukumnya sunnah dan bukan rukun. Namun sholat dengan berdiri lebih utama dari pada sholat sambil duduk. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :
ﺻﻼﺓ اﻟﻘﺎﻋﺪ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺻﻼﺓ اﻟﻘﺎﺋﻢ
"Sholatnya orang yang duduk pahalanya separoh dari sholatnya orang yang berdiri"2

2. Melakukan takbiratul ihram di permulaannya. Yaitu ucapan : Allahu Akbar, dan tidak bisa diganti lafadz lain. Ini berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam kepada orang yang sholatnya buruk:
 ﺇﺫا ﻗﻤﺖ ﺇﻟﻰ اﻟﺼﻼﺓ ﻓﻜﺒﺮ
"Jika engkau berdiri hendak sholat maka bertakbirlah"3

Sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :
ﺗﺤﺮﻳﻤﻬﺎ اﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ﻭﺗﺤﻠﻴﻠﻬﺎ اﻟﺘﺴﻠﻴﻢ
"Pengharamannya (dari hal yang membatalkannya) adalah takbir dan halalnya (penutupnya) adalah salam"4
Maka sholat tidaklah sah tanpa takbir.

3. Membaca Al Fatihah secara berurutan pada setiap rakaat, berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam:
ﻻ ﺻﻼﺓ ﻟﻤﻦ ﻟﻢ ﻳﻘﺮﺃ ﺑﻔﺎﺗﺤﺔ اﻟﻜﺘﺎﺏ
"Tidak sah sholat bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah"5
Dikecualikan dalam hal ini adalah orang yang masbuk (makmum terlambat hadir sholat jamaah): Jika ia mendapati imam sudah ruku' atau mendapati imam berdiri namun tidak memungkinkan baginya membaca Al Fatihah. Demikian pula makmum pada sholat jahr dikecualikan tidak membacanya. Namun jika dia membacanya di sela-sela diamnya imam maka yang demikian itu lebih utama demi menjaga kehati-hatian. 

4. Ruku' di setiap rakaat; berdasarkan firman Allah ta'ala:
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ اﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮا اﺭْﻛَﻌُﻮا ﻭَاﺳْﺠُﺪُﻭا
"Wahai orang-orang yang beriman ruku' dan sujudlah kalian" (Al Hajj: 77)
Dan berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam kepada orang yang sholat dengan buruk:
ﺛﻢ اﺭﻛﻊ ﺣﺘﻰ ﺗﻄﻤﺌﻦ ﺭاﻛﻌﺎً
"Kemudian ruku'lah hingga tumakninah dalam ruku'"6

5&6. Bangkit dari ruku' dan berdiri i'tidal; berdasarkan sabda Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam dalam hadits orang yang buruk sholatnya:
ﻭاﺭﻛﻊ ﺣﺘﻰ ﺗﻄﻤﺌﻦ ﺭاﻛﻌﺎً ﺛﻢ اﺭﻓﻊ ﺣﺘﻰ ﺗﻌﺘﺪﻝ ﻗﺎﺋﻤﺎً
"Ruku'lah hingga tumakninah dalam ruku' kemudian bangkitlah hingga tegak berdiri"

7. Sujud; berdasarkan firman Allah: ﻭَاﺳْﺠُﺪُﻭا "dan sujudlah" (Al Hajj: 77).
Dan berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam dalam hadits tentang orang yang sholatnya buruk.
ﺛﻢ اﺳﺠﺪ ﺣﺘﻰ ﺗﻄﻤﺌﻦ ﺳﺎﺟﺪاً
"Kemudian sujudlah hingga tumakninah dalam sujud"

Dan hendaklah sujud dua kali disetiap rakaat di atas tujuh anggota badan yang telah disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas. Di dalamnya:
ﺃﻣﺮﺕ ﺃﻥ ﺃﺳﺠﺪ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻋﻈﻢ: اﻟﺠﺒﻬﺔ -ﻭﺃﺷﺎﺭ ﺑﻴﺪﻩ ﺇﻟﻰ ﺃﻧﻔﻪ- ﻭاﻟﻴﺪﻳﻦ، ﻭاﻟﺮﻛﺒﺘﻴﻦ، ﻭﺃﻃﺮاﻑ اﻟﻘﺪﻣﻴﻦ
"Aku diperintahkan bersujud di atas tujuh tulang : dahi -beliau berisyarat dengan tangannya ke hidung-, dua tangan, dua lutut dan ujung-ujung (jari) dua kaki.7

8&9. Bangkit dari sujud dan duduk di antara dua sujud. Berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam kepada orang yang buruk sholatnya:
ﺛﻢ اﺭﻓﻊ ﺣﺘﻰ ﺗﻄﻤﺌﻦ ﺟﺎﻟﺴﺎً
"Kemudian bangkitlah hingga engkau duduk dengan tumakninah"
 
10. Tumakninah di seluruh rukun, yaitu tenang. Ukuran lamanya adalah seukuran bacaan wajib dalam tiap rukun. Ini berdasarkan perintah Nabi shollallohu alaihi wa sallam kepada orang yang tidak tumakninah dalam seluruh rukun sholatnya. Dan juga perintah beliau untuk mengulangi kembali sholatnya karena tidak tumakninah. 

11. Tasyahud Akhir, berdasarkan ucapan Ibnu Mas'ud radhiyallohu anhu:
ﻛﻨﺎ ﻧﻘﻮﻝ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﻔﺮﺽ ﻋﻠﻴﻨﺎ اﻟﺘﺸﻬﺪ: اﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﻓﻘﺎﻝ اﻟﻨﺒﻲ - ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ -: (ﻻ ﺗﻘﻮﻟﻮا اﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ اﻟﻠﻪ، ﻭﻟﻜﻦ ﻗﻮﻟﻮا: اﻟﺘﺤﻴﺎﺕ ﻟﻠﻪ)
"Sebelum diwajibkannya tasyahud kami mengucapkan: Assalâmu 'alallâh min 'ibâdihi (Salam kepada Allah dari hambaNya). Maka Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda: "Jangan engkau ucapkan Assalâmu 'alallâh min 'ibâdihi tapi ucapkanlah Attahiyyâtu lillâh (Segala penghormatan untuk Allah)8.
Ucapan Ibnu Mas'ud radhiyallohu anhu: "Sebelum diwajibkannya tasyahud" menunjukkan bahwa tasyahud itu wajib.

12. Duduk tasyahud akhir karena Nabi shollallohu alaihi wa sallam melakukannya dan senantiasa mengamalkannya. Beliau bersabda: 
ﺻﻠﻮا ﻛﻤﺎ ﺭﺃﻳﺘﻤﻮﻧﻲ ﺃﺻﻠﻲ
"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat"9

13. Mengucapkan salam. Berdasarkan sabda beliau shollallohu alaihi wa sallam:  
ﻭﺗﺤﻠﻴﻠﻬﺎ اﻟﺘﺴﻠﻴﻢ
"Halalnya dengan ucapan salam" 10
Beliau menoleh ke kanan mengucapkan "assalâmu 'alaikum wa rahmatullâh" dan menoleh ke kiri mengucapkan "assalâmu 'alaikum wa rahmatullâh".

14. Tartib (berurutan) rukunnya sebagaimana penjelasan terdahulu karena Nabi shollallohu alaihi wa sallam mengerjakannya dengan berurutan. Beliau bersabda:
  ﺻﻠﻮا ﻛﻤﺎ ﺭﺃﻳﺘﻤﻮﻧﻲ ﺃﺻﻠﻲ
"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat"
Beliau mengajarkannya kepada orang yang buruk shalatnya dengan mengatakan ثم (kemudian) yang menunjukkan berurutan.
 
Bersambung in syaa Alloh...

📚 Diterjemahkan dari Kitab Al-Fiqih Al-Muyassar fi Dhouil Kitabi was Sunnah hal 52-54.

Note:
1. HR Bukhari no. 1117.
2. HR Muslim no. 735
3. HR Bukhari no. 739 dan Muslim no. 397
4. HR Abu Dawud no. 61, Ibnu Majah no. 275, At Tirmidzi no. 3. Syaikh Al Albany berkata: Hasan Shahih dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 224.
5. HR Bukhari no. 756 dan Muslim no. 394
6. HR Bukhari no. 6251 dan Muslim 397.
7. HR Bukhari no. 809 dan Muslim no. 490, 230. Dan ini lafadz Muslim.
8. HR An Nasa'i 2/240 dan dishahihkan Syaikh Al Albany dalam Irwaul Ghalil 319.
9. HR Bukhari no. 631.
10. HR Abu Dawud no. 61,  At Tirmidzi no. 3 dan Ibnu Majah no. 275 dan telah ada pada halaman sebelumnya.

FATHUL MAJID 180-181: MINTALAH REZEKI HANYA KEPADA ALLAH


Penulis rahimahulloh berkata:
Allah berfirman:
 فَٱبۡتَغُواْ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ وَٱعۡبُدُوهُ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥٓۖ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ

"... maka mintalah rezeki dari Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan".(QS Al-Ankabut: 17)

Penjelasan:
Allah memerintahkan hambaNya agar meminta rezeki dariNya saja bukan dari selainNya yang tidak mampu memberikan rezeki untuk mereka sedikit pun dari langit maupun dari bumi. Di dahulukan dzarf (عند الله) sebagai ikhtishash (pengkhususan hanya meminta kepada Allah saja).

FirmanNya   وَٱعۡبُدُوهُ (sembahlah Dia) adalah athaf umum kepada yang khusus, karena meminta rezeki hanya kepadaNya termasuk ibadah yang diperintahkan.

Al 'Imad bin Katsir berkata: فَٱبۡتَغُواْ maksudnya mintalah عِندَ ٱللَّهِ (di sisi Allah) bukan dari selainNya. Sebab, Dia lah yang memilikinya. Adapun selainNya tidak memiliki sedikit pun dari rezeki itu. 

FirmanNya وَٱعۡبُدُوهُ (sembahlah Dia) maknanya yaitu murnikanlah peribadahan hanya untukNya saja yang tiada sekutu bagiNya.  

FirmanNya وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥٓۖ (bersyukurlah kepadaNya) atas nikmat yang dikaruniakanNya kepadamu. 

FirmanNya إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ (hanya kepadaNya kalian dikembalikan) yaitu hari kiamat. Setiap orang akan dibalas sesuai amalannya.

Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahulloh 
Terbitan Muassasah Zaad Hal 180 - 181.

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)